DELI SERDANG — Di tengah kondisi sektor pariwisata yang dinilai belum sepenuhnya pulih, sejumlah pelaku industri berkumpul dalam sebuah forum diskusi santai untuk merumuskan langkah strategis memajukan destinasi unggulan Danau Toba. Kegiatan ini menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus refleksi atas tantangan yang dihadapi pariwisata saat ini.
Bincang-bincang yang digagas oleh Andi Eka Saputra selaku pimpinan Dusun Kreatif itu dilandasi keprihatinan terhadap kondisi pariwisata yang “sedang tidak baik-baik saja.” Ia menilai diskusi terbuka perlu terus dilakukan agar sektor ini kembali bangkit dan berkembang.
Kegiatan tersebut berlangsung pada 19 April 2026, mulai pukul 12.30 hingga 18.00 WIB, bertempat di Markas Dusun Kreatif, Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Sejumlah pelaku dan pemangku kepentingan turut hadir, di antaranya Tikwan Raya Siregar dari Toba Caldera UNESCO Global Geopark, Kus Endro (Ketua Bidang Organisasi HPI Pusat), H. Amsyal (travel agent), Melina Efi (event organizer), Willy Sedona (Sedona Holidays), Rizanul Arifin (jurnalis), serta berbagai komunitas dan penggiat pariwisata lainnya.
Diskusi dipandu oleh Bimo Adrian, generasi muda asal Medan yang tengah menempuh pendidikan pariwisata di Politeknik Negeri Medan. Dalam pembukaan, Bimo menyampaikan tema kegiatan, yakni pengembangan destinasi wisata Danau Toba berbasis geopark.
“Tema ini kita angkat karena Danau Toba bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga memiliki nilai geologi dan budaya yang luar biasa untuk dikembangkan,” ujar Bimo.
Dalam sesi diskusi, Tikwan Raya Siregar menekankan pentingnya mengangkat nilai budaya sebagai kekuatan utama pariwisata.
“Kita sekarang harus mempromosikan nilai-nilai budaya yang ada di Danau Toba sebagai materi utama dalam upaya memajukan pariwisata. Kita juga punya peristiwa supervolcano terbesar dalam tiga juta tahun terakhir, yaitu Danau Toba, dan itu menjadi kebanggaan kita bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Kus Endro menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam mendongkrak kunjungan wisata.
“Saat ini era digital sangat berpengaruh dalam memajukan pariwisata. Contohnya di Berastagi, para guide sudah memanfaatkan digitalisasi dan hasilnya wisatawan Eropa maupun lokal semakin banyak berkunjung. Ini yang perlu dilakukan oleh para tour operator untuk mengembangkan pariwisata Danau Toba,” katanya.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai masukan dari peserta. Beragam ide mengemuka, mulai dari penguatan promosi digital, kolaborasi lintas sektor, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pariwisata.
H. Amsyal sebagai pelaku travel agent berharap forum serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan.
“Diskusi seperti ini sangat penting dan perlu rutin dilakukan agar kita bisa terus mencari solusi dan strategi terbaik untuk kemajuan pariwisata Danau Toba,” ungkapnya.
Pertemuan ini menjadi sinyal bahwa kolaborasi antar pelaku industri pariwisata terus dibangun demi mengangkat kembali pesona Danau Toba sebagai destinasi unggulan nasional sekaligus kebanggaan Indonesia di mata dunia.
Penulis : lazir
Editor : ameri













