SURABAYA — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan komitmen pemerintah menjadikan sekolah sebagai benteng utama dalam melindungi masa depan generasi muda dari ancaman narkoba. Penegasan itu disampaikan usai peluncuran program Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN) dalam rangka Ananda Bersinar yang digelar Badan Narkotika Nasional (BNN) RI bersama Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Kamis (12//20262).
Menurut Mu’ti, program IKAN merupakan langkah konkret kolaborasi Kemendikdasmen dan BNN dalam membangun budaya sekolah yang sehat dan bebas narkoba. Ia menekankan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan ketahanan diri murid.
“Program ini merupakan langkah nyata dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bekerja sama dengan BNN untuk membangun lingkungan dan budaya sekolah yang bersih dari narkoba,” ujar Mu’ti.
Ia menjelaskan, inisiatif tersebut selaras dengan implementasi Asta Cita Presiden RI, khususnya poin keempat dan ketujuh, serta sejalan dengan program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) dan visi budaya ASRI (Aman, Sehat, Ramah, dan Indah). Bagi Mu’ti, sekolah harus menjadi “oase” yang tidak hanya bebas dari kekerasan fisik, tetapi juga terlindungi dari perilaku yang merusak fisik, mental, dan spiritual anak.
Kepala BNN RI, Komjen Pol Suyudi Ario Seto, menegaskan bahwa IKAN menjadi bagian dari transformasi aksi nasional menuju Indonesia Bersinar (Bersih Narkoba). Ia mengapresiasi percepatan integrasi kurikulum yang kini menyasar seluruh jenjang pendidikan, mulai dari TK hingga SMA.
“Kurikulum integrasi antinarkoba ini akan diakselerasi ke seluruh sekolah di Indonesia. Materinya masuk ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, seperti Biologi, Matematika, dan lainnya, sehingga tidak menambah beban anak-anak kita,” jelas Suyudi.
Ia berharap, pemahaman sejak dini mampu membangun kesadaran kritis murid sebagai calon pemimpin bangsa agar tidak terjerumus pada penyalahgunaan narkotika yang mengancam kesehatan dan kecerdasan.
Dari sisi perguruan tinggi, Rektor UNESA Nurhasan menekankan pentingnya aksi kolektif dan implementasi nyata. UNESA, kata dia, telah mengintegrasikan materi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) ke dalam ekosistem Labschool UNESA, termasuk pelaksanaan tes urin rutin bagi pimpinan dan mahasiswa.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala BNN RI secara simbolis menyerahkan Buku Pedoman Integrasi Kurikulum Anti Narkoba di Satuan Pendidikan kepada Mendikdasmen. Buku itu akan menjadi panduan bagi sekolah di bawah Kemendikdasmen dan Kementerian Agama, dengan pendampingan penyuluh BNN hingga tingkat daerah.
Apresiasi juga diberikan kepada Labschool UNESA atas keberhasilan mengintegrasikan kurikulum antinarkoba di seluruh jenjang pendidikan. Penghargaan itu disaksikan langsung oleh Mendikdasmen, Kepala BNN, dan Rektor UNESA.
Antusiasme semakin terasa saat Mu’ti berdialog melalui video conference dengan Kepala SD Negeri 3 Pagar Alam, Sumatra Selatan. Menanggapi praktik baik sekolah yang rutin menghadirkan penyuluh BNN, Mu’ti mendorong pelibatan aktif murid melalui OSIS, UKS, dan kegiatan ekstrakurikuler.
“Saya kira perlu dilibatkan secara aktif para murid melalui OSIS atau UKS dan kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah yang aman dan nyaman adalah sekolah yang bebas dari segala perilaku yang merusak fisik, mental, dan spiritual anak-anak kita,” tegasnya.
Ke depan, Kemendikdasmen bersama BNN berkomitmen mempercepat pelatihan guru dan memperluas penyuluhan agar nilai-nilai antinarkoba tidak berhenti sebagai materi ajar, melainkan menjadi gaya hidup. Dengan langkah ini, sekolah diharapkan benar-benar menjadi benteng pertahanan bagi lahirnya generasi Indonesia yang kuat, sehat, dan bermartabat.
Penulis : lazir
Editor : ameri













