Kenapa Dianjurkan Berbuka dengan Kurma? Ini Penjelasan Ilmiah dan Hikmahnya

- Penulis

Kamis, 5 Maret 2026 - 20:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Buah Kurma yang lezat (foto. ist)

Buah Kurma yang lezat (foto. ist)

BERBUKA puasa dengan kurma telah menjadi kebiasaan yang sangat akrab di tengah masyarakat Muslim. Hampir di setiap meja berbuka, buah manis ini selalu hadir sebagai makanan pembuka sebelum hidangan utama. Namun muncul pertanyaan: apakah kebiasaan ini sekadar tradisi yang diwariskan dari budaya Arab, atau memang ada alasan kesehatan di baliknya?

Ternyata, anjuran berbuka dengan kurma memiliki dasar ajaran sekaligus penjelasan ilmiah yang cukup kuat.

Dalam sejumlah riwayat hadits disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan berbuka dengan kurma.

Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud disebutkan bahwa Nabi biasanya berbuka dengan ruthab (kurma basah). Jika tidak tersedia, beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Jika kurma juga tidak ada, maka beliau berbuka dengan air.

Riwayat tersebut menunjukkan bahwa kurma bukan sekadar pilihan kebetulan, melainkan bagian dari tuntunan yang dilakukan secara konsisten.

Selama sekitar 12 hingga 14 jam berpuasa, tubuh mengalami beberapa perubahan fisiologis.

Pertama, kadar gula darah cenderung menurun karena tidak ada asupan makanan. Kedua, lambung berada dalam kondisi kosong dalam waktu cukup lama. Ketiga, metabolisme tubuh mulai beralih dari penggunaan glukosa menuju pembakaran lemak sebagai sumber energi.

Dalam kondisi ini, tubuh sebenarnya membutuhkan asupan energi yang cepat diserap, namun tetap ringan bagi sistem pencernaan.

Secara nutrisi, kurma memiliki karakter yang sangat sesuai dengan kebutuhan tubuh setelah berpuasa.

Kurma mengandung glukosa dan fruktosa alami yang mudah diserap tubuh, sehingga dapat membantu meningkatkan kadar gula darah secara bertahap tanpa membebani pencernaan.

Selain itu, kurma juga kaya serat yang membantu melindungi lambung agar tidak “kaget” setelah lama kosong. Buah ini juga mengandung mineral penting seperti kalium dan magnesium yang berperan dalam menjaga fungsi otot serta saraf.

Tak hanya itu, kurma juga memiliki kandungan antioksidan tinggi. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Nutrition pada 2002 menunjukkan bahwa kurma mengandung antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan sel tubuh.

Karena itulah, dalam perspektif ilmu gizi modern, kurma sering disebut sebagai semacam “starter metabolik” yang lembut sebelum seseorang mengonsumsi makanan utama.

Dalam praktiknya, banyak orang dianjurkan berbuka dengan tiga butir kurma. Meski tidak ada kewajiban jumlah tertentu, porsi ini dianggap cukup ideal.

Tiga butir kurma rata-rata mengandung sekitar 60 hingga 75 kalori. Jumlah tersebut sudah cukup untuk meningkatkan energi awal tanpa menyebabkan lonjakan gula darah yang berlebihan.

Porsi kecil juga membantu seseorang mengendalikan nafsu makan agar tidak langsung makan berlebihan saat berbuka. Prinsip moderasi ini sejalan dengan ajaran Islam untuk tidak berlebih-lebihan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 31.

Ulama klasik seperti Ibn Qayyim al-Jawziyya dalam kitab Zad al-Ma’ad juga menjelaskan bahwa makanan manis alami merupakan jenis makanan yang paling cepat membantu memulihkan tenaga orang yang sedang berpuasa.

Berbuka dengan kurma bukan sekadar simbol religius atau kebiasaan budaya. Praktik ini memiliki dasar hadits yang jelas sekaligus sejalan dengan prinsip kesehatan modern.

Perpaduan antara tuntunan spiritual dan manfaat biologis ini menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi tubuh.

Dengan demikian, memilih kurma saat berbuka bukan hanya mengikuti tradisi, melainkan juga mengambil manfaat kesehatan yang telah terbukti secara ilmiah.

Penulis : atz

Editor : ameri

Berita Terkait

Wanita Adalah Tiang Keluarga, Dan Ini Buktinya!
Merawat Daerah dari Pinggiran: Inovasi Irman Gusman dalam Menafsirkan Konstitusi
Rahasia Tubuh Manusia Saat Puasa: Mengapa 14 Jam Tanpa Makan Ternyata Bisa
Kamrussamad: Luruskan Polemik Anggaran MBG, Sikap PDI Perjuangan Harus Jelas
Ramadan Bukan Akhir Ibadah, Tapi Awal Kehidupan Bertakwa
Lima Air dari Seorang Ibu yang Tidak Bisa diganti Apapun
Setetes Darah, Banyak Manfaat: Mengapa Donor Darah Penting bagi Semua
Kecerdasan Buatan: Manfaat dan Ancaman AI bagi Manusia!

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 04:38 WIB

Wanita Adalah Tiang Keluarga, Dan Ini Buktinya!

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:04 WIB

Merawat Daerah dari Pinggiran: Inovasi Irman Gusman dalam Menafsirkan Konstitusi

Senin, 9 Maret 2026 - 20:37 WIB

Rahasia Tubuh Manusia Saat Puasa: Mengapa 14 Jam Tanpa Makan Ternyata Bisa

Kamis, 5 Maret 2026 - 20:05 WIB

Kenapa Dianjurkan Berbuka dengan Kurma? Ini Penjelasan Ilmiah dan Hikmahnya

Jumat, 27 Februari 2026 - 20:17 WIB

Kamrussamad: Luruskan Polemik Anggaran MBG, Sikap PDI Perjuangan Harus Jelas

Berita Terbaru