Gerhana Bulan Total 13-14 Maret 2025: Waktu, Lokasi, dan Cara Menyaksikannya

- Penulis

Rabu, 12 Maret 2025 - 20:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerhana Bulan Total atau Blood Moon. (ist)

Gerhana Bulan Total atau Blood Moon. (ist)

JAKARTA – Penggemar astronomi kembali disuguhi fenomena langit langka pada 13-14 Maret 2025, bertepatan dengan bulan Ramadan.

Gerhana Bulan Total atau Blood Moon ini akan dapat diamati dari berbagai belahan dunia, termasuk sebagian wilayah Indonesia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa gerhana bulan total ini akan mencapai fase awalnya pada Jumat (14/3/2025) pukul 10.57 WIB.

Sayangnya, puncak gerhana yang terjadi pada pukul 13.54 WIB tidak dapat disaksikan dari Indonesia, karena hanya terlihat jelas di Amerika, Afrika bagian barat, Eropa, Asia bagian timur, dan Australia bagian timur.

Menurut Ketua Tim Bidang Geofisika Potensial BMKG, Syrojudin, fase gerhana total yang bisa diamati di Indonesia bagian timur akan berakhir pada pukul 14.31 WIB (16.31 WIT), sementara gerhana penumbra akan selesai pada pukul 17.00 WIB (19.00 WIT).

Dampak Gerhana Bulan Total

Meskipun Indonesia tidak berada dalam jalur optimal pengamatan, fenomena ini tetap bisa memberikan dampak tertentu, seperti sedikit meningkatnya ketinggian air laut yang berpotensi memicu banjir pesisir (rob).

Namun, Syrojudin memastikan bahwa dampak ini masih dalam batas terkendali.

Proses Terjadinya Blood Moon

Gerhana bulan total terjadi ketika Bulan sepenuhnya memasuki bayangan inti (umbra) Bumi, menghalangi cahaya Matahari secara langsung.

Dalam fase ini, Bulan akan tampak berwarna merah atau kecokelatan akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi—fenomena yang dikenal sebagai Blood Moon.

Fase gerhana berlangsung dari pukul 03:50 hingga 10:09 UTC. Selama fase parsial, bagian Bulan yang tertutup umbra akan tampak gelap, sedangkan sisanya masih bersinar seperti bulan purnama biasa. Ketika mencapai puncaknya, mata manusia akan menangkap spektrum warna merah yang menakjubkan.

Observasi dan Alternatif Menyaksikan Gerhana

Selain Amerika yang menjadi lokasi terbaik untuk melihat fenomena ini, sebagian wilayah Eropa, Asia, Australia, Afrika, dan kawasan Pasifik juga dapat mengamatinya secara terbatas.

Bagi yang tidak dapat menyaksikan langsung, observatorium dan lembaga astronomi akan menyiarkan fenomena ini secara daring sebagai alternatif menikmati keindahan gerhana bulan total.

Meskipun tidak berdampak ilmiah signifikan, gerhana bulan total tetap menjadi momen langit yang menakjubkan dan dinanti banyak orang. ***

Berita Terkait

Satelit Uji Kelima Fergani Space Berhasil Mengorbit, Turkiye Kian Dekat Mandiri di Sektor Antariksa
Paus Leo XIV Tegas: Tak Ada Dalih Agama untuk Perang, Serukan Dunia Hentikan Kekerasan
PKS Murka! Hidayat Nur Wahid Kecam Keras Israel atas Serangan terhadap Masjid Al Aqsha
Hubungan Turkiye–Arab Saudi Kian Erat, Dorong Stabilitas Kawasan Timur Tengah
Iran Bantah Rencana Eksekusi Demonstran, Trump Ancam Tindakan Sangat Keras
Jeritan dari Penjara Damon: Tahanan Perempuan Palestina Dipukul dan Dipaksa Lepas Jilbab
DPR RI Nilai Penangkapan Presiden Venezuela Cederai Kedaulatan Negara
AS Tangkap Presiden Maduro, Hikmahanto Juwana: Ini Preseden Berbahaya bagi Dunia!

Berita Terkait

Rabu, 1 April 2026 - 05:18 WIB

Satelit Uji Kelima Fergani Space Berhasil Mengorbit, Turkiye Kian Dekat Mandiri di Sektor Antariksa

Selasa, 31 Maret 2026 - 07:21 WIB

Paus Leo XIV Tegas: Tak Ada Dalih Agama untuk Perang, Serukan Dunia Hentikan Kekerasan

Jumat, 20 Februari 2026 - 20:45 WIB

PKS Murka! Hidayat Nur Wahid Kecam Keras Israel atas Serangan terhadap Masjid Al Aqsha

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:03 WIB

Hubungan Turkiye–Arab Saudi Kian Erat, Dorong Stabilitas Kawasan Timur Tengah

Selasa, 20 Januari 2026 - 09:33 WIB

Iran Bantah Rencana Eksekusi Demonstran, Trump Ancam Tindakan Sangat Keras

Berita Terbaru