JAKARTA – Puluhan ribu warga Sudan dilaporkan melarikan diri dari Kota El Fasher, Darfur Utara, di tengah kekejaman yang diduga dilakukan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Force/RSF).
Situasi di lapangan semakin mencekam setelah Jaringan Dokter Sudan melaporkan sedikitnya 1.500 orang tewas hanya dalam dua hari terakhir, ketika warga berusaha menyelamatkan diri dari serangan brutal tersebut.
Menanggapi krisis yang kian memburuk itu, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, menyampaikan keprihatinan mendalam dan menyerukan agar semua pihak yang bertikai segera menahan diri. Ia menegaskan, konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun itu telah memakan puluhan ribu korban jiwa dan membuat 14 juta orang hidup dalam pengungsian.
“Gambaran situasinya tampak semakin buruk karena aksi pembunuhan massal yang keji. Ini mengingatkan pada peristiwa genosida yang dulu menyasar beberapa etnis di wilayah Darfur pada 2003 hingga 2016,” ujar Sukamta di Jakarta, Selasa (4/11/2025).
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menjelaskan, kondisi saat ini bahkan lebih rumit karena konflik terjadi antara dua jenderal yang sebelumnya bersekutu, yakni Panglima Pasukan Bersenjata Sudan (Sudanese Armed Force/SAF) Abdel Fattah al-Burhan dan Panglima RSF Mohamed Hamdan Dagalo.
“Keduanya memiliki kekuatan militer yang hampir berimbang dan selama dua tahun terakhir terus meningkatkan propaganda kebencian berbasis identitas dan kesukuan,” tambahnya.
Sukamta menilai, upaya internasional untuk menghentikan kekerasan harus segera digencarkan. Ia melihat Uni Emirat Arab dan Arab Saudi memiliki peluang terbesar untuk memberikan tekanan kepada pihak-pihak yang berkonflik, mengingat hubungan dekat kedua negara itu dengan militer Sudan maupun kelompok paramiliter.
“Selain kedua negara tersebut, tentu Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga punya tanggung jawab moral untuk menghentikan konflik ini. Sudan yang mayoritas penduduknya muslim adalah anggota OKI. Saya berharap pemerintah Indonesia bisa mendorong OKI untuk segera mengadakan pertemuan darurat membahas langkah penghentian perang di Sudan,” tutur Sukamta.
Ia menegaskan, gencatan senjata dan dialog damai adalah satu-satunya jalan untuk menghentikan penderitaan rakyat Sudan yang kini menghadapi bencana kemanusiaan terbesar dalam sejarah negeri itu.
Penulis : lazir
Editor : ameri













