JAKARTA – Tidak semua pengalaman manusia bisa diceritakan lewat kata-kata. Sebagian justru menetap di tubuh, menjadi ingatan yang samar, tetapi terus muncul dalam gerak, suara, maupun cara seseorang merespons kehidupan.
Gagasan itulah yang menjadi pijakan pertunjukan Kebun Hantu, sebuah karya panggung yang menelusuri pengalaman para aktor melalui apa yang disebut sebagai arsip tubuh.
Pertunjukan ini mencoba melihat bagaimana pengalaman kerja, ingatan, dan peristiwa masa lalu dapat berubah menjadi bahasa artistik di atas panggung. Ketika kata-kata tidak lagi cukup untuk menjelaskan sebuah pengalaman, tubuh menjadi medium untuk mengungkapkannya.
“Arsip tubuh menyimpan pengalaman yang tidak selalu dapat diingat atau diceritakan kembali melalui kata-kata. Namun, pengalaman itu terus menetap sebagai semacam hantu di dalam diri,” demikian gagasan yang melandasi pertunjukan tersebut.
Dalam proses penciptaannya, para aktor membawa arsip tubuh masing-masing untuk menemukan bentuk, suara, gerak, hingga kemungkinan bahasa baru. Hantu dalam pertunjukan ini bukan sosok menyeramkan, melainkan metafora bagi residu pengalaman yang masih tertinggal dan terus “gentayangan” di dalam tubuh.
Kebun Hantu juga tidak menyajikan cerita dengan alur linear. Penonton justru diajak memasuki lanskap pengalaman yang terpecah, ketika ingatan, tubuh, bahasa, dan teknologi saling berkelindan.
Melalui pendekatan tersebut, pertunjukan ini mengajak penonton mempertanyakan apa yang sebenarnya disimpan oleh tubuh, apa yang hilang ketika pengalaman diterjemahkan menjadi bahasa, serta bagaimana sebuah peristiwa dapat terus hidup meski waktu telah berlalu.
Pertunjukan Kebun Hantu akan digelar pada 12–13 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Pertunjukan ini disutradarai sekaligus ditulis oleh Roy Julian dan merupakan proyek kolaborasi kantorteater dan trippicandid.
Para aktor yang terlibat yakni Bambang Wahyudin, Badri, Parulian, Marina Novianti, Jean Marais, Yuli Goplumb, dan Roy Julian.
Sementara itu, Ega Alamsjah dipercaya sebagai artistic director, Ipoer Wangsa sebagai stage director, Mamedz Slasov sebagai lighting designer, dan Imam Maulana sebagai sound designer.
Produksi ini juga melibatkan Iqbal Rahim sebagai assistant director serta Astridips dan Arie Toskir sebagai assistant producer.
Penulis : lazir
Editor : ameri






