JAKARTA – Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) mengungkap praktik kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2025. Dari sesi 1 hingga sesi ke-12, ditemukan setidaknya 50 peserta yang terlibat kecurangan dengan melibatkan jaringan joki lintas provinsi.
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB, Prof. Eduart Wolok, menjelaskan bahwa mayoritas peserta yang menggunakan jasa joki ternyata memilih program studi di Fakultas Kedokteran. Hal ini sejalan dengan tren tahunan di mana kedokteran menjadi salah satu program studi paling diminati di berbagai perguruan tinggi negeri (PTN).
“Yang menarik dan sekaligus memprihatinkan, mayoritas pelaku kecurangan ini memilih Fakultas Kedokteran,” ungkap Eduart dalam konferensi pers di Auditorium Gedung Kemendikbudristek, Senayan, Jakarta, Selasa (29/4/2025).
UTBK SNBT 2025 sendiri dilaksanakan dalam satu gelombang, dimulai sejak 23 April hingga 5 Mei 2025. Seiring ketatnya persaingan, upaya curang tampaknya menjadi pilihan sebagian peserta untuk mengamankan bangku di PTN impian.
Menurut Eduart, pola pembayaran kepada joki biasanya dilakukan dalam dua tahap. “Peserta hanya membayar uang operasional di awal. Jika lulus, maka akan membayar penuh sesuai kesepakatan. Kalau tidak lulus, ya operasional tadi hangus,” ujarnya.
Panitia juga mengidentifikasi berbagai modus kecurangan, mulai dari penggunaan perangkat tersembunyi untuk merekam soal, pemalsuan identitas, hingga praktik perjokian langsung di dalam ruang ujian.
Beberapa metode yang digunakan antara lain:
Merekam layar komputer dengan aplikasi tersembunyi,
Memasang alat komunikasi di tubuh peserta untuk menerima jawaban dari luar,
Menggunakan perangkat remote untuk mengendalikan komputer peserta dari jarak jauh,
Pemalsuan dokumen dan manipulasi data akun SNPMB.
Dalam temuan yang dipaparkan, panitia menyebut terdapat 13 pusat UTBK yang terindikasi terjadi kecurangan. Salah satu kasus menonjol terjadi di Pusat UTBK Universitas Sumatera Utara (USU), di mana tujuh joki tertangkap tangan saat membantu 30 peserta.
Sementara di ISBI Bandung, nama joki bahkan sudah diketahui — Lukas Valentino Nainggolan — yang diduga menggantikan empat peserta.
Di lokasi lain seperti Universitas Jember (UNEJ), modus kecurangan semakin canggih. Eduart menjelaskan bahwa ada pihak internal yang memasang perangkat proxy di komputer peserta agar bisa terhubung dengan jaringan eksternal. “Perangkat itu disembunyikan dalam kardus printer di atas lemari,” jelasnya.
Salah satu bimbingan belajar (bimbel) di Yogyakarta juga tengah diselidiki karena diduga memobilisasi peserta untuk mengikuti UTBK dengan tujuan tertentu. Dugaan pertama, bimbel tersebut menyediakan joki. Dugaan kedua, mereka mengerahkan peserta untuk merekam soal sebagai bahan latihan tahun depan.
“Bimbel ini bahkan mengklaim semua pesertanya 100 persen lulus UTBK. Klaim itu cukup mencurigakan, mengingat Tes Potensi Skolastik menilai kemampuan skolastik individual peserta. Bagaimana bisa menjamin semua lulus?” ujar Eduart mempertanyakan.
Sejauh ini, dari hasil investigasi awal, ditemukan sekitar 4.000 anomali data peserta yang tengah dianalisis lebih lanjut. Meski belum bisa dipastikan apakah semua terkait bimbel di Yogyakarta, indikasi kuat mengarah ke sana.
Eduart menekankan pentingnya integritas dalam proses seleksi nasional ini. “Kami ingin fokus pada proses seleksi yang jujur dan berkualitas, bukan malah harus melawan kecurangan yang sistemik seperti ini,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan kepada peserta dan orang tua agar tidak tergoda menggunakan jasa ilegal. “Kalau tidak ada pasar, layanan joki ini tidak akan laku. Jadi semua pihak punya tanggung jawab moral,” tutup Eduart.
Penulis : lazir
Editor : ameri













