JAKARTA – Kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi kini terbuka lebih luas bagi kalangan santri. Di saat banyak peserta masih menanti hasil UTBK-SNBT 2026, Kementerian Agama menghadirkan jalur alternatif melalui program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) skema akselerasi yang memungkinkan santri meraih gelar sarjana hingga magister dalam waktu lebih singkat.
Program Sarjana Lanjut Magister (PSLM) menjadi skema akselerasi pertama yang dibuka dalam BIB 2026. Melalui program ini, peserta dapat menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 hanya dalam empat tahun atau 48 bulan masa studi.
Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Kementerian Agama, Ruchman Basori mengatakan, program tersebut dirancang untuk mempercepat lahirnya sumber daya manusia unggul dari lingkungan pesantren.
“Program ini membuka ruang baru bagi santri untuk menempuh jalur pendidikan tinggi yang lebih terakselerasi. Dalam empat tahun, peserta dapat menyelesaikan jenjang sarjana sekaligus magister,” ujar Ruchman di Jakarta, dikutip, Kamis (7/5/2026).
Ia menilai, skema akselerasi ini menjadi bentuk afirmasi sekaligus penguatan akses pendidikan tinggi bagi lulusan pesantren agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Pada tahun pertama pelaksanaannya, peserta yang lolos seleksi akan menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya pada program studi Bahasa dan Sastra Arab mulai Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027.
Sementara itu, Ketua Tim Beasiswa Pendidikan Tinggi Keagamaan, Siti Maria Ulfa menjelaskan, pendaftaran program dibuka sejak 1 April hingga 31 Mei 2026 dan diprioritaskan khusus bagi santri.
“Program ini memang diprioritaskan untuk lulusan pesantren yang berada dalam binaan Kementerian Agama dan memenuhi persyaratan administratif maupun akademik,” jelasnya.
Menurut Siti Maria Ulfa, kategori santri yang dapat mengikuti program ini meliputi lulusan pondok pesantren terdaftar yang memiliki Nomor Statistik Pondok Pesantren (NSPP), termasuk lulusan Pendidikan Diniyah Formal, Satuan Pendidikan Muadalah, PKPPS, hingga MA, SMA, atau SMK berbasis pesantren.
Adapun syarat utama peserta antara lain Warga Negara Indonesia, berusia maksimal 20 tahun per 31 Desember tahun pendaftaran, lulusan tiga tahun terakhir (2024–2026), serta belum pernah atau sedang menempuh pendidikan sarjana.
Peserta juga wajib terdaftar dalam sistem Education Management Information System (EMIS) Kementerian Agama, melampirkan rekomendasi dari pesantren asal, dokumen akademik, surat kesehatan, personal statement, rencana kontribusi pascastudi, hingga sertifikat kemampuan Bahasa Arab dengan skor minimal TOAFL 500.
Selain menjadi alternatif bagi santri yang masih menunggu hasil UTBK-SNBT, program ini juga menawarkan jalur percepatan studi dengan sistem akademik yang lebih terstruktur dan efisien.
Penulis : guntar
Editor : gunawan tarigan













