JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, secara resmi memberikan penghargaan kepada sepuluh guru berprestasi dalam ajang Science Education Award 2024 yang diselenggarakan Indonesia Toray Science Foundation (ITSF).
Acara tahunan ini, yang memasuki tahun ke-15, mencatat rekor partisipasi dengan 1.235 pendaftar dari seluruh Indonesia, mencakup tiga kategori: Programme Science and Technology Award, Science and Technology Research Grant, dan LScience Education Award.
Dalam sambutannya di Ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta, Mu’ti menegaskan pentingnya kolaborasi pemerintah-swasta dalam memajukan pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
“ITSF bukan sekadar mitra, tetapi pionir dalam membuka jalan bagi ekosistem riset dan inovasi pendidikan. Selama 15 tahun, lebih dari 300 guru dan peneliti telah mendapat dukungan dana riset dan apresiasi. Ini adalah bukti nyata sinergi untuk SDM unggul,” ujarnya di hadapan 500 tamu undangan, termasuk perwakilan Kemenristek, akademisi, dan pelaku industri.
Mu’ti menekankan bahwa transformasi pendidikan STEM harus dimulai dari peningkatan kapasitas guru.
“Tantangan era digital menuntut guru tidak hanya menguasai konten, tetapi juga metodologi kreatif. Misalnya, menggunakan AI untuk simulasi fisika atau eksperimen virtual berbasis IoT. Guru inovatif adalah kunci membangun critical thinking* siswa,” paparnya.
Data Kemendikdasmen mencatat, hanya 34% guru sains di Indonesia yang telah terlatih dalam pendekatan STEM terintegrasi, sehingga program pelatihan bersama ITSF menjadi prioritas tahun 2024.
Daftar Pemenang Science Education Award 2024
Sepuluh guru yang berhasil menyisihkan ratusan pesaing menerima trophy, sertifikat, dan dana pengembangan riset sebesar Rp 75 juta per orang. Berikut daftar lengkap pemenang beserta inovasi mereka:
1. Adryansyah Abraham (SMA Swasta Kristen Immanuel, Kalbar) – *Robotik Pemantau Kebakaran Hutan Berbasis Sensor Gas.
2. Ayuk Ratna Puspaningsih (SMA Negeri Bali Mandara) – Modul Pembelajaran Bioteknologi dengan Bahan Lokal Bali.
3. Dewi Suryana (SMA Avicenna Cinere Depok, Jabar) – Aplikasi “ChemAR” untuk Visualisasi 3D Molekul via Augmented Reality.
4. Haryanti** (SMA Negeri 6 Palopo, Sulsel) – *Eksperimen Low-Cost: Konversi Limbah Kulit Kakao menjadi Bioplastik.
5. Herlina Tumiur Ritonga (SMP Negeri 1 Sidikalang, Sumut) – Kotak Hitung Matematika Interaktif untuk Siswa Disabilitas.
6. Maisaroh (MTs Darul Fikri Ponorogo, Jatim) – Pembelajaran Astronomi melalui Observatorium Mini Berbahan Daur Ulang.
7. Nurlela Ramadani Marpaung (SMA Negeri 2 Bandar, Sumut) – *Teknik Fermentasi Sampah Organik menjadi Pupuk Cair dengan Mikroba Lokal*.
8. Rachma Indah Kurnia (SMA Negeri Kedungadem, Jatim) – Simulasi Mitigasi Bencana Gempa via Game Digital “EarthGuardian”.
9. Risat Kasiang** (SMA Negeri 6 Halmahera Utara, Malut) – Pemanfaatan Tanaman Endemik Halmahera sebagai Sumber Energi Alternatif.
10. Tsaniyah Nur Kholifah** (MAN 2 Kota Malang, Jatim) – Karya Tulis “Integrasi Filsafat Islam dan Sains Modern” untuk Kurikulum Madrasah*.
Komitmen ITSF untuk Pendidikan Indonesia
Direktur ITSF, Hiroaki Takeda, dalam wawancara eksklusif menyatakan, “Tahun ini, kami meningkatkan total dana hibah riset menjadi Rp 12 miliar. Selain guru, kami juga mendanai 25 proposal peneliti muda di bidang material science dan renewable energy.”
Sejak 2009, ITSF telah menginvestasikan Rp 178 miliar untuk pengembangan sains di Indonesia.
Menutup acara, Mu’ti mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat ekosistem riset. “Mari kita ubah paradigma: dari guru sebagai pengajar menjadi guru sebagai ilmuwan. Setiap kelas harus menjadi laboratorium inovasi!” serunya, disambut tepuk tangan meriah. ***
Penulis : lazir
Editor : ameri













