Rahasia Tubuh Manusia Saat Puasa: Mengapa 14 Jam Tanpa Makan Ternyata Bisa

- Penulis

Senin, 9 Maret 2026 - 20:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana saat berbuka puasa Ramadan (foto. atz)

Suasana saat berbuka puasa Ramadan (foto. atz)

SETIAP hari kita sering mendengar keluhan seperti ini: “Kalau tidak merokok satu jam saja rasanya pusing.” Ada juga yang berkata, “Kalau telat makan bisa kena maag,” atau “Kalau tidak minum sebentar saja tenggorokan sudah kering.”

Namun ketika bulan Ramadhan tiba, fenomena yang sangat menarik terjadi. Orang yang biasanya merasa tidak kuat menahan lapar, haus, atau keinginan merokok, ternyata mampu menjalani puasa selama kurang lebih 14 jam tanpa makan, minum, maupun merokok.

Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah ini semata-mata karena kebiasaan, atau ada penjelasan ilmiah dan spiritual di baliknya?
Tubuh Manusia Memiliki Cadangan Energi

Secara ilmiah, tubuh manusia sebenarnya dirancang untuk mampu bertahan tanpa makan dalam waktu yang cukup lama.

Dalam ilmu fisiologi dijelaskan bahwa tubuh memiliki sistem cadangan energi yang bekerja secara bertahap.
Pada sekitar 6–8 jam pertama setelah makan, tubuh menggunakan glukosa dari makanan terakhir sebagai sumber energi utama.

Setelah itu, tubuh akan memanfaatkan cadangan glikogen yang tersimpan di hati. Cadangan ini dapat bertahan hingga sekitar 24 jam.
Jika cadangan tersebut mulai menipis, tubuh kemudian beralih menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi.

Mekanisme inilah yang membuat puasa selama 12–14 jam masih berada dalam batas kemampuan normal tubuh manusia.
Penjelasan mengenai mekanisme ini dapat ditemukan dalam buku Textbook of Medical Physiology karya Guyton & Hall, yang menjelaskan bagaimana metabolisme tubuh beradaptasi selama periode puasa.

Lapar Sering Kali Hanya Kebiasaan
Selain faktor biologis, ada faktor kebiasaan yang sering tidak disadari. Banyak rasa lapar sebenarnya muncul karena pola makan yang telah terbentuk.
Misalnya seseorang terbiasa makan pada jam tertentu, seperti pukul 10 pagi atau setelah aktivitas tertentu.

Ketika jam tersebut tiba, tubuh seolah “mengirim sinyal lapar”, padahal bukan berarti tubuh benar-benar kekurangan energi.
Hal yang sama juga terjadi pada kebiasaan merokok. Banyak perokok merasa tidak nyaman ketika tidak merokok dalam waktu singkat, bukan karena tubuh membutuhkan rokok untuk bertahan hidup, tetapi karena adanya pola kebiasaan dan ketergantungan terhadap nikotin.

Ketika puasa dijalankan secara rutin selama beberapa hari, tubuh mulai menyesuaikan kembali ritme biologisnya. Karena itulah biasanya hari-hari pertama puasa terasa berat, tetapi setelah itu tubuh menjadi lebih mudah beradaptasi.

Peran Niat dan Kesadaran Spiritual
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kekuatan niat dan kesadaran spiritual. Dalam psikologi, kemampuan menahan dorongan disebut sebagai self-control atau pengendalian diri.
Saat menjalankan puasa, seseorang memiliki tujuan yang lebih tinggi, yaitu menjalankan perintah agama dan mendekatkan diri kepada Allah.

Kesadaran ini membantu manusia mengendalikan dorongan tubuhnya, seperti rasa lapar, haus, atau keinginan merokok.
Namun bagi seorang muslim, kemampuan tersebut tidak semata-mata berasal dari kekuatan manusia. Ada keyakinan bahwa semua itu terjadi karena pertolongan Allah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini mengandung makna bahwa setiap perintah Allah, termasuk puasa, pasti disertai dengan kemampuan yang diberikan kepada hamba-Nya untuk menjalankannya.

Hikmah di Balik Puasa
Puasa tidak hanya mengajarkan manusia untuk menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, puasa menjadi latihan pengendalian diri dan kesadaran bahwa manusia sebenarnya memiliki kemampuan yang jauh lebih besar daripada yang sering ia bayangkan.
Ketika seseorang mampu menahan makan, minum, dan berbagai kebiasaan selama berjam-jam, ia belajar bahwa banyak “ketidakmampuan” yang selama ini dirasakan sebenarnya hanyalah kebiasaan dan persepsi.

Pada akhirnya, puasa menunjukkan sebuah pelajaran penting: manusia memang memiliki kekuatan untuk mengendalikan dirinya, tetapi kekuatan itu menjadi nyata ketika disertai dengan niat yang tulus dan pertolongan dari Allah.

Sumber
Guyton & Hall, Textbook of Medical Physiology  Mark Mattson, Johns Hopkins University – penelitian tentang metabolisme puasa
Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 dan 286 Hadits riwayat Bukhari tentang keutamaan puasa.

Penulis : atz

Editor : ameri

Berita Terkait

Wanita Adalah Tiang Keluarga, Dan Ini Buktinya!
Merawat Daerah dari Pinggiran: Inovasi Irman Gusman dalam Menafsirkan Konstitusi
Kenapa Dianjurkan Berbuka dengan Kurma? Ini Penjelasan Ilmiah dan Hikmahnya
Kamrussamad: Luruskan Polemik Anggaran MBG, Sikap PDI Perjuangan Harus Jelas
Ramadan Bukan Akhir Ibadah, Tapi Awal Kehidupan Bertakwa
Lima Air dari Seorang Ibu yang Tidak Bisa diganti Apapun
Setetes Darah, Banyak Manfaat: Mengapa Donor Darah Penting bagi Semua
Kecerdasan Buatan: Manfaat dan Ancaman AI bagi Manusia!

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 04:38 WIB

Wanita Adalah Tiang Keluarga, Dan Ini Buktinya!

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:04 WIB

Merawat Daerah dari Pinggiran: Inovasi Irman Gusman dalam Menafsirkan Konstitusi

Senin, 9 Maret 2026 - 20:37 WIB

Rahasia Tubuh Manusia Saat Puasa: Mengapa 14 Jam Tanpa Makan Ternyata Bisa

Kamis, 5 Maret 2026 - 20:05 WIB

Kenapa Dianjurkan Berbuka dengan Kurma? Ini Penjelasan Ilmiah dan Hikmahnya

Jumat, 27 Februari 2026 - 20:17 WIB

Kamrussamad: Luruskan Polemik Anggaran MBG, Sikap PDI Perjuangan Harus Jelas

Berita Terbaru