Reaktivasi Jalur KA Kedungjati–Tuntang Dinilai Strategis, Dorong Ekonomi dan Pariwisata Jawa Tengah

- Penulis

Kamis, 23 April 2026 - 08:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Stasiun Kedungjati (foto.99.co)

Stasiun Kedungjati (foto.99.co)

JAKARTA – Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata yang juga menjabat sebagai Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai rencana reaktivasi jalur kereta api Kedungjati–Tuntang sebagai langkah strategis yang tidak hanya menghidupkan kembali konektivitas transportasi, tetapi juga membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan pengembangan pariwisata di wilayah Jawa Tengah.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) saat ini tengah menyiapkan langkah untuk mengaktifkan kembali jalur sepanjang 30 kilometer tersebut. Upaya ini diyakini mampu menjadi pemicu kebangkitan ekonomi baru bagi masyarakat di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga.

Jalur Kedungjati–Tuntang bukan sekadar lintasan transportasi biasa. Di baliknya tersimpan sejarah panjang perkeretaapian Indonesia. Jalur ini merupakan bagian dari rute penghubung Semarang menuju Ambarawa, yang hingga kini masih menyisakan jejak melalui layanan kereta wisata dari Tuntang ke Bedono.

“Secara historis, jalur menuju Ambarawa merupakan percabangan dari lintasan utama yang menghubungkan Semarang dengan wilayah Vorstenlanden, yakni Surakarta dan Yogyakarta. Percabangan tersebut berada di Stasiun Kedungjati setelah Stasiun Tanggung di Grobogan,” kata Djoko, Kamis  (23/4/2026).

Bangunan Stasiun Ambarawa sendiri telah ditetapkan sebagai Museum Kereta Api sejak 6 Oktober 1976. Pada masa Hindia Belanda, stasiun yang dahulu dikenal sebagai Stasiun Willem I ini menjadi bagian penting dalam jaringan transportasi awal. Jalur cabang Semarang–Kedungjati–Ambarawa mulai beroperasi pada 21 Mei 1873, berdekatan dengan Benteng Willem I atau yang kini dikenal masyarakat sebagai Benteng Pendem.

Jalur ini dibangun oleh perusahaan swasta Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), untuk menghubungkan pelabuhan Semarang dengan pusat militer di Ambarawa sekaligus memperlancar distribusi komoditas seperti kayu jati, kopi, dan gula dari pedalaman Jawa Tengah. Meski sempat menghadapi kendala pembiayaan, proyek ini tetap berjalan berkat dukungan pinjaman dari pemerintah Hindia Belanda.

Secara geografis, lintasan ini memiliki karakteristik yang menantang sekaligus memikat. Jalurnya membelah perbukitan dan hutan jati, serta dilengkapi jembatan-jembatan tinggi yang melintasi sungai dan lembah. Panorama ini menjadi daya tarik tersendiri, meski pada masanya pembangunan dan perawatan jalur tersebut membutuhkan kemampuan teknis tinggi.

Namun, kejayaan jalur ini berakhir pada 1976. Layanan reguler dihentikan karena kalah bersaing dengan moda transportasi jalan raya seperti bus dan truk, ditambah kondisi infrastruktur yang menua serta biaya perawatan yang terus meningkat.

Harapan untuk menghidupkan kembali jalur ini sempat muncul pada periode 2013–2015 melalui proyek reaktivasi oleh Kementerian Perhubungan. Namun, progres yang sempat berjalan baru mencapai pemasangan rel sekitar 1,2 kilometer dari Stasiun Kedungjati sebelum akhirnya terhenti akibat kendala teknis dan pendanaan. Kini, sebagian infrastruktur yang telah dibangun kembali tertutup semak belukar.

“Padahal, jika jalur ini kembali aktif, fungsinya akan jauh lebih luas. Selain menghubungkan Kedungjati hingga Tuntang, jalur ini juga melintas di bawah Tol Semarang–Solo. Stasiun Tuntang yang selama ini berfungsi sebagai titik wisata berpotensi berkembang menjadi simpul transportasi penting yang melayani perjalanan jarak jauh menuju Jakarta dan Surabaya,” ucapnya.

Dalam catatan sejarah, Stasiun Tuntang juga pernah menjadi pusat logistik ternak yang vital. Fasilitas khusus untuk memindahkan sapi ke dalam gerbong kereta menjadi bukti perannya dalam distribusi komoditas hingga ke Stasiun Cipinang di Jakarta.

