Sukamta Serukan Gencatan Senjata di Sudan: “Tragedi Kemanusiaan Harus Segera Dihentikan”

- Penulis

Selasa, 4 November 2025 - 07:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keluarga yang mengungsi dari El Fasher, ibu kota Darfur Utara, mencari perlindungan di Tawila (foto. united nations)

Keluarga yang mengungsi dari El Fasher, ibu kota Darfur Utara, mencari perlindungan di Tawila (foto. united nations)

JAKARTA – Puluhan ribu warga Sudan dilaporkan melarikan diri dari Kota El Fasher, Darfur Utara, di tengah kekejaman yang diduga dilakukan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Force/RSF).

Situasi di lapangan semakin mencekam setelah Jaringan Dokter Sudan melaporkan sedikitnya 1.500 orang tewas hanya dalam dua hari terakhir, ketika warga berusaha menyelamatkan diri dari serangan brutal tersebut.

Menanggapi krisis yang kian memburuk itu, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, menyampaikan keprihatinan mendalam dan menyerukan agar semua pihak yang bertikai segera menahan diri. Ia menegaskan, konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun itu telah memakan puluhan ribu korban jiwa dan membuat 14 juta orang hidup dalam pengungsian.

“Gambaran situasinya tampak semakin buruk karena aksi pembunuhan massal yang keji. Ini mengingatkan pada peristiwa genosida yang dulu menyasar beberapa etnis di wilayah Darfur pada 2003 hingga 2016,” ujar Sukamta di Jakarta, Selasa (4/11/2025).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menjelaskan, kondisi saat ini bahkan lebih rumit karena konflik terjadi antara dua jenderal yang sebelumnya bersekutu, yakni Panglima Pasukan Bersenjata Sudan (Sudanese Armed Force/SAF) Abdel Fattah al-Burhan dan Panglima RSF Mohamed Hamdan Dagalo.

“Keduanya memiliki kekuatan militer yang hampir berimbang dan selama dua tahun terakhir terus meningkatkan propaganda kebencian berbasis identitas dan kesukuan,” tambahnya.

Sukamta menilai, upaya internasional untuk menghentikan kekerasan harus segera digencarkan. Ia melihat Uni Emirat Arab dan Arab Saudi memiliki peluang terbesar untuk memberikan tekanan kepada pihak-pihak yang berkonflik, mengingat hubungan dekat kedua negara itu dengan militer Sudan maupun kelompok paramiliter.

“Selain kedua negara tersebut, tentu Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga punya tanggung jawab moral untuk menghentikan konflik ini. Sudan yang mayoritas penduduknya muslim adalah anggota OKI. Saya berharap pemerintah Indonesia bisa mendorong OKI untuk segera mengadakan pertemuan darurat membahas langkah penghentian perang di Sudan,” tutur Sukamta.

Ia menegaskan, gencatan senjata dan dialog damai adalah satu-satunya jalan untuk menghentikan penderitaan rakyat Sudan yang kini menghadapi bencana kemanusiaan terbesar dalam sejarah negeri itu.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Nasi Padang Jadi Magnet, 1.200 Pengunjung Ramaikan Festival Indonesia di Bucharest
KBRI Kolombo Resmikan Indonesia Cultural Centre, Gamelan hingga Tari Tor Tor Warnai Acara
WNI di Rumania Rayakan HUT ke-81 RI, Doa untuk Korban Gempa NTT Menggema di Bucharest
AHY Tegaskan Indonesia Siap Jadi Jembatan ASEAN–Eurasia, Dorong Infrastruktur Hijau Berkelanjutan
AHY Dorong Infrastruktur Hijau dan Ketahanan Kawasan Asia di Ecosperity Week 2026 Singapura
Satelit Uji Kelima Fergani Space Berhasil Mengorbit, Turkiye Kian Dekat Mandiri di Sektor Antariksa
Paus Leo XIV Tegas: Tak Ada Dalih Agama untuk Perang, Serukan Dunia Hentikan Kekerasan
PKS Murka! Hidayat Nur Wahid Kecam Keras Israel atas Serangan terhadap Masjid Al Aqsha

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 09:30 WIB

Nasi Padang Jadi Magnet, 1.200 Pengunjung Ramaikan Festival Indonesia di Bucharest

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:03 WIB

KBRI Kolombo Resmikan Indonesia Cultural Centre, Gamelan hingga Tari Tor Tor Warnai Acara

Selasa, 18 Agustus 2026 - 19:59 WIB

WNI di Rumania Rayakan HUT ke-81 RI, Doa untuk Korban Gempa NTT Menggema di Bucharest

Jumat, 5 Juni 2026 - 07:19 WIB

AHY Tegaskan Indonesia Siap Jadi Jembatan ASEAN–Eurasia, Dorong Infrastruktur Hijau Berkelanjutan

Rabu, 20 Mei 2026 - 08:03 WIB

AHY Dorong Infrastruktur Hijau dan Ketahanan Kawasan Asia di Ecosperity Week 2026 Singapura

Berita Terbaru