JAKARTA – Pemerintah mempercepat program restorasi dan revitalisasi Kompleks Candi Prambanan sebagai bagian dari upaya memperkuat pelestarian warisan budaya nasional sekaligus mendorong sektor pariwisata. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, pemerintah menargetkan sebanyak 218 candi perwara di Kompleks Candi Prambanan dapat direstorasi secara bertahap dan semaksimal mungkin sebelum 2029.
Program tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto agar salah satu situs warisan dunia UNESCO itu semakin terawat dan mampu menjadi magnet wisata budaya maupun wisata religi di tingkat internasional.
“Dari total 224 candi perwara di Kompleks Candi Prambanan, sebanyak 218 candi akan direstorasi. Ini merupakan pekerjaan besar yang kami lakukan secara bertahap agar seluruh kawasan Prambanan semakin utuh dan terawat,” kata Fadli Zon Fadli Zon dalam taklimat media di lobi Gedung E, Kemenbud, Kamis (23/7/2026).
Ia menjelaskan, sekitar seperempat atau kurang lebih 54 candi perwara akan direstorasi melalui kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah India. Sementara sekitar tiga perempat sisanya akan dikerjakan secara mandiri oleh Indonesia.
“Sebagian restorasi akan dikerjakan bersama Pemerintah India sebagai bentuk kerja sama budaya kedua negara. Sedangkan sisanya akan kita kerjakan sendiri sesuai arahan Presiden Prabowo agar penyelesaiannya bisa dimaksimalkan sebelum tahun 2029,” ujarnya.
Teknologi AI Percepat Restorasi Candi Prambanan
Menurut Fadli, proses restorasi satu candi perwara umumnya membutuhkan waktu antara satu hingga dua tahun. Karena itu, pemerintah akan memadukan metode konservasi tradisional dengan pemanfaatan teknologi modern berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
“Selama ini restorasi dilakukan dengan metode susun coba, yaitu mencocokkan batu satu per satu. Ke depan kami juga akan menggunakan teknologi pemindaian berbasis AI untuk memetakan posisi batu secara lebih presisi sehingga proses restorasi bisa berlangsung lebih cepat tanpa mengurangi kaidah konservasi,” jelasnya.
Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat mempercepat penyusunan ribuan batu candi yang selama puluhan tahun masih tersimpan di kawasan konservasi.
Selain Prambanan, pemerintah juga akan melakukan revitalisasi sejumlah kawasan cagar budaya lainnya. Fadli mengungkapkan, Candi Sewu nantinya akan memiliki akses masuk tersendiri sehingga pengelolaan kawasan menjadi lebih optimal.
“Kami akan memisahkan akses masuk Candi Sewu dari kawasan Prambanan agar pengunjung dapat menikmati masing-masing situs secara lebih nyaman dan pengelolaannya menjadi lebih baik,” katanya.
Sementara itu, proses restorasi Candi Plaosan kini telah memasuki tahap akhir. “Candi Plaosan merupakan simbol akulturasi Hindu dan Buddha yang sangat penting. Saat ini restorasi utamanya hampir selesai dan kami sedang menyelesaikan perbaikan candi-candi perwaranya,” ujar Fadli.
Program revitalisasi tahap pertama juga mencakup berbagai museum, keraton, dan istana bersejarah di Indonesia, termasuk Istana Maimun di Medan serta Keraton Surakarta yang telah berstatus Cagar Budaya Nasional.
Pemerintah berharap restorasi tersebut tidak hanya menjaga kelestarian situs sejarah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi melalui peningkatan kunjungan wisatawan.
Menurut Fadli, Candi Prambanan akan terus dikembangkan sebagai living heritage, yakni situs budaya yang tetap hidup melalui aktivitas budaya, keagamaan, dan pariwisata.
“Kami ingin Prambanan menjadi living heritage yang benar-benar hidup, bukan hanya menjadi monumen sejarah, tetapi juga pusat kegiatan budaya dan wisata religi yang mampu menarik wisatawan dunia,” katanya.
Pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan ke Candi Prambanan mencapai 3 juta orang pada 2026. Pasar wisata yang dibidik antara lain berasal dari India, Thailand, negara-negara ASEAN, hingga Eropa.
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah juga menjalin koordinasi dengan sejumlah maskapai penerbangan, termasuk Garuda Indonesia, guna memperluas penerbangan langsung menuju Yogyakarta.
“Konektivitas menjadi salah satu faktor penting. Karena itu kami terus berkoordinasi agar penerbangan langsung menuju Yogyakarta semakin banyak sehingga wisatawan mancanegara lebih mudah datang ke Prambanan,” tutur Fadli.
Pemerintah Perketat Pengawasan Artefak Budaya
Di sisi lain, Kementerian Kebudayaan juga memperkuat langkah pencegahan penyelundupan benda cagar budaya ke luar negeri.
Fadli mengatakan pemerintah akan mempererat kerja sama dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta pihak imigrasi untuk meningkatkan pengawasan di bandara maupun pelabuhan.
“Kami akan memperketat pemeriksaan terhadap benda-benda yang diduga merupakan cagar budaya agar tidak ada lagi artefak bersejarah Indonesia yang keluar secara ilegal,” tegasnya.
Ia menambahkan, berbagai artefak hasil repatriasi dari luar negeri kini telah didata dan disimpan sebagai koleksi permanen Museum Nasional Indonesia. Meski demikian, pemerintah tetap membuka peluang peminjaman jangka panjang (long-term loan) kepada museum tematik yang memenuhi persyaratan konservasi.
“Seluruh artefak hasil repatriasi menjadi koleksi permanen negara. Namun, kami juga membuka kemungkinan skema long-term loan untuk museum tertentu agar masyarakat dapat menikmati koleksi tersebut secara lebih luas tanpa mengurangi aspek perlindungannya,” pungkas Fadli.
Penulis : lazir
Editor : ameri






