JAKARTA – Saat banyak negara menghadapi lonjakan inflasi dan harga energi yang terus naik, Turkmenistan pernah menjadi pengecualian. Negara kaya gas alam di Asia Tengah ini pernah memberikan listrik, gas, dan air secara gratis kepada rakyatnya selama hampir seperempat abad. Kebijakan ini dimulai oleh Presiden Saparmurat Niyazov pada tahun 1993, tak lama setelah Turkmenistan merdeka dari Uni Soviet pada 1991.
Niyazov, yang dikenal dengan gaya kepemimpinan otoriternya, memastikan bahwa rakyatnya mendapat pasokan energi tanpa biaya sebagai bagian dari kebijakan populisnya.
“Negara ini kaya akan gas alam, jadi rakyat harus menikmatinya tanpa perlu membayar,” ujar Niyazov dalam salah satu pidatonya yang dikutip oleh Times of India.
Dalam kebijakan tersebut, setiap warga negara mendapatkan jatah 35 kilowatt-hour (kWh) listrik dan 50 meter kubik gas alam per bulan, serta 250 liter air gratis per hari. Kebijakan ini bertahan hingga Niyazov meninggal dunia pada 21 Desember 2006, setelah menjabat sebagai presiden seumur hidup sejak 1991.
Sepeninggal Niyazov, kepemimpinan Turkmenistan diteruskan oleh Gurbanguly Berdymukhamedov. Awalnya, ia tetap mempertahankan kebijakan gas, listrik, dan air gratis yang diwariskan pendahulunya. Namun, pada 2017, kebijakan tersebut dihentikan seiring dengan memburuknya kondisi ekonomi Turkmenistan akibat turunnya harga gas alam.
“Kami harus menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi global yang semakin sulit,” kata Berdymukhamedov dalam sebuah pernyataan saat itu.
Pada 2022, Gurbanguly Berdymukhamedov mengundurkan diri dan digantikan oleh putranya, Serdar Berdymukhamedov. Sebagai pemimpin baru, ia tidak mengembalikan kebijakan subsidi energi seperti di era Niyazov. Hal ini menandakan bahwa era gas, listrik, dan air gratis di Turkmenistan benar-benar telah berakhir. (***)
Penulis : Rahmat Kurnia Lubis
Editor : Erka
Sumber Berita: international.sindonews.com













