Perayaan Imlek Tahun Kuda Api di Kelenteng Hok Lay Kiong Berlangsung Khidmat, Warga Beribadah hingga Antre Angpao

- Penulis

Selasa, 17 Februari 2026 - 12:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BEKASI – Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 atau Tahun Kuda Api di Kelenteng Hok Lay Kiong, Kota Bekasi, Jawa Barat, berlangsung khidmat pada Selasa (17/2/2026). Sejumlah umat Tionghoa datang sejak pagi bersama keluarga untuk beribadah dan memanjatkan doa serta harapan di tahun baru.

Warga terlihat silih berganti memasuki area kelenteng yang merupakan salah satu tempat ibadah tertua di Kota Bekasi tersebut. Suasana religius terasa di tengah aktivitas warga yang bersembahyang.

Salah seorang warga, Melgi, mengaku datang bersama keluarganya untuk beribadah sekaligus merayakan pergantian tahun.

“Saya datang sama keluarga, ada bapak, mamah, dan anak-anak,” ujar Melgi saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, suasana perayaan Imlek tahun ini terasa sedikit berbeda dibandingkan tahun sebelumnya karena jumlah pengunjung yang datang beribadah dinilai tidak sebanyak tahun lalu.

“Kalau tahun ini, di kelenteng lebih sepi sedikit dibanding tahun lalu,” katanya.

Meski begitu, Melgi tetap memiliki harapan besar di Tahun Kuda Api, terutama bagi kehidupan keluarga dan perekonomian.

“Harapannya di Tahun Kuda Api ini semua usaha makin lancar, ekonomi makin lancar, semuanya makin sukses,” ungkapnya.

Sementara itu, warga Tionghoa yang merayakan Imlek juga menyambut tahun baru dengan suka cita. Hendra, misalnya, datang bersama istri dan tiga anaknya dengan mengenakan pakaian serba merah.

“Suasananya ramai dan sangat meriah ya di sini, bisa dirasakan dari perbedaan kali ini dari tahun sebelumnya,” kata Hendra.

Ia mengatakan sejak pagi keluarganya telah mempersiapkan diri untuk beribadah dan berencana melanjutkan dengan bersilaturahmi ke sanak saudara.

 

Di sisi lain, suasana di luar kelenteng tampak ramai dengan warga yang mengantre di depan gerbang untuk mendapatkan angpao dari umat yang beribadah. Antrean terlihat mengular sejak pagi hari di bawah terik matahari.

Warga dari berbagai daerah datang untuk merasakan tradisi tahunan ini, termasuk Hj. Hasnah yang rela datang dari Pondok Gede demi mendapatkan angpao.

Warga menuju ke wihara untuk ibadah Imlek (foto.zul.)

“Nyari angpao,” ujar Hj. Hasnah singkat.
Ia mengaku baru kembali mengikuti tradisi tersebut tahun ini setelah mendapat informasi dari kerabatnya.

“Dari saudara, saya ingat kesini kan,” katanya.
Meski telah menunggu cukup lama, Hj. Hasnah mengaku belum mendapatkan angpao dan berencana tetap bertahan hingga pembagian selesai.

“Belum. Sampai habis selesailah ini, sampai dapat,” ujarnya.

Selama menunggu, ia mengaku telah menghabiskan sekitar Rp20 ribu untuk membeli jajanan dan datang bersama anaknya untuk ikut mengantre.

Terlihat perempuan dan laki-laki dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga orang tua, berbaris di depan gerbang kelenteng. Beberapa di antaranya duduk menunggu giliran, sementara warga yang selesai beribadah lalu lalang keluar masuk area kelenteng. Sejumlah warga yang mengantre tampak menyodorkan tangan sambil meminta angpao.

Tradisi berburu angpao di Kelenteng Hok Lay Kiong menjadi daya tarik tersendiri setiap perayaan Imlek. Selain menjadi momen berbagi rezeki, kegiatan ini juga mencerminkan kebersamaan dan toleransi antarwarga dari berbagai latar belakang.

Kelenteng Hok Lay Kiong diketahui merupakan tempat ibadah penganut ajaran Tao dan Konghucu serta memiliki altar Buddha. Selain menjadi tempat ibadah, kelenteng ini juga menjadi objek wisata sejarah.

Nama Hok Lay Kiong berarti “pembawa berkah” dalam bahasa Tionghoa. Para ahli sejarah memperkirakan kelenteng ini berdiri pada abad ke-18 dan hingga kini masih digunakan oleh warga etnis Tionghoa.

Kelenteng yang telah berusia sekitar tiga abad ini berdiri di atas lahan seluas 700 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 650 meter persegi. Seiring waktu, sebagian bangunan telah mengalami pembaruan, namun pintu utama tetap dipertahankan keasliannya.

Di bagian tepi pintu terdapat papan tulisan dan ornamen yang menggambarkan perjalanan hidup Hian Thian Siang Te. Selain itu, meja peletakan peralatan sembahyang serta dua tungku berbentuk pagoda yang digunakan untuk pembakaran juga masih asli.(***)

Penulis : Zul

Editor : Ami

Berita Terkait

Perkuat Sinergi, YPJI Lakukan Kunjungan Silaturahmi ke Kediaman Designer Kondang Nina Nugroho
Bedah Buku Ustadz Abdul Somad Dihadiri Tiga Menteri, Bahas Kesiapan Menghadapi Kematian
300 Bikers Saksikan Pelantikan Baderhoods Medan, Siap Tancap Gas ke Tingkat Nasional
Dari Ibu Sehat Lahir Generasi Emas: DWP Kemenpora Rayakan HUT Ke-26 & Hari Ibu dengan Aksi Nyata
Galaxy A36 5G Antar Team Vagos Juara SGGA 2025
Debut Global yang Membanggakan! Tim Labmino Bawa Inovasi RunSight Tembus 20 Besar Dunia Samsung Solve for Tomorrow 2025
 Monitor Satu Layar untuk Gaming dan Produktivitas
Hewan Lebih Peka Menjelang Bencana? Peneliti Ungkap Fakta di Balik Alarm Alam

Berita Terkait

Sabtu, 28 Februari 2026 - 05:00 WIB

Perkuat Sinergi, YPJI Lakukan Kunjungan Silaturahmi ke Kediaman Designer Kondang Nina Nugroho

Jumat, 27 Februari 2026 - 21:43 WIB

Bedah Buku Ustadz Abdul Somad Dihadiri Tiga Menteri, Bahas Kesiapan Menghadapi Kematian

Selasa, 17 Februari 2026 - 21:02 WIB

300 Bikers Saksikan Pelantikan Baderhoods Medan, Siap Tancap Gas ke Tingkat Nasional

Selasa, 17 Februari 2026 - 12:06 WIB

Perayaan Imlek Tahun Kuda Api di Kelenteng Hok Lay Kiong Berlangsung Khidmat, Warga Beribadah hingga Antre Angpao

Rabu, 24 Desember 2025 - 10:00 WIB

Dari Ibu Sehat Lahir Generasi Emas: DWP Kemenpora Rayakan HUT Ke-26 & Hari Ibu dengan Aksi Nyata

Berita Terbaru