Dari Teras Masjid ke Panggung Nasional: Rumah Belajar Namorambe Diresmikan Menteri di Hardiknas 2025

- Penulis

Rabu, 7 Mei 2025 - 10:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Rumah Belajar Namorambe (ilustrasi dibikin ai-rentak.id)

Ilustrasi Rumah Belajar Namorambe (ilustrasi dibikin ai-rentak.id)

DELI SERDANG – Di sebuah sudut sunyi Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, gema perubahan pendidikan lahir dari tempat yang tak terduga: teras masjid dan halaman rumah.

Kini, tempat itu resmi bernama Rumah Belajar Namorambe—sebuah simbol gotong royong dan pendidikan inklusif yang diresmikan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, pada Minggu (4/5/2025), bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025.

Peresmian ini bukanlah sekadar acara seremonial. Ia menjadi bentuk pengakuan negara atas inisiatif warga yang mampu membangun ekosistem pendidikan yang merata, inklusif, dan bermutu lewat jalur nonformal.

“Kami menyadari bahwa layanan pendidikan formal belum menjangkau seluruh pelosok. Karena itu, inisiatif seperti Rumah Belajar Namorambe menjadi sangat penting. Ini adalah bentuk nyata partisipasi masyarakat dalam mencerdaskan bangsa,” ujar Abdul Mu’ti dalam sambutannya.

Rumah Belajar Namorambe lahir seiring dengan semangat tema Hardiknas 2025: Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Tempat ini menjadi ruang belajar alternatif bagi anak-anak usia 4 hingga 12 tahun dari beragam latar belakang agama dan suku. Terletak di wilayah pinggiran Kota Medan, rumah belajar ini menjawab kebutuhan pendidikan di daerah yang minim akses sekolah formal.

Dari Teras Masjid Menuju Ruang Belajar Inklusif
Kisah Rumah Belajar Namorambe bermula dari tekad seorang ibu bernama Nefi Rahmania, yang pada 2016 memulai kelas kecil di teras masjid dan pekarangan rumahnya. Berbekal kemampuan bahasa Inggris dan kepedulian terhadap anak-anak yang kesulitan belajar, ia membuka ruang belajar sukarela tanpa biaya.

Kini, tujuh tahun kemudian, upaya kecil itu menjelma menjadi pusat belajar yang digerakkan oleh relawan—mahasiswa, ibu rumah tangga, hingga tokoh masyarakat—dengan dukungan organisasi kemanusiaan Humanity First. Mereka menyelenggarakan kegiatan belajar Bahasa Inggris, Matematika, Seni Budaya, hingga Pendidikan Karakter setiap pekan.

“Kami sangat bersyukur karena Rumah Belajar Namorambe diterima oleh semua pihak tanpa memandang latar belakang. Ini membuktikan bahwa semangat belajar bisa menyatukan kita,” ungkap Ibu Sarinah, koordinator kegiatan belajar.

Pendidikan yang Mengubah Wajah Desa
Bagi warga Namorambe, rumah belajar ini telah membawa dampak besar. Anak-anak menjadi lebih percaya diri, aktif, dan terbuka terhadap dunia luar. Bahkan beberapa lulusan rumah belajar ini kini sudah melanjutkan pendidikan tinggi, terutama di bidang bahasa.

“Etika dan cara berbahasa anak saya berubah sejak ikut belajar di sini. Bahkan anak pertama saya, yang dulu belajar di sini, sekarang sudah kuliah,” ujar Desminawati Manurung, seorang ibu yang hadir dalam acara peresmian.

Berbeda dari lembaga bimbingan belajar konvensional, Rumah Belajar Namorambe tidak memungut biaya. Semuanya digerakkan atas dasar kerelawanan dan solidaritas warga.

“Yang membuat kami semangat adalah karena anak-anak bisa belajar tanpa beban biaya. Selain itu, kami jadi lebih akrab dengan tetangga, karena kegiatan belajar ini mempererat hubungan sosial,” tambah Beti Ginting, warga lainnya.

Pemerintah Siap Fasilitasi Gerakan Pendidikan Akar Rumput
Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat jalur pendidikan nonformal. Ia menyebutkan bahwa praktik seperti Rumah Belajar Namorambe akan menjadi model inspiratif bagi daerah lain, dan kementerian akan menyiapkan dukungan lebih konkret.

“Ini adalah contoh nyata partisipasi semesta. Kita semua, mulai dari warga, tokoh masyarakat, hingga pemerintah, punya peran dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas,” tegasnya.

Turut hadir dalam peresmian tersebut jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, civitas akademika Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), perwakilan Humanity First, serta ratusan warga yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan rumah belajar.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk ikut terlibat dalam gerakan pendidikan akar rumput. Di tengah tantangan zaman dan ketimpangan akses, gotong royong masih menjadi jalan utama menuju keadilan dan kemajuan pendidikan di Indonesia.

Berita Terkait

Mahasiswa Indonesia Berpeluang Kuliah di Jepang, Ini Program yang Dibahas Brian Yuliarto
500 Inovasi Anak Bangsa Siap Dipamerkan di Surabaya, Ada Robot AI hingga Motor Listrik
Semarak Hari Santri Nasional 2026, Klanting Gelar Pawai Ta’aruf dan Penyerahan Beasiswa Pendidikan Santri
Bahasa Indonesia Mulai Dilirik Anak Muda Rusia, 234 Ribu Orang di Dunia Belajar BIPA
Kemendikdasmen Raih Nusantara Awards 2026, Ini Terobosan Pendidikan yang Dapat Apresiasi
Berburu Kursi PTN, 450 Siswa SMAN 8 Bandung Andalkan Hasil TKA 2026
5.700 Mahasiswa Timor-Leste Kuliah di Indonesia, Riset Bersama Diperluas
Pemerintah Perluas Wajib Belajar 13 Tahun, Revitalisasi TK Melonjak Jadi 13.831 Unit

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 14:55 WIB

Mahasiswa Indonesia Berpeluang Kuliah di Jepang, Ini Program yang Dibahas Brian Yuliarto

Senin, 2 November 2026 - 11:36 WIB

500 Inovasi Anak Bangsa Siap Dipamerkan di Surabaya, Ada Robot AI hingga Motor Listrik

Minggu, 1 November 2026 - 13:51 WIB

Semarak Hari Santri Nasional 2026, Klanting Gelar Pawai Ta’aruf dan Penyerahan Beasiswa Pendidikan Santri

Minggu, 1 November 2026 - 09:22 WIB

Bahasa Indonesia Mulai Dilirik Anak Muda Rusia, 234 Ribu Orang di Dunia Belajar BIPA

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:53 WIB

Kemendikdasmen Raih Nusantara Awards 2026, Ini Terobosan Pendidikan yang Dapat Apresiasi

Berita Terbaru