Tabrakan KRL dan Argo Bromo Anggrek di Bekasi, DPR Minta Perbaikan Sistem Keselamatan Kereta

- Penulis

Rabu, 29 April 2026 - 07:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 Rofik Hananto (dok. rentak.id)

Rofik Hananto (dok. rentak.id)

JAKARTA – Tragedi kecelakaan beruntun di lintasan kereta Bekasi Timur kembali menyoroti lemahnya sistem keselamatan perkeretaapian nasional. Insiden yang melibatkan Kereta Rel Listrik (KRL), KA Argo Bromo Anggrek, serta sebuah taksi pada Senin (27/4) malam itu menelan korban jiwa dan memicu desakan evaluasi menyeluruh.

Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKS, H. Rofik Hananto, S.E., menegaskan perlunya pembenahan serius terhadap sistem keselamatan, menyusul kecelakaan yang mengakibatkan 14 orang meninggal dunia dan 84 lainnya luka-luka.

“Saya atas nama pribadi dan keluarga besar Fraksi PKS mengucapkan turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya untuk para korban meninggal, serta mendoakan kesembuhan secepatnya bagi para korban luka,” ungkap Rofik,  Rabu (29/4/2026).

Peristiwa nahas itu diketahui bermula sekitar pukul 20.45 WIB, ketika sebuah taksi mengalami mogok di perlintasan liar Bulak Kapal. Kendaraan tersebut kemudian tertabrak KRL rute Jakarta–Cikarang. Tak lama berselang, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah belakang turut menghantam rangkaian di depannya, diduga karena masinis tidak menerima sinyal peringatan darurat.

Menanggapi rangkaian kejadian tersebut, Rofik menilai adanya indikasi kelalaian sistemik yang harus segera ditangani. Ia mendesak PT KAI dan pemerintah untuk mengambil langkah tegas dan solutif dalam memperbaiki tata kelola keselamatan, baik dari sisi pengguna jalan maupun petugas operasional.

“Perlu ada penegakan aturan yang lebih tegas bagi pengendara yang melintasi perlintasan sebidang. Banyak kecelakaan terjadi karena pengguna jalan menerobos palang atau mengabaikan sinyal peringatan. Penindakan berupa tilang, peningkatan pengawasan, serta edukasi berkelanjutan harus diperkuat agar disiplin berlalu lintas benar-benar terbentuk. Selain itu, jika ditemukan adanya kelalaian dari petugas penjaga maupun stasiun, Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan harus ditegakkan tanpa kompromi, disertai evaluasi berkala dan pelatihan ulang bagi seluruh petugas operasional,” ujar Rofik.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti pentingnya percepatan pembangunan infrastruktur sebagai solusi jangka panjang, khususnya di jalur padat kawasan aglomerasi.

“Pada jalur dengan trafik yang sangat tinggi seperti Jakarta–Cikarang, pembangunan jalur ganda atau double double track (DDT) menjadi kebutuhan mendesak. Dengan adanya jalur tambahan, frekuensi dan pergerakan kereta bisa lebih teratur, mengurangi kepadatan, serta meminimalisir potensi konflik di perlintasan sebidang. Proyek ini harus diprioritaskan,” tegasnya.

Rofik juga mengingatkan bahwa karakteristik kereta api yang melaju dengan kecepatan tinggi memiliki jarak pengereman yang sangat panjang, bahkan bisa mencapai ratusan hingga ribuan meter. Hal ini membuat kereta tidak dapat dihentikan secara mendadak seperti kendaraan biasa.

Karena itu, ia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan, termasuk pembaruan teknologi sinyal darurat berbasis fail-safe, peningkatan kecepatan komunikasi antar masinis, serta pengetatan protokol penghentian di jalur padat.

Menurutnya, tragedi ini harus menjadi momentum perbaikan serius agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

55 Persen Perjalanan Bus Terindikasi Melanggar, Penyimpangan Trayek Mendominasi
Feeder LRT Palembang Disetop, Djoko Setijowarno Bongkar Masalah Transportasi Publik
Gus Rivqy Desak Garuda Indonesia Berbenah Total, Kerugian Jadi Alarm Transformasi
Tol Jakarta-Cikampek Diperbaiki hingga 7 November, Ini 3 Titik yang Perlu Diwaspadai Pengendara
Pontianak Siapkan 19 Bus Modern Mulai 2027, Ini Dua Rute yang Akan Dilayani
Cuma Pasang Stiker Reflektif, JMTO Berhasil Tekan Kecelakaan di Tol Pandaan–Malang
Pendapatan Jasa Marga Tembus Rp15,6 Triliun, Laba Bersih Kuartal III 2026 Capai Rp2,7 Triliun
Hujan Deras Picu Longsor di Sipirok, Separuh Badan Jalan Amblas

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 15:15 WIB

55 Persen Perjalanan Bus Terindikasi Melanggar, Penyimpangan Trayek Mendominasi

Senin, 2 November 2026 - 09:24 WIB

Feeder LRT Palembang Disetop, Djoko Setijowarno Bongkar Masalah Transportasi Publik

Minggu, 1 November 2026 - 10:15 WIB

Gus Rivqy Desak Garuda Indonesia Berbenah Total, Kerugian Jadi Alarm Transformasi

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:44 WIB

Tol Jakarta-Cikampek Diperbaiki hingga 7 November, Ini 3 Titik yang Perlu Diwaspadai Pengendara

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:43 WIB

Pontianak Siapkan 19 Bus Modern Mulai 2027, Ini Dua Rute yang Akan Dilayani

Berita Terbaru