Kenaikan Harga Energi Picu Risiko Penyimpangan, FKBI Minta Pengawasan Diperketat

- Penulis

Sabtu, 25 April 2026 - 08:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tulus Abadi (dok. pribadi)

Tulus Abadi (dok. pribadi)

JAKARTA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan gas elpiji dinilai berpotensi memicu berbagai perilaku menyimpang di lapangan. Pegiat perlindungan konsumen sekaligus Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, menilai kondisi ini perlu diantisipasi secara serius oleh seluruh pemangku kepentingan.

Kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo dan Pertamina Dex, serta elpiji ukuran 5,5 kg dan 12 kg, menurut Tulus, tidak terlepas dari tekanan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut berdampak langsung terhadap pasokan dan harga minyak mentah dunia, yang kemudian merembet pada harga komoditas energi di dalam negeri.

“Keniscayaan ini sulit dihindari, mengingat sekitar 60 persen kebutuhan energi nasional masih bergantung pada impor,” ujar Tulus, Sabtu (25/4/2026).

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa lonjakan harga tersebut menciptakan kesenjangan yang semakin lebar antara energi subsidi dan non-subsidi. Disparitas harga ini dinilai berpotensi mendorong munculnya perilaku anomali di masyarakat.

“Selisih harga yang makin lebar bisa memicu berbagai penyimpangan, mulai dari konsumen, pengecer, sub-agen, agen, hingga oknum di SPBU,” katanya.

Untuk itu, Tulus menegaskan pentingnya langkah mitigasi yang terkoordinasi. Ia mendorong aparat penegak hukum, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pemerintah daerah, hingga PT Pertamina (Persero) untuk mengambil peran aktif dalam pengawasan.

“Pertama, aparat penegak hukum seperti kepolisian dan kejaksaan harus proaktif melakukan pengawasan di lapangan, tidak hanya menunggu laporan masyarakat. Pelanggaran harus ditindak tegas dengan sanksi berat agar menimbulkan efek jera,” tegasnya.

Di sisi lain, Pertamina juga diminta tidak ragu menjatuhkan sanksi administratif dan perdata kepada mitra yang terbukti melakukan pelanggaran.

“Pertamina harus bertindak tegas, termasuk mencabut izin operasi SPBU, agen, atau sub-agen yang terlibat praktik penyelewengan seperti penyelundupan atau pengoplosan,” lanjutnya.

Tulus juga mengingatkan masyarakat, khususnya kalangan mampu pengguna BBM non-subsidi dan elpiji 5,5 kg serta 12 kg, agar tidak beralih menggunakan energi bersubsidi.

“Perpindahan tersebut pada titik tertentu bukan hanya tidak etis, tetapi juga bisa dikategorikan sebagai tindakan amoral, karena mengambil hak kelompok masyarakat yang lebih membutuhkan,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menilai pemerintah perlu mengevaluasi kebijakan subsidi energi agar lebih tepat sasaran dan tidak membebani anggaran negara.

“Pemerintah sebaiknya tidak kekeuh mempertahankan harga BBM bersubsidi jika pada akhirnya berpotensi membebani ketahanan fiskal atau APBN. Tidak adil jika harga BBM non-subsidi terus melambung, sementara subsidi justru dinikmati oleh pengguna kendaraan pribadi yang mayoritas tidak tepat sasaran,” pungkasnya.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Proyek Rp9,56 Miliar Hampir Rampung, Madrasah di Papua Segera Lebih Layak
AHY Tinjau Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja–Solo, Dorong Pemerataan Pembangunan di DIY
Nusron Wahid Tekankan Pelayanan ATR/BPN Harus Pro Rakyat, Jangan Persulit Masyarakat di Riau
KSPI Apresiasi UU PPRT, Desak Pembahasan RUU Ketenagakerjaan Lebih Transparan
Pajak Kendaraan Didorong Lebih Adil, Insentif Listrik Jadi Kunci Transportasi Hijau
Irma Suryani: RUU Ketenagakerjaan Baru Harus Seimbang untuk Pekerja dan Pengusaha
Kemnaker Gelontorkan Rp32,2 Miliar untuk Pulihkan Ekonomi Korban Bencana di Sumut dan Aceh
MUI Kritik Cara Pembasmian Ikan Sapu-Sapu di Jakarta: Manfaat Ada, Tapi Dinilai Menyiksa

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 08:20 WIB

Kenaikan Harga Energi Picu Risiko Penyimpangan, FKBI Minta Pengawasan Diperketat

Sabtu, 25 April 2026 - 07:44 WIB

Proyek Rp9,56 Miliar Hampir Rampung, Madrasah di Papua Segera Lebih Layak

Jumat, 24 April 2026 - 16:56 WIB

AHY Tinjau Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja–Solo, Dorong Pemerataan Pembangunan di DIY

Kamis, 23 April 2026 - 09:29 WIB

Nusron Wahid Tekankan Pelayanan ATR/BPN Harus Pro Rakyat, Jangan Persulit Masyarakat di Riau

Rabu, 22 April 2026 - 18:30 WIB

KSPI Apresiasi UU PPRT, Desak Pembahasan RUU Ketenagakerjaan Lebih Transparan

Berita Terbaru