JAKARTA – Dunia tengah bergerak cepat menuju fase baru yang penuh gejolak. Tantangan zaman kini tidak hanya bersumber dari revolusi teknologi dan perubahan gaya hidup, namun juga dari dinamika geopolitik, keamanan, dan ekonomi global yang semakin kompleks.
Demikian dikatakan Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam pembukaan panel diskusi yang digelar The Yudhoyono Institute (TYI) di Hotel Sahid, Jakarta, Minggu (13/4/2025).
“Hari ini kita berkumpul bukan sekadar untuk berbagi gagasan, tapi untuk menjawab tantangan zaman. Dunia tidak lagi terbagi antara yang kuat dan lemah, tetapi antara yang cepat dan yang tertinggal,” kata AHY.
TYI, kata AHY, merupakan lembaga think tank fintech yang didirikan oleh Bapak Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Agustus 2017.
Berpijak pada tiga pilar utama—liberty, prosperity, dan security—lembaga ini fokus mengembangkan kajian strategis serta memberikan rekomendasi kebijakan publik yang konstruktif.
Selama ini, TYI aktif dalam pembangunan kapasitas sumber daya manusia dan menjalin kerja sama dengan berbagai universitas serta lembaga nasional dan internasional.
Tahun 2022, misalnya, TYI menyelenggarakan Round Data Discussion bersama Universiti Kebangsaan Malaysia.
Selain itu, TYI juga menjadi anggota dari The Market Club, forum prestisius beranggotakan mantan pemimpin dunia, serta berpartisipasi dalam Berlin Policy Dialogue yang membahas isu-isu global seperti perang Ukraina dan dampak pandemi.
Tahun ini, TYI turut hadir dalam Tokyo Conference 2025 di Jepang dan tengah mempersiapkan forum diskusi strategis dengan Stanford University yang akan digelar di Yogyakarta, serta Southeast Asia Prosperity and Sustainability Summit di California, Amerika Serikat.
AHY menyoroti perkembangan global terkini, khususnya kebijakan tarif tinggi Presiden Trump yang dijuluki sebagai New Generation. Kebijakan ini dinilai bukan hanya strategi ekonomi, tapi juga bentuk realisme ofensif dalam hubungan internasional.
“Kenaikan tarif impor hingga 32% terhadap Indonesia sangat berdampak, meski saat ini masih dalam tahap negosiasi. Sementara Tiongkok bahkan diganjar tarif hingga 145% akibat eskalasi perang dagang,” ujar AHY.
- Data dari WTO dan IMF menunjukkan bahwa antara 2018 hingga 2020, perang dagang ini telah menurunkan volume perdagangan dunia sebesar 3% dan menyebabkan penurunan PDB global hingga 0,8%.
TYI juga memperingatkan bahwa dunia tengah menuju kemungkinan fragmentasi baru, baik secara ekonomi maupun politik. Polarisasi global semakin nyata, dan Asia Pasifik—termasuk Indonesia—berpotensi menjadi panggung utama persaingan kekuatan besar.
Dalam konteks ini, TYI mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang menjalankan diplomasi dua jalur: mengirim tim negosiasi ke Washington D.C. dan menjalin komunikasi dengan pemimpin negara-negara Asia.
“Diplomasi kita harus adaptif dan tangguh. Bukan reaktif, tapi juga tidak pasif. Inilah wajah baru diplomasi strategis Indonesia,” ungkap AHY.
Di tengah tekanan global ini, TYI mengusulkan sejumlah langkah strategis:
Memperkuat struktur ekonomi domestik, menjaga pertumbuhan dan stabilitas harga, serta mendorong investasi untuk membuka lapangan kerja.
Mentransformasi krisis menjadi peluang dengan mempercepat digitalisasi dan transisi energi menuju ekonomi hijau.
Diversifikasi pasar dan infrastruktur untuk menjangkau kawasan potensial seperti Eropa, Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, hingga Amerika Latin.
Memperkuat solidaritas ASEAN, agar tidak terpecah oleh kepentingan masing-masing negara anggota.
“Ketika dunia penuh ketidakpastian, TYI hadir memberikan wake-up call. Solidaritas adalah kekuatan kita, kolaborasi adalah harapan kita,” pungkas AHY.
Penulis : lazir
Editor : regardo













