JAKARTA – Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengajak anak-anak Indonesia untuk kembali mengenal dan memainkan permainan tradisional sebagai bagian dari pembentukan karakter sekaligus upaya menjaga warisan budaya bangsa.
Ajakan itu disampaikan saat menghadiri Festival “Generasi Berani Exploring – Biarkan Mereka Berlari” di The CIBIS Business Park, Jakarta Selatan, dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional 2026.
Festival yang digagas Betadine Indonesia tersebut menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, tenaga kesehatan, pendidik, media, hingga keluarga untuk menciptakan ruang bermain yang sehat bagi anak. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan anak di era digital dengan mengedepankan pendekatan budaya.
Beragam aktivitas edukatif disuguhkan dalam festival tersebut, mulai dari diskusi publik, olahraga keluarga, permainan edukatif, hingga peluncuran Buku Saku Inspirasi Aktivitas Anak dan Keluarga. Buku itu dirancang sebagai panduan bagi orang tua untuk menghadirkan aktivitas positif di luar penggunaan gawai, sehingga anak-anak dapat lebih aktif bergerak, berinteraksi, dan mengembangkan kreativitas.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan tersebut, Kementerian Kebudayaan menggandeng Komunitas Hong menghadirkan berbagai permainan tradisional untuk anak usia 5 hingga 8 tahun. Permainan seperti congklak, bekel, gasing, dam-daman, kelom batok, ular naga, ampar-ampar pisang, cublek-cublek suweng, hingga cing ciripit diperkenalkan kembali sebagai media belajar yang menyenangkan sekaligus sarana pewarisan nilai-nilai budaya.
Dalam sambutannya, Fadli Zon menegaskan bahwa permainan tradisional merupakan bagian dari objek Pemajuan Kebudayaan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017.
“Permainan tradisional merupakan salah satu objek Pemajuan Kebudayaan yang harus terus kita hidupkan. Di tengah perkembangan teknologi digital, anak-anak tetap memerlukan ruang untuk bermain, berinteraksi, belajar bekerja sama, dan mengenal nilai-nilai luhur bangsa melalui pengalaman nyata,” kata Fadli Zon, Sabtu (25/7/2026)
Menurutnya, Indonesia memiliki ribuan permainan tradisional yang lahir dari keberagaman budaya di berbagai daerah. Kekayaan tersebut perlu didokumentasikan, diregistrasi, dan diperkenalkan kembali kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.
“Kementerian Kebudayaan tengah mengembangkan berbagai langkah untuk mendokumentasikan, meregistrasi, serta memperkenalkannya kembali kepada masyarakat, termasuk melalui rencana pengembangan Museum Permainan Tradisional Indonesia. Kolaborasi yang kita lakukan hari ini menjadi langkah penting agar anak-anak kembali akrab dengan permainan yang membentuk karakter, kejujuran, kebersamaan, dan semangat gotong royong,” ujar Fadli.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menilai perlindungan anak di ruang digital harus dibarengi dengan penyediaan ruang bermain yang mendorong pengalaman nyata bagi anak.
“Kita ingin menghadirkan generasi yang tumbuh melalui pengalaman, bukan hanya dari layar digital. Karena itu, perlindungan di ruang digital harus dibarengi dengan semakin banyak kesempatan bagi anak-anak untuk bermain, bergerak, berinteraksi, dan mengenal budaya lokal yang menjadi bagian dari pembentukan karakter mereka,” tutur Meutya.
Pada kesempatan yang sama juga diluncurkan Buku Saku Inspirasi Aktivitas Anak dan Keluarga yang disusun bersama komunitas orang tua, pendidik, tenaga kesehatan, dan pemerhati tumbuh kembang anak. Buku tersebut memuat berbagai ide aktivitas keluarga yang dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap layar digital.
Melalui pendekatan edukatif, interaktif, dan menyenangkan, festival ini diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi digital dengan aktivitas fisik dan interaksi sosial yang penting dalam proses tumbuh kembang anak. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS).
Sejumlah pejabat dan tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Vivi Alida Yahya, Kepala BPSDM Komunikasi dan Digital Bonifasius Wahyu Pudjianto, Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital Rizki Amelia, dokter spesialis anak Rini Sekartini, Direktur Pengembangan Bisnis PT Kimia Farma Apotek Satria Bakti, serta Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra.
Menutup sambutannya, Fadli Zon berharap sinergi lintas sektor dalam menghadirkan ruang bermain yang aman dan sarat nilai budaya terus diperkuat.
“Menghidupkan kembali permainan tradisional bukan sekadar menjaga warisan budaya, tetapi juga investasi jangka panjang untuk membentuk generasi Indonesia yang berkarakter, kreatif, tangguh, serta mencintai budayanya sendiri sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Penulis : lazir
Editor : ameri






