Reaktivasi Jalur Kereta Dinilai Strategis untuk Masa Depan Transportasi Nasional

- Penulis

Senin, 27 April 2026 - 08:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi jalur kereta api yang lama tak dipakai (ilustrasi dibikin ai - rentak.id)

Ilustrasi jalur kereta api yang lama tak dipakai (ilustrasi dibikin ai - rentak.id)

JAKARTA — Akademisi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai reaktivasi jalur kereta api menjadi langkah strategis dalam membangun masa depan transportasi nasional yang lebih terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan.

Penilaian tersebut sejalan dengan data Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan tahun 2026 yang mencatat total panjang jaringan perkeretaapian Indonesia mencapai 9.178 kilometer. Dari jumlah itu, sepanjang 6.945 kilometer merupakan jalur aktif yang saat ini beroperasi, sementara 2.233 kilometer lainnya merupakan jalur non-aktif yang berpotensi dihidupkan kembali.

Di Pulau Sumatera, jaringan jalur aktif tercatat sepanjang 1.871 kilometer dengan dukungan 146 stasiun. Operasional kereta api ditopang oleh 7.032 unit sarana reguler. Namun, aspek keselamatan masih menjadi perhatian, mengingat terdapat 210 perlintasan resmi dijaga, 113 perlintasan resmi tidak dijaga, serta 507 perlintasan tidak resmi.

Sementara itu, Pulau Jawa masih menjadi tulang punggung jaringan perkeretaapian nasional dengan panjang jalur aktif mencapai 4.921 kilometer dan didukung 473 stasiun. Untuk layanan operasional, tersedia 5.923 unit sarana kereta api reguler serta 88 unit sarana untuk layanan Kereta Api Cepat.

Pengelolaan perlintasan sebidang di Jawa juga tergolong kompleks. Tercatat sebanyak 1.388 perlintasan resmi dijaga, 1.019 perlintasan resmi tidak dijaga, serta 456 perlintasan tidak resmi yang dinilai rawan dan membutuhkan penanganan serius.

Pengembangan jaringan kereta api juga mulai dilakukan di wilayah timur Indonesia. Di Sulawesi, jalur aktif telah mencapai 109 kilometer dengan dukungan 10 stasiun dan tujuh unit kereta. Sementara di Papua, jalur sepanjang 26 kilometer telah beroperasi, meski masih difokuskan untuk angkutan barang tambang dan belum melayani penumpang umum.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian terus mendorong reaktivasi jalur non-aktif, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan konektivitas, mendukung distribusi logistik, serta membuka akses menuju destinasi wisata.

Sejumlah jalur di Jawa yang masuk dalam rencana reaktivasi antara lain Rangkasbitung–Saketi–Labuhan, Garut–Cikajang, Banjar–Pangandaran–Cijulang, Cianjur–Padalarang, Bandung–Ciwidey, hingga Yogyakarta–Magelang–Ambarawa dan Semarang–Rembang. Selain itu, terdapat pula jalur di Madura seperti Babatan–Jombang serta Madiun–Ponorogo.

Di Sumatera, jalur yang akan direaktivasi mencakup Sicincin–Padang Panjang, Padang Panjang–Bukittinggi–Payakumbuh–Limbangan, serta Padang Panjang–Solok–Sawahlunto.

Djoko menjelaskan, reaktivasi jalur kereta api memiliki sejumlah tujuan strategis. Selain meningkatkan aksesibilitas dan menyediakan moda transportasi yang aman, nyaman, serta terjangkau, langkah ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Reaktivasi akan menghidupkan kembali pusat-pusat ekonomi di sepanjang jalur, memperkuat sistem logistik, serta membuka peluang usaha baru, khususnya di sektor pariwisata dan jasa,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa penguatan transportasi berbasis rel juga dapat mengurangi beban jalan raya, menekan kemacetan, serta mengurangi kerusakan infrastruktur akibat angkutan berat. Kereta api dinilai memiliki keunggulan dari sisi efisiensi, terutama untuk jarak menengah antara 750 hingga 1.500 kilometer.

Selain itu, program ini juga menjadi upaya optimalisasi aset negara berupa jalur rel dan bangunan stasiun yang selama ini tidak termanfaatkan. Reaktivasi juga diyakini mampu mendorong pengembangan kawasan berbasis integrasi transportasi atau Transit-Oriented Development (TOD).

“Dengan menghidupkan kembali jalur-jalur yang sempat terputus, kita tidak hanya menyambungkan rel, tetapi juga merajut kembali potensi ekonomi, sosial, dan pariwisata menuju konektivitas nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” kata Djoko.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

55 Persen Perjalanan Bus Terindikasi Melanggar, Penyimpangan Trayek Mendominasi
Feeder LRT Palembang Disetop, Djoko Setijowarno Bongkar Masalah Transportasi Publik
Gus Rivqy Desak Garuda Indonesia Berbenah Total, Kerugian Jadi Alarm Transformasi
Tol Jakarta-Cikampek Diperbaiki hingga 7 November, Ini 3 Titik yang Perlu Diwaspadai Pengendara
Pontianak Siapkan 19 Bus Modern Mulai 2027, Ini Dua Rute yang Akan Dilayani
Cuma Pasang Stiker Reflektif, JMTO Berhasil Tekan Kecelakaan di Tol Pandaan–Malang
Pendapatan Jasa Marga Tembus Rp15,6 Triliun, Laba Bersih Kuartal III 2026 Capai Rp2,7 Triliun
Hujan Deras Picu Longsor di Sipirok, Separuh Badan Jalan Amblas

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 15:15 WIB

55 Persen Perjalanan Bus Terindikasi Melanggar, Penyimpangan Trayek Mendominasi

Senin, 2 November 2026 - 09:24 WIB

Feeder LRT Palembang Disetop, Djoko Setijowarno Bongkar Masalah Transportasi Publik

Minggu, 1 November 2026 - 10:15 WIB

Gus Rivqy Desak Garuda Indonesia Berbenah Total, Kerugian Jadi Alarm Transformasi

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:44 WIB

Tol Jakarta-Cikampek Diperbaiki hingga 7 November, Ini 3 Titik yang Perlu Diwaspadai Pengendara

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:43 WIB

Pontianak Siapkan 19 Bus Modern Mulai 2027, Ini Dua Rute yang Akan Dilayani

Berita Terbaru