JAKARTA – Sebanyak 41 ribuan peserta terpilih mengikuti Pemagangan Nasional (MagangHub) Batch II Angkatan 2. Mereka menjadi bagian dari program pemerintah yang dirancang untuk menjembatani lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja.
Kick off program tersebut digelar di Gedung Vokasi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 44, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan, jumlah pendaftar program tersebut mencapai sekitar 350 ribu orang. Setelah melalui proses seleksi dan verifikasi, hanya sekitar 41 ribu peserta yang dinyatakan lolos.
“Selamat kepada adik-adik yang sudah diterima. Kalian sudah dipilih oleh perusahaan atau instansi tempat magang setelah melalui proses verifikasi dari Kementerian Ketenagakerjaan,” kata Yassierli.
Menurut dia, perusahaan maupun instansi tidak otomatis bisa membuka lowongan dalam program MagangHub. Setiap usulan lowongan terlebih dahulu diperiksa untuk memastikan tempat magang benar-benar layak bagi peserta.
“Kalau administrasinya tidak lengkap, posisi dan deskripsinya tidak jelas, atau bahkan alamat perusahaannya tidak sesuai, kami coret. Kami ingin memastikan tempat adik-adik magang adalah tempat yang benar dan siap menjadi ruang untuk bertumbuh,” ujarnya.
Kemnaker, lanjut Yassierli, bahkan melakukan pengecekan lokasi perusahaan untuk memastikan keberadaan dan kelayakan tempat magang. Perusahaan yang sebelumnya memiliki rekam jejak baik dalam program pemagangan juga menjadi salah satu pertimbangan dalam proses seleksi.
Selain tempat magang, kesesuaian posisi dengan latar belakang pendidikan peserta turut diperiksa. Yassierli menegaskan, posisi yang ditawarkan harus memberikan ruang bagi peserta untuk mengembangkan kompetensi, bukan sekadar menempatkan mereka pada pekerjaan yang tidak sesuai.
“Karena itu tema kita adalah ready to grow, ready to work. Kita ingin program ini benar-benar memberikan manfaat terbaik bagi anak-anak bangsa,” katanya.
Yassierli menjelaskan, MagangHub merupakan program yang diarahkan langsung Presiden dan dilaksanakan melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga.
Selain Kemnaker, program tersebut mendapat dukungan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Kementerian Sekretariat Negara, Sekretariat Kabinet, BPJS Ketenagakerjaan, serta berbagai mitra lainnya.
Peserta akan menjalani pemagangan selama enam bulan. Selama periode tersebut, mereka juga mendapatkan perlindungan jaminan kecelakaan kerja dan kematian melalui BPJS Ketenagakerjaan.
“Enam bulan adik-adik magang sudah mendapatkan jaminan perlindungan kecelakaan kerja dan kematian. Tetapi tentu bukan berarti karena sudah mendapat jaminan, magangnya bisa seenaknya,” ujar Yassierli.
Perusahaan penerima peserta juga diwajibkan menyiapkan mentor untuk membimbing peserta selama menjalani pemagangan.
Setelah menyelesaikan program, peserta akan memperoleh sertifikat magang dan dapat mengikuti uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat kompetensi melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Semua proses itu anggarannya sudah disiapkan pemerintah. Jadi gratis. Selama enam bulan, adik-adik bisa mendapatkan pengalaman, skill bertambah, kompetensi bertambah, portofolio bertambah, jejaring bertambah, dan sertifikat,” kata Yassierli.
Yassierli meminta peserta tidak memandang enam bulan pemagangan hanya sebagai pengalaman sementara. Ia justru berharap peserta mampu menjadikan masa tersebut sebagai pintu masuk menuju dunia kerja.
Menurut dia, keberhasilan program tidak berhenti ketika peserta mendapatkan sertifikat magang. Target yang lebih besar adalah peserta mampu memperoleh kepercayaan perusahaan sehingga berpeluang mendapatkan tawaran pekerjaan.
“Saya ingin enam bulan lagi adik-adik sudah mendapatkan accepted letter dari perusahaan. Bisa dari tempat magangnya atau dari perusahaan lain,” katanya.
