Guru Besar USU: Komunikasi Bunglon Jadi Strategi Politik Modern Pertahankan Kekuasaan

- Penulis

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik Universitas Sumatra Utara, Iskandar Zulkarnain (dok. adpiki)

Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik Universitas Sumatra Utara, Iskandar Zulkarnain (dok. adpiki)

BOGOR – Fenomena perubahan sikap dan retorika politik yang kerap muncul di ruang publik dinilai bukan sekadar dinamika biasa. Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik Universitas Sumatra Utara, Iskandar Zulkarnain, menyebut praktik tersebut kini berkembang menjadi strategi komunikasi yang sengaja digunakan demi menjaga legitimasi kekuasaan di tengah persaingan politik yang semakin kompleks.

Pandangan itu disampaikan Iskandar dalam simposium Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) di Bogor, Jawa Barat, Kamis, (7/5/2026).

Dalam presentasinya yang berjudul “Komunikasi Bunglon dalam Politik Modern: Kemunafikan sebagai Strategi Komunikasi dalam Mempertahankan Legitimasi Kekuasaan”, ia menjelaskan bahwa komunikasi politik memainkan peran besar dalam membangun dukungan publik melalui pembentukan narasi dan persepsi masyarakat.

“Komunikasi politik tidak hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga membangun legitimasi kekuasaan melalui narasi yang dapat diterima publik,” ujar Iskandar.

Iskandar menyebut, praktik politik modern kerap memperlihatkan jarak antara retorika moral dengan tindakan politik yang nyata. Kondisi itulah yang melahirkan fenomena political hypocrisy atau kemunafikan politik.

Iskandar menjelaskan, salah satu bentuk yang paling terlihat adalah “komunikasi bunglon”, yakni strategi menyesuaikan pesan politik kepada kelompok audiens yang berbeda demi mempertahankan dukungan politik.

“Strategi ini muncul sebagai respons terhadap tekanan multi-kepentingan dan persaingan politik dalam sistem demokrasi modern,” katanya.

Dalam model konseptual yang dipaparkannya, komunikasi bunglon menghasilkan retorika moral yang adaptif dan memengaruhi cara publik menilai konsistensi seorang politisi atau penguasa. Dampaknya bisa berbeda-beda, mulai dari memperkuat legitimasi kekuasaan dan stabilitas demokrasi, hingga memunculkan sinisme politik dan kemunduran demokrasi (democratic backsliding).

Ia menambahkan, praktik komunikasi bunglon sering dilakukan melalui strategic ambiguity, komunikasi digital yang ditargetkan pada kelompok tertentu, hingga perubahan retorika sesuai kepentingan politik yang sedang berkembang.

“Strategi ini bersifat adaptif karena politik modern menghadapi audiens yang sangat beragam,” ucapnya.

Meski demikian, Iskandar mengingatkan bahwa kemunafikan politik merupakan “pedang bermata dua”. Di satu sisi, strategi tersebut dapat membantu menciptakan kompromi politik, mengurangi konflik, dan menjaga kohesi sosial. Namun jika dilakukan secara berlebihan, dampaknya justru bisa merusak kepercayaan publik terhadap demokrasi.

“Ketika publik melihat adanya inkonsistensi dan manipulasi politik secara terus-menerus, maka kepercayaan terhadap institusi demokrasi bisa menurun,” jelasnya.

Menurut Iskandar, masyarakat masih dapat mentoleransi praktik semacam itu apabila pemerintah dinilai mampu menghadirkan kebijakan yang efektif dan berdampak nyata bagi publik. Karena itu, transparansi politik, akuntabilitas publik, serta pengawasan media dan masyarakat sipil menjadi elemen penting untuk mencegah manipulasi politik yang berlebihan.

Di akhir paparannya, Iskandar menegaskan bahwa komunikasi bunglon memang menjadi strategi adaptif dalam masyarakat yang plural. Namun, jika jurang antara retorika dan praktik politik semakin lebar, legitimasi kekuasaan pada akhirnya akan melemah seiring turunnya kepercayaan publik terhadap demokrasi.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Kemendikdasmen dan Kejaksaan Perkuat Pengawasan PIP 2026, Bantuan Pendidikan untuk 19,48 Juta Siswa
Kemenag Buka Beasiswa Akselerasi untuk Santri, S1 hingga S2 Bisa Tuntas 4 Tahun
Kemendikdasmen Tuntaskan Revitalisasi 576 Sekolah di NTT, Ribuan IFP Disalurkan untuk Digitalisasi Pembelajaran
Revitalisasi 72 Sekolah di Kalteng Diresmikan, Wamendikdasmen Dorong Pemerataan Pendidikan Berkualitas
Peringatan Hardiknas 2026 di MA Khomsani Nur: Upacara Meriah dengan Nuansa Kebhinekaan
Hardiknas 2026 di Banyuwangi Meriah, Ribuan Pelajar Tampil di Kuntulan Ewon
Ponpes Khomsani Nur Berangkatkan Dua Ustadz ke Kendari untuk Misi Dakwah, Ini Harapannya
Mendikdasmen Abdul Mu’ti Tinjau Latihan Paskibra Hardiknas 2026, Soroti Akses Pendidikan Merata

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:55 WIB

Guru Besar USU: Komunikasi Bunglon Jadi Strategi Politik Modern Pertahankan Kekuasaan

Kamis, 7 Mei 2026 - 16:57 WIB

Kemendikdasmen dan Kejaksaan Perkuat Pengawasan PIP 2026, Bantuan Pendidikan untuk 19,48 Juta Siswa

Kamis, 7 Mei 2026 - 07:40 WIB

Kemenag Buka Beasiswa Akselerasi untuk Santri, S1 hingga S2 Bisa Tuntas 4 Tahun

Kamis, 7 Mei 2026 - 06:52 WIB

Kemendikdasmen Tuntaskan Revitalisasi 576 Sekolah di NTT, Ribuan IFP Disalurkan untuk Digitalisasi Pembelajaran

Senin, 4 Mei 2026 - 17:11 WIB

Revitalisasi 72 Sekolah di Kalteng Diresmikan, Wamendikdasmen Dorong Pemerataan Pendidikan Berkualitas

Berita Terbaru