JAKARTA – Kisah cinta Emmanuel Macron dan Brigitte Trogneux bukan sekadar romansa politik, tapi sebuah naskah kehidupan yang dimulai dari dunia teater—panggung tempat mereka pertama kali jatuh cinta. Dunia yang penuh dialog, naskah, dan adegan itu menjadi saksi awal tumbuhnya hubungan tak biasa antara seorang remaja 15 tahun dan guru teaternya yang sudah menikah.
“Saya akan menikahi Anda suatu hari nanti,” kata Emmanuel muda kepada Brigitte, yang saat itu masih bernama Brigitte Auzière, dalam sebuah sesi latihan drama di kota Amiens, Prancis utara. Brigitte yang kala itu mengajar sastra dan teater di Collège La Providence hanya bisa tertawa—tapi juga terkesan.
Kisah itu bukan bualan. Bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada 2007, Emmanuel Macron yang kala itu berusia 29 tahun resmi menikahi Brigitte, perempuan yang 25 tahun lebih tua darinya. Pernikahan ini sempat mengundang kontroversi, bahkan ditentang keras oleh orang tua Emmanuel, yang sempat memaksa Brigitte menjauh sampai anak mereka berusia 18 tahun. Tapi cinta keduanya tetap bertahan.
“Sedikit demi sedikit, dia mengalahkan semua penolakan saya—dengan cara yang luar biasa dan penuh kesabaran,” kenang Brigitte dalam film dokumenter yang dirilis pada 2016. “Kami menulis drama bersama, dan saya justru terkesima oleh kecerdasannya. Ia bukan remaja biasa.”
Kini, di usia pernikahan yang telah berlangsung lebih dari 18 tahun, pasangan ini tetap terlihat mesra. Bahkan dalam momen-momen yang tak disengaja. Ketika Macron dan Brigitte tiba di Hanoi, Vietnam pada Minggu malam, 25 Mei 2025, kamera menangkap Brigitte mendorong lembut wajah suaminya sebelum turun dari pesawat. Video itu viral, namun Macron buru-buru menjelaskan: “Kami hanya bercanda. Ini sungguh dibesar-besarkan. Bahkan seperti bencana geo-planet,” katanya, dikutip dari France 24.
Kunjungan kenegaraan Macron ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia pada Selasa (27/5/2025) malam di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, kembali membawa pasangan ini ke hadapan publik, dan kisah cinta mereka pun kembali jadi perbincangan.
Dari panggung ke panggung, Brigitte dan Emmanuel Macron tetap menjaga harmoni seperti dua aktor utama yang tahu betul naskah kehidupan mereka. Macron, yang menjadi Presiden Prancis termuda kelima dalam sejarah pada usia 39 tahun, tak pernah ragu menunjukkan rasa hormat dan cintanya. “Tak seorang pun akan menganggap aneh jika perbedaan usia kami dibalik. Orang-orang hanya sulit menerima sesuatu yang tulus dan unik,” ujar Macron dalam satu wawancara.
Dunia teater memang bukan sekadar latar kisah cinta mereka. Teater adalah akar—tempat pertemuan dan tumbuhnya pemahaman. Prancis sendiri dikenal sebagai negara dengan warisan teater yang kuat. Teater Comédie-Française di Paris, misalnya, telah berdiri sejak 1680 dan menjadi rumah bagi karya-karya klasik seperti Molière, Racine, dan Corneille. Hingga kini, teater tetap menjadi bagian penting dalam pendidikan dan kebudayaan Prancis—dan di sanalah Emmanuel dan Brigitte menulis naskah cinta mereka sendiri.
Brigitte pun meninggalkan kehidupan lamanya—pernikahan pertama dan status ibu dari tiga anak—untuk bersama Macron. Mereka memang tak memiliki anak bersama, namun pasangan ini tetap tampak kuat menghadapi waktu dan sorotan publik.
Seperti dalam naskah drama yang ditulis dengan hati, perjalanan cinta mereka adalah cerita tentang keberanian, keteguhan, dan kesetiaan. Dan semuanya dimulai di panggung kecil, di sebuah kelas teater, di kota kecil bernama Amiens.
Penulis : lazir
Editor : ameri













