TEHERAN –Washington memanas di tengah gelombang protes yang mengguncang Iran. Pemerintah Iran membantah keras tudingan adanya rencana eksekusi terhadap para demonstran, menyusul peringatan keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan mengambil “tindakan sangat keras” bila hukuman mati benar-benar dijalankan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan tidak ada agenda penggantungan maupun eksekusi terhadap pengunjuk rasa. Pernyataan itu disampaikannya dalam wawancara dengan media Amerika Serikat, Fox News, pada Rabu (15/1).
“Tidak ada penggantungan, hari ini atau besok. Saya bisa katakan dengan yakin, tidak ada rencana untuk melakukan penggantungan sama sekali,” ujar Araghchi.
Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Trump menyatakan Washington siap mengambil “tindakan yang sangat kuat” apabila Iran mengeksekusi para demonstran. Dalam beberapa hari terakhir, Trump dan sejumlah pejabat AS meningkatkan tekanan politik terhadap Teheran, seiring berlanjutnya aksi protes yang dipicu memburuknya kondisi ekonomi sejak akhir bulan lalu.
Dalam wawancara yang sama, Araghchi mengklaim situasi di Iran kini telah kembali terkendali dan pemerintah berada dalam “kendali penuh”. Ia menggambarkan kerusuhan sebagai bagian dari operasi terorisme berskala besar.
“Kami menghadapi operasi terorisme besar sebagai kelanjutan dari perang 12 hari yang dipaksakan kepada kami oleh Israel dan Amerika. Hari ke-13 perang itu adalah 8 Januari. Kami berada di tengah perang, lalu setelah tiga hari operasi terorisme, situasi kini berangsur tenang,” katanya.
Pejabat Iran sebelumnya juga menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik apa yang mereka sebut sebagai “kerusuhan” dan “aksi terorisme” di tengah gelombang protes nasional.
Araghchi turut membantah laporan yang menyebut lebih dari 12.000 orang tewas selama unjuk rasa. Ia menyebut angka tersebut tidak berdasar dan merupakan bagian dari “kampanye disinformasi”. Menurutnya, korban jiwa berada di kisaran ratusan orang.
Saat ditanya mengenai jumlah pasti korban, Araghchi mengatakan data resmi akan diumumkan “dalam waktu sangat dekat, mungkin malam ini” oleh pemerintah Iran.
Hingga kini, otoritas Iran belum merilis angka resmi terkait jumlah korban jiwa maupun warga yang ditahan. Sementara itu, Human Rights Activists News Agency (HRANA), lembaga pemantau HAM berbasis di Amerika Serikat, memperkirakan sedikitnya 2.500 orang tewas—termasuk demonstran dan aparat keamanan—serta lebih dari 1.100 orang luka-luka.
HRANA juga melaporkan lebih dari 18.000 orang ditahan selama aksi protes berlangsung. Namun, data tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan berbeda dengan klaim pemerintah Iran.
Penulis : lazir
Editor : ameri
Sumber Berita: anadolu













