RENTAK.ID – Kondisi para pengungsi akibat rentetan bencana alam di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), semakin memprihatinkan. Selain menghadapi keterbatasan kebutuhan dasar, warga di sejumlah titik pengungsian juga kesulitan mendapatkan akses dokter dan obat-obatan.
Situasi tersebut dipantau langsung oleh Zaskia Adya Mecca melalui tim relawan yang telah diterjunkan ke tiga titik posko bantuan di Flores.
Menurut Zaskia Adya Mecca, kebutuhan paling mendesak di sejumlah lokasi pengungsian saat ini bukan hanya bahan makanan, tetapi juga tenaga medis dan stok obat-obatan. Terbatasnya fasilitas kesehatan membuat warga yang mengalami gangguan kesehatan tidak dapat memperoleh penanganan dengan cepat.
“Obat, dokter, itu yang paling ini. Kemarin timku datang ke titik yang di Embai, baru sampai tiba-tiba ada ibu bawa anaknya tiga tahun panas tinggi dan lagi kejang karena nggak ada obat penurun panas di sana,” kata Zaskia Adya Mecca kepada awak media di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Balita Meninggal di Posko
Keterbatasan logistik medis tersebut bahkan berujung pada meninggalnya seorang anak berusia di bawah lima tahun. Balita tersebut mengalami panas tinggi hingga kejang, namun tidak tersedia obat penurun panas yang dibutuhkan untuk memberikan pertolongan awal.
Kondisinya kemudian memburuk dan nyawanya tidak dapat diselamatkan. “Anaknya meninggal di tempat kita, di posko kita. Terus temanku telepon itu nangis yang kayak, ‘Kita telat, kita telat’. Padahal dia cuma butuh paracetamol ya, tapi memang sudah takdir,” tutur Zaskia.
Peristiwa tersebut menjadi gambaran beratnya kondisi layanan kesehatan di tengah situasi bencana. Bagi Zaskia, keberadaan dokter dan ketersediaan obat menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting dibandingkan bantuan logistik lainnya.
Pengungsi Hadapi Suhu 8-9 Derajat
Selain persoalan kesehatan, para pengungsi juga harus menghadapi kondisi cuaca yang ekstrem pada malam hari. Sejumlah wilayah pengungsian berada di dataran tinggi sehingga suhu udara dapat turun hingga 8-9 derajat Celsius.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena banyak warga hanya bertahan di dalam tenda dengan perlengkapan tidur yang terbatas.
“Ternyata pas malam di sana itu tahu nggak, 8 sampai 9 derajat. Sedangkan semua relawan datang ya bayangannya kan panas, jadi cuma pakai baju kaus atau rompi, pas sampai sana mereka kedinginan banget,” terang Zaskia.
Situasi pengungsian juga belum sepenuhnya stabil. Warga masih harus menghadapi trauma akibat gempa susulan yang disebut terjadi dengan intensitas tinggi dan cukup sering.
“Bayangin nggak, tidur di tenda suhunya 8 sampai 9 derajat, gempanya per 30 menit sekali. Itu berat banget yang dilewatin di sana,” pungkas Zaskia Adya Mecca. ***












