JAKARTA – Pemerintah Kota Medan terus berupaya meningkatkan kualitas transportasi publik melalui modernisasi angkutan umum. Upaya ini ditandai dengan penggantian bus berbahan bakar diesel menjadi bus listrik yang lebih ramah lingkungan dan efisien.
Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, menilai langkah tersebut merupakan terobosan penting bagi masa depan transportasi di Medan.
“Sejak 22 November 2020, Kota Medan memulai perbaikan angkutan umum. Awalnya, modernisasi dilakukan dengan menggunakan bus diesel. Kini, Kota Medan terus berinovasi. Angkutan umum bus yang tadinya berbahan bakar diesel sudah diganti dengan bus listrik. Ini menjadi langkah besar bagi Medan untuk mewujudkan transportasi publik yang lebih ramah lingkungan dan modern,” kata Djoko, Minggu (28/9/2025).
Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Medan per Juli 2025, mayoritas warga Medan masih mengandalkan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor. Sebesar 95,12 persen perjalanan harian dilakukan dengan kendaraan pribadi, dengan 80,88 persen di antaranya menggunakan sepeda motor.
Sementara itu, pengguna transportasi umum hanya mencapai 4,8 persen. Setiap hari, terdapat sekitar 4,5 juta perjalanan internal dalam kota serta 600 ribu perjalanan komuter. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat setiap tahun, sehingga menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk mendorong masyarakat beralih ke angkutan umum.
Trans Metro Deli, Solusi Perjalanan Nyaman
Salah satu inovasi penting yang sudah berjalan adalah Trans Metro Deli, yang mulai beroperasi sejak 22 November 2020. Layanan ini merupakan bagian dari program Teman Bus yang dikelola Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan.
Dengan 72 armada yang melayani lima koridor utama, Trans Metro Deli menghubungkan Terminal Pinang Baris, Amplas, Belawan, Tuntungan, dan Tembung menuju pusat kota di Lapangan Merdeka. Pembayaran dilakukan secara non-tunai melalui aplikasi Teman Bus, QRIS, atau Tap Cash. Tarif yang berlaku sangat terjangkau, yakni Rp4.300 untuk umum dan Rp2.000 bagi pelajar dan penyandang disabilitas.
Era Bus Listrik: Medan untuk Semua
Puncak inovasi transportasi Medan ditandai dengan peluncuran Trans Medan Electric Bus pada 24 November 2024. Mengusung slogan “Medan untuk Semua”, bus listrik ini merupakan bagian dari rencana menuju sistem Bus Raya Terpadu (BRT) Mebidang yang ditargetkan beroperasi penuh pada 2027.
Saat ini terdapat 60 unit bus listrik yang melayani lima koridor sepanjang 173,6 km, dengan total 263 titik pemberhentian. Bus beroperasi mulai pukul 05.30 hingga 22.00 WIB.
Lima koridor utama tersebut mencakup:
Terminal Amplas – Terminal Pinang Baris (43 km, 73 halte)
J. City – Plaza Medan Fair (21 km, 41 halte)
Belawan – Lapangan Merdeka (53 km, 56 halte)
Tuntungan – Lapangan Merdeka (34,2 km, 56 halte)
Tembung – Lapangan Merdeka (22,4 km, 37 halte)
Ke depan, pemerintah akan mengembangkan 13 koridor sepanjang 561 km, termasuk rute yang menghubungkan Kota Medan dengan Binjai dan Kabupaten Deli Serdang.
Kapasitas dan Keterisian Penumpang
Data menunjukkan tingkat keterisian angkutan umum di Medan masih rendah. Angkutan kota konvensional rata-rata hanya memiliki keterisian 0,42 atau sekitar enam penumpang dari kapasitas 14 orang.
Sebaliknya, Trans Metro Deli menunjukkan performa lebih baik dengan tingkat keterisian rata-rata 52,23 persen. Sejak diluncurkan pada 2021 hingga November 2024, layanan ini telah mengangkut 14,65 juta penumpang.
Skema Pembiayaan dan Subsidi
Untuk mendukung operasional transportasi publik, pemerintah menerapkan skema pembiayaan yang bersumber dari tarif penumpang, iklan, serta penjualan ruang iklan pada badan bus (branding body bus).
Tarif yang berlaku menggunakan sistem flat rate, yakni Rp5.000 untuk masyarakat umum dan Rp2.500 untuk pelajar, lansia, ASN, TNI/Polri, serta pensiunan.
Namun, tarif tersebut belum menutupi biaya operasional, sehingga pemerintah daerah ikut memberikan subsidi. Pada 2025, APBD Kota Medan yang mencapai Rp7,44 triliun mengalokasikan Rp93 miliar khusus untuk subsidi lima koridor utama.
Selisih biaya operasional dan pendapatan akan ditanggung bersama:
Pemprov Sumut: 51 persen
Pemkot Medan: 40 persen (11 rute)
Pemkot Binjai: 4,5 persen (1 rute)
Pemkab Deli Serdang: 4,5 persen (1 rute)
Target 2027: 527 Armada dan 696 Halte
Pada 2027, BRT Mebidang ditargetkan memiliki 527 armada bus dan 696 halte dengan jalur khusus sepanjang 21 km serta 32 stasiun BRT.
Dengan modernisasi ini, Pemerintah Kota Medan berharap transportasi publik semakin diminati masyarakat sehingga dapat mengurangi kemacetan, polusi udara, dan ketergantungan pada kendaraan pribadi.
“Modernisasi angkutan umum bukan hanya soal mengganti bus lama dengan yang baru. Ini tentang membangun budaya baru dalam mobilitas masyarakat. Kota Medan sedang menuju masa depan yang lebih hijau dan terintegrasi,” tutup Djoko.
Penulis : lazir
Editor : ameri













