JAKARTA – Dudy Purwagandhi resmi menutup Posko Angkutan Lebaran Terpadu 2026 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Senin (30/3/2026). Pemerintah mengklaim penyelenggaraan mudik tahun ini berjalan sukses dengan sejumlah indikator peningkatan mobilitas dan penurunan angka kecelakaan.
Namun di balik capaian tersebut, sejumlah catatan kritis muncul, terutama terkait tingginya angka korban jiwa dan lonjakan jumlah pemudik yang belum sepenuhnya diimbangi peningkatan kualitas layanan.
Berdasarkan data Mobile Positioning Data (MPD), jumlah pergerakan masyarakat selama periode 13–29 Maret 2026 mencapai 147,55 juta orang, meningkat 2,53 persen dibanding hasil survei sebelumnya. Di sisi lain, jumlah penumpang angkutan umum juga naik 10,87 persen menjadi 23,54 juta orang.
Menhub Dudy Purwagandhi menyebut keberhasilan ini sebagai hasil kerja kolaboratif lintas sektor. “Kolaborasi ini menjadi kunci utama dalam memastikan masyarakat dapat melakukan perjalanan mudik dan arus balik dengan aman, selamat, dan lancar,” ujarnya.
Meski demikian, peningkatan mobilitas yang signifikan justru memunculkan pertanyaan tentang kesiapan infrastruktur dan kapasitas layanan transportasi. Lonjakan penumpang di seluruh moda—terutama penyeberangan yang naik hingga 15,36 persen—mengindikasikan tekanan tinggi pada sistem transportasi nasional, yang berpotensi memicu kepadatan dan penurunan kualitas layanan di lapangan.
Dari sisi keselamatan, pemerintah menyoroti penurunan jumlah kecelakaan sebesar 6,31 persen menjadi 3.517 kejadian. Fatalitas juga turun 31,19 persen menjadi 300 korban jiwa.
Namun angka tersebut tetap menunjukkan bahwa ratusan orang kehilangan nyawa selama periode mudik. Penurunan persentase tidak serta-merta menghapus fakta bahwa risiko perjalanan masih tinggi.
“Capaian ini patut kita syukuri, namun juga harus kita jadikan sebagai bahan evaluasi,” kata Dudy Purwagandhi.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa aspek keselamatan belum sepenuhnya optimal. Masih adanya ribuan kecelakaan mengindikasikan persoalan klasik seperti kelalaian pengguna jalan, kondisi kendaraan, hingga pengawasan di lapangan yang belum maksimal.
Upaya penguatan keselamatan seperti ramp check, pengawasan, dan integrasi sistem lalu lintas memang terus didorong. Namun efektivitasnya di lapangan kerap menjadi sorotan, terutama pada titik-titik rawan kecelakaan dan kepadatan.
Di sisi pelayanan, pemerintah juga mengakui perlunya peningkatan kualitas. Menhub menegaskan bahwa transportasi tidak hanya soal memindahkan orang, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan nyaman.
Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa masih terdapat keluhan publik selama masa mudik, mulai dari kepadatan, keterlambatan, hingga kenyamanan layanan yang belum merata di semua moda dan daerah.
Dengan tingginya mobilitas masyarakat setiap tahun, keberhasilan Angkutan Lebaran tidak cukup diukur dari peningkatan jumlah penumpang atau penurunan persentase kecelakaan semata. Evaluasi menyeluruh terhadap kualitas layanan, keselamatan riil di lapangan, serta kesiapan infrastruktur menjadi kunci agar capaian serupa tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar dirasakan masyarakat.
Penulis : lazir
Editor : ameri












