JAKARTA – Nyanyian tersangka perkara korupsi tata kelola program makan bergizi gratis (MBG) Sonny Sonjaya potensi memukul Presiden Prabowo Subianto. Pasalnya, Sonny yang belatar belakang polisi mengaku memiliki informasi keterlibatan orang kuat dalam program ambisius Presiden Prabowo itu.
Seorang sumber mengungkapkan, Sonny yang menyandang tersangka selaku Wakil Kepala BGN sudah siap buka-bukaan kepada penyidik, sejak awal ditangkap di Hotel Ritz Charlton, Jakarta, pada Rabu (3/6) pagi. Dia menyampaikan hal itu di dalam mobil ketika dibawa ke Gedung Bundar, Jampidsus, Kejagung, untuk diperiksa dan ditahan.
“Menurutnya ada informasi (keterlibatan) orang penting yang Presiden Prabowo saja segan dengan sosok itu,” kata sumber, di Jakarta, Jumat (19/6) malam.
Sonny yang pernah menjabat Direktur Reserse Kriminal Umum dan Direktur Reserse Kriminal Khusus serta sejumlah jabatan penting di Polri menjadi pimpinan BGN pada Januari 2025. Ketika itu Sony menjabat Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II. Selain mengurus operasional teknis pemenuhan gizi nasional, Sonny memimpin Tim Verifikasi BGN, hingga pada September 2025 dilantik Presiden Prabowo sebagai Wakil Kepala BGN.
Sumber itu melanjutkan, Sonny merasa memiliki banyak kartu karena ikut membangun sistem IT sejak awal BGN berdiri. Dia tahu aliran dana dan yayasan-yayasan fiktif. “Dia merasa mengetahui aliran dana dan siapa-siapa yang menikmati korupsi MBG,” ungkapnya.
Ketika ditangkap, Sonny mengaku rela menyandang status tersangka asalkan tidak terjadi lokalisir perkara. Dirinya siap membongkar dengan syarat pimpinan Kejagung berani memberi perlindungan. Sonny diketahui pula mengajukan menjadi pelaku yang bekerja sama (justice collaborator/JC) untuk mengungkap bobroknya program MBG.
Sekalipun begitu, Sonny memilih menyimpan rapat-rapat ketika ditanya penyidik siapa sosok-sosok yang dimaksud. “Atasan mu saja yang periksa saya,” kata sumber mengulangi ucapan Sonny.
Penangkapan
Sonny diagendakan ditangkap pada dini hari, namun terbentur prosedur hotel hingga penangkapan baru dilakukan pada pagi hari. Sonny menginap bersama istri. Ada pula ajudan yang ikut mengawal. Proses penangkapan berlangsung lancar karena Sonny bersikap kooperatif ketika dijemput dari kamar hotel.
Dalam perkembangan perkara korupsi MBG, Kejagung sudah menersangkakan 6 orang. Malahan penyidik sudah menggeledah dan menyita alat bukti dari ruang kerja Dadan Hindayana selaku Kepala BGN.
Penyidik menangkap Dadan Hindayana dan Lodewijk Pusung (Wakil Kepala BGN) pada hari yang sama ketika Sonny ditangkap. Dadan dijemput dari kediaman di kawasan Sentul, Bogor, Jabar. Sedangkan Lodewijk ditangkap di kediaman nya di kawasan Utan Kayu, Jaktim.
Belakangan penyidik turut menjerat Asep Yusuf Somantri, Andrew Mulyono dan Glory Harimas Sihombing. Dari seluruh tersangka, hanya Sonny yang memberi sinyal berani buka-bukaan mengungkap korupsi MBG. Semula muncul informasi Sonny mengungkap 26 nama yang kini bertambah menjadi 41 nama.
Siapa saja nama-nama yang dimaksud belum diungkap secara rinci oleh Kejagung maupun pihak Sonny. Termasuk mengenai orang kuat yang diklaim Sonny. Beredarnya nama-nama keterlibatan politisi menggangsir program MBG, masih menjadi teka-teki. Begitu pula klaim Sonny adanya keterkaitan orang kuat yang potensi membuat geger republik.
Jampidsus Febrie Adriansyah belum berbicara banyak mengenai pengungkapan perkara ini. Ketika disinggung mengenai status Nanik S Deyang kolega Dadan, Sonny dan Lodewijk yang kini malah menjabat Kepala BGN, Febrie menilai belum ada kaitan.
Nanik yang dikenal sebagai loyalis Prabowo disebut-sebut memiliki yayasan mengurus MBG. Nanik muncul dalam puluhan nama yang dituding Sonny ikut menikmati MBG. Nama-nama tersebut belum diagendakan untuk diperiksa penyidik.
Kendati begitu, Jampidsus Febrie mengatakan terbuka bagi penyidik melakukan pengembangan untuk mengungkap pihak-pihak lain. “Saat ini kami masih konsentrasi menindaklanjuti perkara terhadap orang‑orang yang sudah ditahan,” kata Febrie kepada wartawan, di Kantor Badan Pemulihan Aset, Jakarta, Senin (15/6).
“Baik itu pengembangan alat bukti maupun meneliti kemungkinan keterlibatan pihak lain,” sambung Febrie. (WIN)