Ia mencontohkan, perusahaan yang sudah mengenal kemampuan peserta selama enam bulan akan memiliki pertimbangan berbeda ketika membuka kesempatan kerja.
“Daripada mencari orang lain, sudah enam bulan mereka kami latih, sudah enam bulan mereka mengenal perusahaan kita. Untuk apa mencari orang lain?” ujar Yassierli.
Karena itu, Yassierli membagikan tiga hal yang menurutnya penting bagi peserta untuk membangun kepercayaan selama magang, yakni kemauan belajar, memberikan kontribusi, dan memiliki integritas.
“Pertama, siap belajar. Kedua, memiliki kontribusi atau memberikan value bagi perusahaan. Ketiga, punya track record yang membuat kita bisa dipercaya dan diandalkan,” tuturnya.
Yassierli juga mengingatkan peserta agar tidak merasa hanya mampu mengerjakan pekerjaan yang sesuai persis dengan jurusan kuliah.
Perubahan dunia kerja yang cepat membuat perusahaan membutuhkan pekerja dengan kemampuan lintas bidang. Karena itu, peserta dituntut memiliki growth mindset atau pola pikir yang terbuka untuk terus belajar.
“Jangan menjadi orang yang punya fixed mindset dengan mengatakan, ini bukan bidang saya, dulu saya S1-nya ini, saya hanya bisa melakukan ini. Itu bukan jawaban seorang pembelajar,” katanya.
Ia juga meminta peserta memperkuat kemampuan mendengar. Menurutnya, peserta magang harus memahami konteks pekerjaan sebelum mengambil tindakan.
“Gunakan the power of listening. Dengarkan, pahami, klarifikasi, baru kemudian lakukan. Jangan hanya menunggu mentor mengatakan apa yang harus dikerjakan,” ujar Yassierli.
Selain itu, peserta diminta mampu melihat persoalan secara lebih luas. Pekerjaan, kata dia, bukan semata-mata menyelesaikan tugas, tetapi juga memahami tujuan dan nilai yang ingin diberikan kepada perusahaan atau masyarakat.
“Kerja itu sebenarnya problem solving, memecahkan masalah. Lihat masalahnya dan selesaikan,” katanya.
Kemampuan komunikasi juga menjadi bekal penting. Peserta diminta menyampaikan perkembangan pekerjaan, kendala, maupun kebutuhan bantuan secara jelas dan tepat waktu.
“Jangan menunggu ditanya bagaimana progresnya, apa kendalanya, baru menjawab. Sampaikan dari awal dan lakukan dengan respect,” kata Yassierli.
Ia juga meminta peserta tidak alergi terhadap kritik. Menurutnya, masukan dari mentor selama pemagangan justru merupakan kesempatan belajar yang tidak selalu didapatkan di bangku kuliah.
“Feedback itu free coaching. Berbahagialah kalau ada feedback. Artinya ada orang yang mau mengoreksi dan membantu kita menjadi lebih baik,” ujarnya.
Program MagangHub juga membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas. Yassierli menyebut terdapat sekitar 30 peserta penyandang disabilitas pada Batch II Angkatan 2.
Ia menegaskan, pemerintah ingin pemagangan menjadi ruang yang inklusif sekaligus memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengembangkan kompetensi sesuai potensinya.
Pada akhirnya, Yassierli berharap enam bulan pemagangan dapat menjadi investasi penting bagi peserta sebelum memasuki dunia kerja.
“Magang ini didesain untuk menjadi transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja. Ada kesenjangan keterampilan antara lulusan dan kebutuhan industri, dan magang hadir untuk menjembatani itu,” katanya.
Dengan dukungan anggaran pemerintah sekitar Rp4,2 triliun, program tersebut ditargetkan menjadi bagian dari upaya menyiapkan sekitar 150 ribu talenta muda agar lebih siap memasuki dunia kerja.
“Enam bulan ini adalah investasi yang luar biasa. Kita berharap 150 ribu adik-adik yang mengikuti program magang ini bisa menjadi talenta unggul Indonesia berikutnya,” ujar Yassierli.
Penulis : lazir
Editor : ameri






