YOGYAKARTA – Ledakan penggunaan internet di Indonesia membawa perubahan besar dalam pola tumbuh kembang generasi muda. Di tengah derasnya arus teknologi digital, kualitas karakter, kesehatan mental, dan pembentukan identitas anak menjadi tantangan serius yang tak bisa diabaikan.
Hal itu disampaikan Prof. Dr. Tina Afiatin, M.Si., Psikolog, dalam orasi ilmiah Dies Natalis ke-61 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang digelar dalam Rapat Terbuka Senat, Kamis (8/1/2026).
Dalam orasinya, Prof. Tina mengangkat tema “Sinergi Keluarga–Sekolah–Masyarakat–Media untuk Meningkatkan Kualitas Individu di Era Digital: Perspektif Psikologi Perkembangan”.
Mengutip data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Tahun 2025, Prof. Tina menyebutkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 80,66 persen atau sekitar 229,4 juta jiwa. Mayoritas pengguna berasal dari Generasi Z, Generasi Y, dan Generasi Alpha.
Menurutnya, transformasi digital memang menghadirkan manfaat luar biasa dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari komunikasi, pendidikan, hingga dunia kerja. Namun di sisi lain, perkembangan ini juga menyimpan risiko serius jika tidak dikelola secara bijak.
“Karena itu, dibutuhkan sinergi ekosistemik yang terencana, berkelanjutan, dan saling menguatkan antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan media,” ujar Prof. Tina.
Ia memaparkan sejumlah tantangan perkembangan individu di era digital, mulai dari perubahan pola perkembangan kognitif, dinamika sosio-emosional, proses pembentukan identitas diri, hingga paparan konten tidak sehat dan berbagai risiko online yang dapat berdampak pada kesehatan mental serta karakter anak.
Dalam konteks ini, keluarga ditempatkan sebagai fondasi utama perkembangan individu. Prof. Tina menekankan pentingnya transformasi pola pengasuhan dari pendekatan kontrol menuju kolaborasi, penguatan resiliensi keluarga, serta peran strategis ayah dalam praktik digital parenting.
Pendekatan tersebut sejalan dengan komitmen Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN dalam memperkuat fungsi keluarga melalui berbagai program pembangunan keluarga dan pengasuhan berbasis siklus kehidupan.
Menutup orasi ilmiahnya, Prof. Tina menegaskan bahwa sinergi menjadi kunci utama dalam mendidik generasi digital.
“Sinergi bukan berarti menyeragamkan, melainkan menyatukan peran dengan tetap menjaga karakter dan otonomi masing-masing pihak. Kita harus menjadi digital wise, bukan digital immigrant yang resisten terhadap perubahan, dan bukan pula digital native yang naif terhadap risiko,” tegasnya.
Penulis : lazir
Editor : ameri













