COLOMBO – Kapal perang TNI Angkatan Laut KRI Sultan Iskandar Muda (SIM-367) sandar di Pelabuhan Colombo setelah menuntaskan penugasan selama satu tahun bersama Maritime Task Force (MTF) TNI Konga XXVIII-P/UNIFIL 2024/2025 di Lebanon. Kapal tersebut membawa 120 awak, termasuk 12 personel perempuan, sebagai bagian dari kontribusi Indonesia dalam misi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Indonesia saat ini menempati peringkat kelima dunia sebagai negara penyumbang pasukan perdamaian terbesar. Sepanjang tahun 2025, Indonesia mengerahkan 2.741 personel peacekeepers, dengan 203 di antaranya merupakan perempuan.
Selama masa sandar di Colombo, Duta Besar Republik Indonesia untuk Sri Lanka dan Maladewa, H.E. Dewi Gustina Tobing, mengundang perwakilan personel pasukan penjaga perdamaian PBB dari Sri Lanka untuk mengikuti kegiatan Dialogue and Sharing Experience di atas KRI SIM-367. Kegiatan tersebut turut dihadiri Atase Pertahanan RI di New Delhi Commodore Ardiansyah Muqsit, Komandan KRI SIM-367 Letkol Laut (P) Anugerah Annurullah, serta personel perempuan pasukan penjaga perdamaian dari kedua negara.
Dalam sesi dialog, awak KRI SIM-367 memaparkan profil kapal serta tugas-tugas yang dijalankan dalam misi UNIFIL, khususnya pengawasan dan dukungan keamanan maritim. Di dalam Maritime Task Force UNIFIL, KRI SIM-367 beroperasi bersama kapal dari Jerman, Bangladesh, Türkiye, dan Yunani. Indonesia menjadi satu-satunya kontingen yang mengoperasikan helikopter di atas kapal serta dipercaya sebagai Helicopter Commander, dengan total waktu terbang mencapai 136 jam 06 menit.
Personel perempuan di KRI SIM-367 menjalankan peran di berbagai bidang strategis, mulai dari Operasi, Persenjataan, Permesinan, Logistik, Unit Helikopter, hingga Staf Pendukung.
Sementara itu, personel perempuan pasukan penjaga perdamaian Sri Lanka turut membagikan pengalaman penugasan mereka. Kolonel W.T.A.S. Perera menceritakan pengalamannya bertugas di wilayah Sahara, termasuk interaksi dengan komunitas lokal di sekitar area penugasan, yang menurutnya penuh tantangan sekaligus berkesan. Personel perempuan Sri Lanka lainnya juga berbagi pengalaman bertugas di UNIFIL, termasuk peran di Joint Experience Centre. Diskusi turut menyinggung upaya menyeimbangkan tanggung jawab profesional dengan kehidupan keluarga.
Usai dialog, para peserta dari Sri Lanka diajak mengikuti tur singkat mengelilingi KRI SIM-367 untuk mengenal lebih dekat fasilitas dan kesiapan operasional kapal.
Duta Besar Dewi Gustina Tobing menegaskan bahwa keterlibatan perempuan di KRI SIM-367 mencerminkan kemampuan mereka dalam mengemban peran operasional yang krusial. “Perempuan tidak hanya hadir dalam fungsi pendukung, tetapi juga pada bidang strategis, termasuk penerbangan, dengan adanya pilot helikopter Panther perempuan, serta berbagai fungsi teknis lainnya,” ujarnya.
Kegiatan Dialogue and Sharing Experience di atas KRI Sultan Iskandar Muda (SIM-367) menjadi wadah penting bagi pasukan penjaga perdamaian Indonesia dan Sri Lanka untuk saling terhubung, bertukar pengalaman, dan memperkuat pemahaman bersama dalam upaya pemeliharaan perdamaian dunia.
Penulis : lazir
Editor : ameri













