Yapentra GKPI akan Tampilkan Teater Tunanetra, Sabtu-Minggu, Belum Pernah Ada dan Satu-satunya di Sumut

- Penulis

Jumat, 3 Mei 2024 - 22:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RENTAK.ID – Yayasan Pendidikan Tunanetra (Yapentra) GKPI, Sabtu – Minggu, 4 – 5 Mei 2024 akan melakukan pertunjukan teater tunanetra. Pertunjukan ini dikabarkan merupakan pertama kali dan satu-satunya.

Pertunjukan yang berjudul, “Simfoni Alam Yang Tak Kelihatan” ini akan dipentaskan di Wisma Yapentra Jalan Lubukpakam Tanjungmorawa Km 21,5, Sabtu dan Minggu, 4-5 April 2024.

Pementasan teater yang diikuti 58 aktor dari anak-anak tunanetra di yayasan ini mengetengahkan konsep kolaborasi antara mereka dengan Sutradara Lena Simanjuntak – Mertes dari Jerman.

Kolaborasi ini menghasilkan sebuah cerita tentang seorang raja di hutan yang mempunyai seorang anak disabilitas tunanetra. Namun si ayah ini malu mempunyai anak yang cacat seperti ini.

Karena merasa malu punya anak tunanetra, si ayah yang seorang raja di hutan ini, lalu mengurung anaknya. Karena si Raja malu karena anaknya selalu diejek dan direndahkan karena itu merupakan aib.

Disetting Seperti Hutan

Temat pertunjukan sudah disetting laiknya hutan, karena cerita “Simfoni Alam Yang Tak Kelihatan” berlatar di suatu hutan yang dikuasai oleh ayah si Putri.

Suasana hutan itu diciptakan dari depan gedung hingga sepenuhnya di area panggung. Di kiri panggung sudah terlihat juga seperangkat alat musik.

Menurut Lena Simanjuntak, dekor seperti itu gampang dilakukan karena bahannya gampang diambil. Bukan seperti di Jerman, yang berbau tebang-menebang satu ranting pun tidak gampang.

Suasana ini sesuatu yang semakin menyejukkan dengan kehijauan reranting dan dahan pepohonan yang menutup dinding terbuka wisma.

Pertunjukan untuk dua hari dimulai setiap pukul 15.00 – 17.00 Wib. Sesudah itu juga masih dapat menikmati suasana di area kegiatan pendukung seperti bazar kuliner dan donor darah.

Jembatan Penyeberangan Rusak

Sejak pagi anak-anak Yapentra diseberangkan dengan bus khusus dari kompleks ke tempat pertunjukan. Jembatan penyeberangan juga ada menyambungkan dua tepi jalan raya yang dilintasi keramaian kenderaan.

Namun tampaknya jembatan penyeberangan itu sudah jarang dilalui. Seorang guru tunanetra terlihat menyeberang dari jembatan tampak harus ekstra hati-hati karena ada yang bolong.

“Jembatan itu kurang nyaman lagi untuk dilalui banyak orang. Apalagi anak-anak tunanetra, ” kata Heri Ketaren dokumenter dari Jakarta.

Jembatan tersebut selain sudah tua juga sangat berbahaya untuk dilalui anak-anak tunanetra lantaran lantainya yang kupak-kapik. Bahkan menurut Thomson HS (Budayawan) jembatan itu bergoyang jika dilalui.***

Berita Terkait

Kebun Hantu Hadir di TIM, Mengungkap “Hantu” yang Tersimpan dalam Tubuh Aktor
Candi Batujaya Karawang Jangan Terbengkalai, DPR Dorong Pengembangan Wisata 3A
Revitalisasi Keraton Surakarta Dimulai, 13 Kawasan Jadi Sasaran Penataan
Restorasi Besar Candi Prambanan Disiapkan, 218 Candi Perwara Masih Runtuh
GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau
GEMPHAR Gelar Santunan Anak Yatim dan Lomba Tahfiz Al-Qur’an di Sukadanau
Kebakaran Desa Adat Sade Lombok Hanguskan 167 Bangunan, Keris dan Naskah Kuno Ikut Musnah
Fadli Zon Ajak Anak Indonesia Lestarikan Permainan Tradisional di Hari Anak Nasional 2026

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:28 WIB

Kebun Hantu Hadir di TIM, Mengungkap “Hantu” yang Tersimpan dalam Tubuh Aktor

Senin, 28 September 2026 - 11:16 WIB

Candi Batujaya Karawang Jangan Terbengkalai, DPR Dorong Pengembangan Wisata 3A

Jumat, 25 September 2026 - 14:01 WIB

Revitalisasi Keraton Surakarta Dimulai, 13 Kawasan Jadi Sasaran Penataan

Rabu, 9 September 2026 - 07:51 WIB

Restorasi Besar Candi Prambanan Disiapkan, 218 Candi Perwara Masih Runtuh

Senin, 7 September 2026 - 13:31 WIB

GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau

Berita Terbaru