Reaktivasi jalur ini dinilai memiliki dampak berlapis. Selain menghidupkan kembali aset lama, langkah ini akan memperkuat konektivitas transportasi melalui jalur melingkar Jawa Tengah yang menghubungkan Semarang, Yogyakarta, dan Solo. Wisatawan dari luar daerah pun dapat lebih mudah mencapai Ambarawa tanpa harus menghadapi kemacetan di jalur darat seperti Ungaran–Bawen.

“Dari sisi pariwisata, jalur ini menawarkan pengalaman unik berupa perjalanan kereta dengan panorama hutan jati dan jembatan bersejarah. Konektivitas ke berbagai destinasi seperti Rawa Pening, Candi Gedong Songo, hingga kawasan Bandungan dan Kopeng diyakini akan semakin meningkatkan daya tarik wisata di kawasan tersebut,” sebutnya.

Selain itu, kehadiran layanan kereta komuter di jalur ini dapat menjadi solusi untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di jalur nasional yang selama ini dikenal rawan kecelakaan. Jalur ini juga memiliki potensi besar untuk mendukung angkutan logistik dari wilayah Tuntang, Bringin, hingga Kedungjati guna menggerakkan ekonomi pedalaman.

Reaktivasi ini sekaligus membuka peluang menghidupkan kembali stasiun-stasiun lama seperti Bringin dan Gogodalem. Aktivitas kereta api diperkirakan akan memicu pertumbuhan pusat-pusat ekonomi baru, mulai dari sektor penginapan, usaha mikro, hingga jasa transportasi lokal.

“Reaktivasi jalur Kedungjati–Tuntang bukan hanya soal menghidupkan kembali rel lama, tetapi juga menyelamatkan aset negara sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah. Jika dikelola dengan baik, jalur ini bisa menjadi tulang punggung transportasi sekaligus destinasi wisata berbasis sejarah,” ujar Djoko.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga aset perkeretaapian dari kerusakan dan potensi penyerobotan lahan. “Dengan adanya operasional, perawatan dapat dilakukan secara rutin sehingga infrastruktur seperti stasiun dan jembatan bersejarah tetap terjaga,” tambahnya.

Dengan berbagai potensi yang dimiliki, reaktivasi jalur Kedungjati–Tuntang diharapkan tidak lagi berhenti di tahap perencanaan. Lebih dari sekadar proyek transportasi, jalur ini berpeluang menjadi penggerak baru bagi ekonomi, pariwisata, sekaligus pelestarian sejarah perkeretaapian Indonesia.

Penulis : amanda az

Editor : ameri

Berita Terkait

AHY Dorong Proyek Kereta Api Luar Jawa, Targetkan 14.000 Km untuk Pemerataan Pembangunan
91 Persen BBM Habis di Transportasi, Kendaraan Pribadi Jadi Biang Utama
KAI Services Soroti Penumpang Memaksa Masuk KRL Penuh di Manggarai, Keselamatan Jadi Prioritas
Dua Bulan Menggantung, Kasus Maut Matraman Tak Jelas Ujungnya
Alarm Keselamatan Bus Nasional, Hampir 60 Persen Perjalanan Langgar Aturan!
Transportasi Publik Jadi Kunci Hadapi Krisis Energi, Pemerintah Diminta Berbenah Cepat
Meski Klaim Sukses, Angkutan Lebaran 2026 Sisakan Catatan: 300 Nyawa Melayang dan Lonjakan Penumpang Perlu Evaluasi
Status Siaga di Tol Cisumdawu, Retakan 100 Meter Direspons dengan Operasi Taktis

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 10:37 WIB

AHY Dorong Proyek Kereta Api Luar Jawa, Targetkan 14.000 Km untuk Pemerataan Pembangunan

Kamis, 23 April 2026 - 08:57 WIB

Reaktivasi Jalur KA Kedungjati–Tuntang Dinilai Strategis, Dorong Ekonomi dan Pariwisata Jawa Tengah

Senin, 13 April 2026 - 08:13 WIB

91 Persen BBM Habis di Transportasi, Kendaraan Pribadi Jadi Biang Utama

Rabu, 8 April 2026 - 12:14 WIB

KAI Services Soroti Penumpang Memaksa Masuk KRL Penuh di Manggarai, Keselamatan Jadi Prioritas

Senin, 6 April 2026 - 08:35 WIB

Dua Bulan Menggantung, Kasus Maut Matraman Tak Jelas Ujungnya

Berita Terbaru