BANJARMASIN – Kota Banjarmasin menjadi salah satu daerah di Indonesia yang berhasil mengembangkan layanan transportasi publik ramah pelajar dan inklusif. Melalui Program Angkutan Pelajar Ceria (APACE) dan Angkutan Pelajar Disabilitas (APDI), pemerintah kota terus berupaya menghadirkan transportasi yang aman, nyaman, dan gratis bagi para pelajar.
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, mengatakan bahwa inisiatif ini berawal dari peluncuran Program APACE pada 1 Oktober 2018.
Program ini merupakan layanan angkutan gratis yang disediakan Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Perhubungan (Dishub) untuk antar-jemput pelajar sekolah.
“Program ini hanya beroperasi pada hari masuk sekolah. Armada APACE tidak diperbolehkan mengangkut penumpang lain selain pelajar. Tujuannya jelas, untuk memastikan pelajar bisa berangkat dan pulang sekolah dengan aman, nyaman, dan tanpa biaya,” ujar Djoko, Senin (3/11/2025).
Ia menambahkan, pada tahun 2019, APACE menambah dua unit armada untuk melayani sepuluh trayek. Penambahan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan angkutan umum yang sudah ada, yang dikenal masyarakat sebagai taksi kota. “Langkah ini cukup strategis, karena dilakukan agar tidak menimbulkan gejolak di lapangan. Sopir taksi kota pun diberdayakan dengan insentif Rp175.000 per hari,” jelasnya.
Seiring waktu, program ini terus berkembang. Tahun 2020 kembali ditambah dua unit armada, dan pada 2021 cakupan layanan diperluas menjadi 15 trayek. Tahun 2022 jumlah armada meningkat delapan unit, dengan rata-rata 325 penumpang per hari. Angka ini terus naik menjadi 387 penumpang per hari pada 2023 dan 477 penumpang per hari pada 2024.
“Selain membantu pelajar, APACE juga menghidupkan kembali taksi kuning yang dulu sempat mati suri. Program ini bukan hanya soal transportasi, tapi juga soal kesejahteraan. Para sopir kini memiliki pendapatan yang lebih pasti tanpa harus menombok biaya BBM,” tutur Djoko.
Angkutan Pelajar Disabilitas: Layanan Inklusif yang Terus Berkembang
Selain APACE, Pemkot Banjarmasin juga menjalankan Angkutan Pelajar Disabilitas (APDI) yang mulai beroperasi efektif pada 2019 dengan dua unit armada. Layanan ini diperluas pada tahun-tahun berikutnya hingga pada 2022 telah melayani enam trayek dengan dua unit tambahan dan mengangkut rata-rata 56 penumpang per hari. Jumlah itu meningkat menjadi 65 penumpang per hari pada 2023 dan mencapai 70 penumpang per hari pada 2024.
“Layanan APDI merupakan bentuk nyata keberpihakan pemerintah terhadap pelajar disabilitas. Ini wujud dari transportasi yang inklusif dan berkeadilan,” ucap Djoko.
Baik APACE maupun APDI beroperasi menyesuaikan jadwal kegiatan belajar mengajar di sekolah. Setiap perubahan jadwal dikomunikasikan langsung oleh pihak sekolah melalui pengemudi kepada Dishub Banjarmasin untuk menyesuaikan waktu layanan.
Biasanya, layanan dilakukan dua kali dalam sehari—pagi untuk mengantar ke sekolah dan siang untuk menjemput pulang. Namun, menurut Djoko, “Tidak menutup kemungkinan dilakukan hingga dua kali jemputan, tergantung kebutuhan dan minat pelajar pengguna layanan.”
Hingga Maret 2025, Dishub Banjarmasin tercatat telah mengoperasikan 15 unit APACE yang melayani 57 sekolah, serta 5 unit APDI yang melayani 6 sekolah, terdiri atas lima sekolah inklusi dan satu Sekolah Luar Biasa (SLB).
“Program ini sudah berjalan lebih dari enam tahun dan menunjukkan hasil yang positif. Pemkot Banjarmasin tidak hanya menyediakan armada, tapi juga terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia para sopir agar layanan makin profesional,” tutup Djoko.
Penulis : lazir
Editor : ameri













