JAKARTA – Hubungan politik antara Turkiye dan Arab Saudi terus menunjukkan penguatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kedekatan kedua negara ini dinilai tidak hanya berdampak positif terhadap kerja sama ekonomi dan perdagangan, tetapi juga berkontribusi pada upaya menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.
Sebagai dua kekuatan penting di kawasan, Ankara dan Riyadh secara konsisten memperkokoh hubungan historis yang telah terjalin sejak lama. Penguatan tersebut tercermin melalui intensifikasi dialog politik serta peningkatan kunjungan tingkat tinggi antarpemimpin kedua negara.
Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Arab Saudi pada Selasa. Kunjungan ini menjadi salah satu agenda penting dalam dinamika hubungan bilateral Turkiye–Arab Saudi. Presiden Erdogan akan disambut secara resmi oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Istana Yamamah, Riyadh.
Selain agenda kenegaraan, kedua negara juga akan menggelar Forum Bisnis Arab Saudi–Turkiye. Forum ini diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan Turkiye bersama Dewan Hubungan Ekonomi Luar Negeri (DEIK), dengan tujuan memperluas peluang kerja sama investasi dan perdagangan.
Pekan lalu, Dewan Menteri Arab Saudi telah memberikan mandat kepada kementerian terkait untuk menandatangani sejumlah perjanjian dengan Turkiye. Kerja sama tersebut mencakup sektor energi terbarukan, pertahanan sipil, serta nota kesepahaman di bidang layanan sosial.
Hubungan diplomatik Turkiye dan Arab Saudi secara resmi dimulai pada 1929 melalui penandatanganan Perjanjian Persahabatan. Sejak saat itu, kedua negara secara aktif membangun hubungan melalui kunjungan tingkat tinggi dan kolaborasi di berbagai forum regional, termasuk Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Kerja sama ekonomi mulai terinstitusionalisasi pada 2003 dengan pembentukan Dewan Bisnis Turkiye–Arab Saudi di bawah naungan DEIK. Hubungan ini semakin menguat setelah kunjungan Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz Al Saud ke Turkiye pada 2006, yang menghasilkan enam perjanjian kerja sama lintas sektor, mulai dari pariwisata hingga investasi.
Penguatan hubungan politik turut mendorong peningkatan perdagangan bilateral. Data Institut Statistik Turkiye mencatat nilai perdagangan kedua negara mencapai sekitar 8 miliar dolar AS pada 2024. Ekspor Turkiye ke Arab Saudi tercatat sebesar 3,15 miliar dolar AS, dengan komoditas utama berupa produk pertanian, karpet, dan bahan kimia.
Kerja sama juga berkembang pesat di sektor pertahanan. Sejumlah perusahaan pertahanan Turkiye, seperti ASELSAN dan Baykar, menjalin kemitraan strategis dengan institusi Arab Saudi. Pada 2023, Baykar menandatangani kontrak ekspor pesawat nirawak tempur Bayraktar AKINCI ke Arab Saudi, yang tercatat sebagai kontrak ekspor pertahanan terbesar dalam sejarah Republik Turkiye.
Di tingkat regional, Ankara dan Riyadh dinilai berhasil membangun keseimbangan kebijakan yang mengombinasikan kerja sama dan kompetisi secara terkendali. Kedua negara menunjukkan keselarasan sikap dalam berbagai isu kawasan, termasuk Palestina, Suriah, Yaman, Sudan, dan Somalia, baik melalui OKI maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pasca eskalasi konflik Gaza pada Oktober 2023, Turkiye dan Arab Saudi mempererat koordinasi diplomatik dalam mendorong solusi dua negara bagi Palestina. Upaya ini disebut berkontribusi pada meningkatnya jumlah negara anggota PBB yang mengakui Palestina sebagai negara berdaulat.
Kerja sama kedua negara juga terlihat dalam dukungan terhadap stabilitas Suriah pasca perubahan politik pada akhir 2024, termasuk mendorong pencabutan sanksi internasional serta mendukung proses rekonstruksi.
Pengamat menilai, konsolidasi hubungan Turkiye dan Arab Saudi kini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas kawasan dan mendorong penyelesaian damai berbagai konflik di Timur Tengah.
Penulis : lazir
Editor : ameri
Sumber Berita: anadolu













