DI TENGAH arus zaman yang terus berubah, satu hal tetap menjadi fondasi utama dalam kehidupan manusia: keluarga. Dan dalam struktur keluarga itu, anita memegang peran yang jauh lebih besar dari yang sering terlihat.
Pernyataan “wanita adalah tiang keluarga” bukan sekadar ungkapan normatif. Ia adalah realitas yang terbukti dalam banyak peristiwa sejarah, termasuk dalam dunia pesantren—ruang pendidikan Islam yang melahirkan generasi ulama dan pemimpin umat.
Peran yang Sering Tak Terlihat
Seringkali sorotan hanya tertuju pada sosok kiai sebagai pendiri dan pengasuh pesantren. Namun, di balik keberhasilan itu, terdapat figur wanita yang menjadi penopang utama—baik secara emosional, spiritual, maupun material.
Salah satu contoh nyata dapat dilihat dalam sejarah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo. Di balik sosok KH Abdul Karim, terdapat peran besar Nyai Dlomroh Siti Khodijah.
Beliau dikenal sebagai sosok yang ikut memperjuangkan berdirinya pesantren dari kondisi awal yang penuh tantangan. Bahkan, kawasan yang dahulu dikenal angker itu perlahan berubah menjadi pusat pendidikan Islam yang besar, tidak lepas dari kesabaran dan keteguhan beliau.
Sebagai pendamping, Nyai Dlomroh menunjukkan kesetiaan luar biasa. Ia tidak hanya mendampingi dalam arti rumah tangga, tetapi juga menjadi mitra strategis.
KH Abdul Karim diketahui sering meminta pertimbangan beliau dalam mengambil keputusan penting terkait pesantren.
Di sisi lain, peran beliau dalam menopang ekonomi dan memberikan kekuatan mental menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlangsungan perjuangan. Keteladanan beliau dalam kesederhanaan dan keteguhan hingga kini masih hidup dalam tradisi santri.
Keteguhan dan Kemandirian Seorang Nyai.
Kisah serupa juga terlihat di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso melalui sosok Nyai Rodliyah, istri KH Ahmad Djazuli.
Sebagai ummul ma’had, Nyai Rodliyah bukan hanya figur pendamping, tetapi pemimpin sunyi yang menjaga arah perjuangan pesantren. Ketegasan dan visi hidupnya tercermin dalam ungkapan sederhana namun penuh makna:
“Pun, sampean ngaji mawon, kulo sing ngurusi sangu.”
(Silakan Anda fokus mengaji, saya yang mengurus kebutuhan ekonomi).
Pernyataan tersebut bukan sekadar bentuk dukungan, tetapi juga strategi pembagian peran yang jelas demi kemajuan pendidikan. Dari sini, KH Ahmad Djazuli dapat mencurahkan seluruh energi untuk mengajar dan mendidik santri.
Dalam praktiknya, Nyai Rodliyah menjalankan berbagai usaha kecil demi memenuhi kebutuhan keluarga dan pesantren. Ia berdagang sayur, menjual kain keliling desa dengan berjalan kaki, bahkan sambil menggendong dagangan.
Di saat yang sama, ia juga dikenal sebagai sosok yang tekun dalam riyadloh—melaksanakan puasa sunnah, shalat malam, dan membaca Al-Qur’an secara istiqamah.
Perpaduan antara kerja keras lahir dan kekuatan batin inilah yang menjadikan beliau sebagai teladan nyata bagi santri dan masyarakat.
Wanita dan Keberlangsungan Peradaban
Dari dua kisah tersebut, terlihat bahwa peran wanita tidak dapat direduksi hanya pada ranah domestik. Mereka adalah penopang utama yang memastikan keberlangsungan nilai, pendidikan, dan perjuangan.
Dalam perspektif Islam, peran ini memiliki landasan yang kuat. Allah SWT berfirman:
“Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik.”
(QS. An-Nur: 26)
Rasulullah ﷺ juga menegaskan:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”
(HR. Tirmidzi)
Serta sabda beliau:
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.”
(HR. Muslim)
Ayat dan hadits tersebut menunjukkan bahwa kualitas sebuah keluarga—bahkan masyarakat—tidak lepas dari peran wanita di dalamnya.
Penutup
Kisah Nyai Dlomroh Siti Khodijah dan Nyai Rodliyah memberikan pelajaran penting bahwa wanita bukan sekadar pelengkap dalam keluarga. Mereka adalah tiang yang menopang, penguat yang menjaga, dan dalam banyak kasus, penentu arah sebuah perjuangan.
Jika wanita kuat, maka keluarga akan kokoh.
Dan dari keluarga yang kokoh, lahirlah peradaban yang besar.
Sumber dan Rujukan
Sejarah dan tradisi Pondok Pesantren Lirboyo
Riwayat ulama Pondok Pesantren Al-Falah Ploso
Literatur tradisi pesantren Jawa
Al-Qur’an dan Hadits (HR. Muslim, Tirmidzi)
Penulis : atz
Editor : ameri













