Prioritas Transportasi Jawa Bukan Kereta Cepat, Tapi Angkutan Umum di Kota dan Desa

- Penulis

Senin, 10 November 2025 - 07:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kereta cepat Whossh. (KCIC)

Kereta cepat Whossh. (KCIC)

JAKARTA – Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, menilai rencana pembangunan kereta cepat hingga Surabaya sebaiknya dipandang sebagai keinginan jangka panjang, bukan kebutuhan mendesak saat ini.

Ia menyebut, prioritas utama pembangunan transportasi di Pulau Jawa masih berada pada penguatan layanan angkutan umum perkotaan dan pedesaan.

“Yang mendesak sekarang bukan kereta cepat. Kebutuhan vital kita adalah meningkatkan angkutan umum di kota dan desa, reaktivasi jalur rel yang tidak aktif, memperkuat layanan AKDP, dan memastikan jaringan jalan sampai ke pelosok desa berfungsi baik,” ujar Djoko dalam keterangan yang diterima, Senin (10/11/25)

Wacana pembangunan Kereta Cepat Jakarta hingga Surabaya terus menjadi bahan kajian pemerintah karena dinilai memiliki potensi meningkatkan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi. Namun, Djoko mengingatkan bahwa infrastruktur transportasi di Pulau Jawa sejatinya sudah jauh lebih maju dibandingkan wilayah lain di Indonesia.

“Jalan tol dari Merak sampai Surabaya bahkan sudah tersambung hingga Probolinggo. Mobilitas orang dan barang sudah meningkat pesat, waktu tempuh terpangkas hingga 50 persen,” jelasnya.

Djoko memaparkan, pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) seharusnya menjadi pelajaran penting. Menurutnya, proyek tersebut sejak awal merupakan pilihan politik, bukan kebutuhan mendasar masyarakat.

“KCJB itu keinginan Presiden Joko Widodo. Karena bukan kebutuhan prioritas, akhirnya menimbulkan pro dan kontra, apalagi sekarang PT KAI harus mencicil utang Rp 2,2 triliun pada 2025,” ujarnya.

Ia mengutip studi Bank Dunia (2019) yang mencatat biaya konstruksi Kereta Cepat di Tiongkok berkisar USD 17–21 juta per kilometer, tergantung kecepatan operasionalnya. Sementara itu, biaya konstruksi HSR Jakarta Bandung mencapai USD 33 juta per kilometer, dan total biaya proyeknya mencapai USD 51 juta per kilometer.

“Selisih biaya itu terjadi karena KCJB merupakan proyek HSR pertama di Indonesia, banyak biaya persiapan, impor material, hingga instalasi fasilitas dan utilitas yang di Tiongkok justru ditanggung pemerintah,” jelasnya.

Sebagai pembanding, Djoko menyebut biaya pembangunan MRT Jakarta yang mencapai Rp 1,1 triliun per km pada fase 1 dan Rp 2,3 triliun per km pada fase 2, serta LRT Jabodebek Rp 600 miliar per km (tidak termasuk pembebasan lahan).

Meski jaringan jalan dan rel semakin kuat, transportasi umum massal di Pulau Jawa dinilai belum merata. Dari 30 kota di Jawa, baru sembilan kota (30 persen) yang memiliki transportasi umum modern berbasis pembelian layanan. Sementara dari 85 kabupaten, baru empat kabupaten (4,7 persen) yang memiliki layanan serupa.

Di pedesaan, kondisi lebih memprihatinkan. Dari total sekitar 24.772 desa di Jawa, angkutan pedesaan yang masih beroperasi tinggal kurang dari 5 persen, dengan armada berusia rata-rata di atas 10 tahun.

“Angkutan pedesaan itu mati pelan-pelan. Orang lebih memilih sepeda motor, transportasi daring muncul, pandemi juga mempercepat kemundurannya,” kata Djoko.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

91 Persen BBM Habis di Transportasi, Kendaraan Pribadi Jadi Biang Utama
KAI Services Soroti Penumpang Memaksa Masuk KRL Penuh di Manggarai, Keselamatan Jadi Prioritas
Dua Bulan Menggantung, Kasus Maut Matraman Tak Jelas Ujungnya
Alarm Keselamatan Bus Nasional, Hampir 60 Persen Perjalanan Langgar Aturan!
Transportasi Publik Jadi Kunci Hadapi Krisis Energi, Pemerintah Diminta Berbenah Cepat
Meski Klaim Sukses, Angkutan Lebaran 2026 Sisakan Catatan: 300 Nyawa Melayang dan Lonjakan Penumpang Perlu Evaluasi
Status Siaga di Tol Cisumdawu, Retakan 100 Meter Direspons dengan Operasi Taktis
Lonjakan Penumpang Whoosh Tembus 224 Ribu, Lebaran 2026 Catat Rekor Baru

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 08:13 WIB

91 Persen BBM Habis di Transportasi, Kendaraan Pribadi Jadi Biang Utama

Rabu, 8 April 2026 - 12:14 WIB

KAI Services Soroti Penumpang Memaksa Masuk KRL Penuh di Manggarai, Keselamatan Jadi Prioritas

Senin, 6 April 2026 - 08:35 WIB

Dua Bulan Menggantung, Kasus Maut Matraman Tak Jelas Ujungnya

Senin, 6 April 2026 - 07:38 WIB

Alarm Keselamatan Bus Nasional, Hampir 60 Persen Perjalanan Langgar Aturan!

Jumat, 3 April 2026 - 11:11 WIB

Transportasi Publik Jadi Kunci Hadapi Krisis Energi, Pemerintah Diminta Berbenah Cepat

Berita Terbaru