JAKARTA – Antisipasi lonjakan arus kendaraan saat mudik Lebaran 2026 mendorong pemerintah membuka sejumlah ruas tol fungsional di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Langkah ini dinilai penting untuk mengurai kemacetan yang kerap terjadi di jalur arteri serta titik pertemuan arus kendaraan.
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai persoalan klasik angkutan Lebaran hampir selalu berkutat pada kepadatan di jalur utama dan titik bottleneck.
“Tantangan transportasi pada masa angkutan Lebaran selalu bertumpu pada kepadatan di jalur arteri dan titik pertemuan arus kendaraan atau bottleneck. Karena itu, pengoperasian jalur bebas hambatan baru menjadi sangat krusial untuk membantu mengurai kepadatan tersebut,” ujar Djoko, Kamis (13/3/2026)
Menurut dia, menjelang Lebaran 2026 dua ruas tol fungsional yang dikelola PT Jasa Marga di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta diperkirakan dapat menjadi solusi untuk memecah kepadatan lalu lintas, khususnya di jalur mudik yang selama ini menjadi titik rawan kemacetan.
Tol Yogyakarta–Bawen Seksi Bawen–Ambarawa
Salah satu ruas yang akan difungsikan adalah Tol Yogyakarta–Bawen Seksi 6 Bawen–Ambarawa sepanjang 4,98 kilometer. Ruas ini dijadwalkan mulai beroperasi secara fungsional sejak H-10 Lebaran 2026.
Dalam operasionalnya akan diterapkan sistem satu arah atau one way secara situasional bagi kendaraan Golongan I non-bus. Skema ini memungkinkan pemudik yang menuju Magelang, Temanggung, dan Wonosobo menghindari kepadatan di Exit Tol Bawen.
Kehadiran jalur ini diharapkan mampu mengurai kepadatan di Simpang Bawen yang selama ini menjadi titik temu arus kendaraan dari Semarang, Solo, dan Magelang.
Dengan adanya akses keluar melalui Gerbang Tol Ambarawa, pengendara dapat memangkas waktu tempuh karena tidak lagi terjebak hambatan lalu lintas di jalur arteri, seperti aktivitas Pasar Projo dan Terminal Bawen.
Selain memperlancar arus kendaraan, penataan jalur tersebut juga bertujuan mengurangi risiko kecelakaan, terutama yang sering terjadi akibat truk Over Dimension Over Loading (ODOL) yang mengalami rem blong atau kehilangan kendali di persimpangan lampu merah Bawen.
Tol ini juga diproyeksikan meningkatkan konektivitas menuju berbagai destinasi wisata di kawasan Ambarawa, seperti Museum Stasiun Ambarawa, Benteng Willem I, serta Monumen Palagan Ambarawa.
Tol Solo–Yogyakarta Segmen Prambanan–Purwomartani
Ruas lain yang akan difungsikan adalah Tol Solo–Yogyakarta segmen Prambanan–Purwomartani sepanjang 11,23 kilometer. Ruas ini dijadwalkan mulai beroperasi pada pertengahan Maret 2026.
Pengoperasian segmen tersebut diarahkan untuk melayani arus mudik dan balik dari Solo, Jakarta, dan Surabaya menuju Yogyakarta maupun sebaliknya.
Dengan beroperasinya ruas ini, beban kendaraan di jalan nasional Solo–Yogyakarta diperkirakan akan berkurang signifikan. Titik-titik rawan macet seperti kawasan Kalasan dan Prambanan juga diharapkan dapat terurai.
Selain itu, optimalisasi konektivitas menuju jaringan Tol Trans Jawa akan mempermudah akses warga Yogyakarta menuju jalur tol utama tanpa harus melewati lampu lalu lintas di jalur arteri yang padat.
Di sisi lain, kehadiran tol ini juga membuka peluang bagi wisatawan untuk mengeksplorasi berbagai potensi wisata di Kabupaten Klaten. Daerah ini dikenal memiliki banyak destinasi menarik, mulai dari wisata air seperti Umbul Ponggok dan Desa Wisata Janti, hingga situs sejarah seperti Candi Plaosan di Desa Bugisan.
Bagi pecinta alam dan budaya, kawasan lereng Merapi di Desa Balerante serta Desa Ngerangan yang dikenal sebagai Kampung Dolanan juga menawarkan pengalaman wisata yang khas.
Selain wisata alam, Klaten juga memiliki kekayaan kuliner yang menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan dapat mencicipi berbagai hidangan legendaris seperti Sop Ayam Pak Min, Nasi Tumpang Lethok, Ayam Panggang Mbah Dinem, hingga Soto Bebek khas Klaten.
Sementara bagi pengunjung yang mencari suasana makan modern, tersedia sejumlah tempat populer seperti Ketjeh Resto dengan konsep makan di atas air, Warung Apung Rowo Jombor, hingga Koito Resto.
Hal yang Perlu Diperhatikan Pengendara
Meski memberikan manfaat besar, pengendara diimbau tetap berhati-hati saat melintas di tol fungsional karena kondisinya belum sepenuhnya seperti tol operasional permanen.
Tol fungsional biasanya hanya dibuka pada jam tertentu, misalnya pukul 06.00 hingga 18.00 WIB, sesuai kebijakan diskresi kepolisian dan pengelola jalan tol demi alasan keselamatan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain kondisi infrastruktur yang masih terbatas. Sebagian ruas kemungkinan masih berupa beton dasar atau lean concrete yang lebih berdebu dan belum dilapisi aspal halus, sehingga pengendara diimbau menghindari pengereman mendadak.
Selain itu, tol fungsional umumnya belum dilengkapi penerangan jalan yang memadai, sehingga disarankan untuk melintas pada siang hari.
Pengendara juga wajib mematuhi batas kecepatan yang ditetapkan, yakni sekitar 40 hingga 60 kilometer per jam, karena beberapa titik masih memiliki penyempitan lajur.
Fasilitas pendukung seperti rest area, toilet, dan tempat istirahat biasanya bersifat sementara dengan kapasitas terbatas. SPBU permanen juga belum tentu tersedia, sehingga pengendara disarankan memastikan bahan bakar cukup sebelum memasuki ruas tol tersebut.
Rambu petunjuk dan pembatas jalan seperti cone atau water barrier juga perlu diperhatikan dengan saksama, mengingat sebagian pagar pengaman belum terpasang di seluruh sisi jalan.
Selain kesiapan infrastruktur, kondisi kendaraan dan pengemudi juga harus diperhatikan. Ban, rem, dan mesin kendaraan perlu dipastikan dalam kondisi prima karena akses bantuan seperti mobil derek atau ambulans mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai lokasi di jalur fungsional.
Djoko menegaskan keberadaan tol fungsional Bawen–Ambarawa dan Prambanan–Purwomartani bukan sekadar untuk mempercepat perjalanan pemudik.
“Kehadiran tol fungsional ini bukan hanya soal memangkas waktu tempuh, tetapi juga bagian dari upaya bersama menciptakan perjalanan mudik yang lebih aman, tertib, dan manusiawi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kelancaran arus mudik Lebaran 2026 sangat bergantung pada sinergi antara kesiapan infrastruktur dan kedisiplinan para pengendara di jalan.
“Jika pengendara mematuhi aturan dan menjaga keselamatan berkendara, perjalanan pulang kampung tidak hanya lancar, tetapi juga menjadi momen menikmati potensi daerah yang dilalui selama perjalanan,” kata Djoko.
Penulis : lazir
Editor : ameri













