YOGYAKARTA – Tujuh lagu karya keluarga De Santos yang lahir sejak era 1970-an akan kembali diperdengarkan dalam sebuah perhelatan seni di Yogyakarta. Musik lintas generasi tersebut akan disajikan dalam acara “Persembahan Karya De Santos dan Para Sahabat” di Jogya Tea House (JTH), Minggu (20/9/2026).
Sejumlah karya yang akan dibawakan kembali antara lain Hikmah Kemerdekaan, Tabah, Penuh Harapan, hingga lagu solidaritas Padang: Don’t Lose Your Hope. Seluruh lagu akan dikemas dengan aransemen yang lebih segar tanpa meninggalkan karakter karya aslinya.
Putra sulung Santoso Poedjosoebroto dan keluarga, Haryo Sasongko, mengatakan acara tersebut menjadi bagian dari upaya meneruskan pesan dan amanah orang tuanya melalui seni.

“Bapak dan Ibu kami selalu berpesan bahwa seni akan membawa perdamaian dan mempererat hubungan umat manusia. Melalui musik inilah kami mewujudkan warisan itu,” ujar Haryo.
Kolaborasi Musisi Lintas Generasi
Perhelatan ini juga menjadi ruang pertemuan antara pemain musik De Santos dengan sejumlah musisi Yogyakarta. Mereka akan berkolaborasi dalam sesi jam session yang mempertemukan musisi dari latar dan generasi berbeda.

Sejumlah nama yang terlibat di antaranya Lim Hans, musikus multitalenta asal Banjarmasin yang telah menetap di Yogyakarta sejak 1983.
Ada pula Rita Sayeti, biduanita yang dikenal piawai membawakan lagu-lagu pop dan jazz era 1970-an. Sementara Sapto Indro, penyanyi sekaligus saxophonist, dipercaya membawakan lagu Keseimbangan karya Haryo Sasongko.
Lim Hans selama ini kerap tampil bersama Rita Sayeti di berbagai panggung hiburan Yogyakarta. Adapun Sapto Indro dikenal aktif berkolaborasi dengan musisi dari berbagai daerah.
Tak Sekadar Pertunjukan Musik
“Persembahan Karya De Santos dan Para Sahabat” tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik. Pengunjung juga dapat menikmati pameran lukisan dan karikatur serta mengikuti diskusi mengenai budaya.

Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), yakni Prof. Laksono Trisnantoro, Prof. Laretna Adishakti, dan Prof. Dr. Paripurna P. Sugarda. Pemimpin Redaksi Harian Kedaulatan Rakyat, Dr. Octo Lampito, juga dijadwalkan menjadi pembicara.
Satu sesi lain yang menarik adalah diskusi mengenai hak cipta bersama musisi legendaris Candra Darusman. Forum ini diharapkan membuka ruang percakapan mengenai karya musik, kreativitas, sekaligus pentingnya perlindungan hak cipta bagi para seniman.
Acara yang digelar di JTH tersebut terbuka untuk umum. Bagi masyarakat yang tidak dapat hadir langsung di lokasi, kegiatan juga dapat diikuti secara daring melalui Zoom.
Lewat perpaduan musik, seni rupa, diskusi budaya, dan dialog tentang hak cipta, keluarga De Santos berharap acara ini menjadi ruang pertemuan bagi para pecinta seni, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Penulis : lazir
Editor : ameri












