JAKARTA – Pemerintah melalui Badan Karantina Indonesia (Barantin) terus memperkuat pengawasan terhadap lalu lintas hewan ternak impor guna menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus menjamin keamanan hayati di dalam negeri. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui pemeriksaan ketat terhadap ratusan ternak asal Australia yang masuk ke Indonesia.
Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin, Sriyanto, menegaskan bahwa setiap hewan ternak yang masuk ke wilayah Indonesia wajib melalui serangkaian pemeriksaan menyeluruh, mulai dari pemeriksaan fisik hingga uji laboratorium sebelum dinyatakan layak edar.
“Seluruh tahapan pemeriksaan dilakukan secara komprehensif untuk memastikan hewan yang masuk dalam kondisi sehat serta bebas dari Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK),” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Sebanyak ratusan ternak impor tersebut diketahui masuk melalui Bandar Udara Internasional Juanda, Jawa Timur, pada Senin (30/3/2026) pukul 19.29 WIB menggunakan pesawat kargo. Ternak yang didatangkan terdiri dari 23 ekor sapi perah, 35 ekor unta, serta 145 ekor domba dari jenis Texel, Suffolk, dan Dorper.
Setibanya di Surabaya, seluruh ternak langsung dibawa ke Instalasi Karantina Hewan (IKH) milik Karantina Jawa Timur di kawasan Tandes untuk menjalani masa karantina. Selama periode tersebut, dilakukan pengawasan kesehatan secara ketat guna memastikan ternak bebas dari berbagai penyakit hewan menular strategis.
Sriyanto menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan secara berlapis, termasuk untuk mendeteksi penyakit seperti brucellosis, paratuberculosis (Para TB), enzootic bovine leucosis (EBL), bovine viral diarrhea (BVD), hingga lumpy skin disease (LSD).
“Jika seluruh hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi sehat dan bebas penyakit, maka ternak akan dilepaskan untuk dimanfaatkan lebih lanjut,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa kehadiran sapi perah impor diharapkan mampu meningkatkan produksi susu dalam negeri. Hal ini dinilai penting dalam mendukung ketersediaan protein hewani serta program pemenuhan gizi masyarakat.
“Pasokan produk peternakan yang aman, sehat, utuh, dan halal menjadi kunci dalam mendukung berbagai program pemerintah, termasuk program makan bergizi gratis (MBG). Kami memastikan setiap ternak yang masuk telah melalui pengawasan ketat, sehingga produk turunannya dapat berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat secara aman dan berkelanjutan,” paparnya.
Selain itu, masuknya domba dari jenis Texel, Suffolk, dan Dorper juga dinilai memberikan nilai tambah dalam meningkatkan kualitas genetik ternak lokal di Indonesia.
Sementara itu, Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Timur, Sokhib, menyebutkan bahwa kebutuhan terhadap sapi perah nasional masih cukup tinggi. Oleh karena itu, impor menjadi solusi jangka pendek untuk menjaga stabilitas pasokan.
“Berdasarkan data sistem layanan digital Best Trust Badan Karantina Indonesia sepanjang 2025, tercatat sebanyak 2.863 ekor sapi perah serta 265 ekor domba impor telah masuk ke Jawa Timur,” ungkapnya.
Sriyanto menambahkan, pengawasan lalu lintas hewan impor merupakan bagian penting dalam menjaga keamanan hayati nasional serta mencegah masuknya penyakit dari luar negeri.
“Kami memastikan seluruh prosedur karantina dilaksanakan sesuai standar, sehingga risiko masuk dan menyebarnya penyakit hewan dari luar negeri dapat dicegah,” tutupnya.
Penulis : lazir
Editor : ameri













