RENTAK.ID – Yayasan Pendidikan Tunanetra (Yapentra) GKPI, Sabtu – Minggu, 4 – 5 Mei 2024 akan melakukan pertunjukan teater tunanetra. Pertunjukan ini dikabarkan merupakan pertama kali dan satu-satunya.
Pertunjukan yang berjudul, “Simfoni Alam Yang Tak Kelihatan” ini akan dipentaskan di Wisma Yapentra Jalan Lubukpakam Tanjungmorawa Km 21,5, Sabtu dan Minggu, 4-5 April 2024.
Pementasan teater yang diikuti 58 aktor dari anak-anak tunanetra di yayasan ini mengetengahkan konsep kolaborasi antara mereka dengan Sutradara Lena Simanjuntak – Mertes dari Jerman.
Kolaborasi ini menghasilkan sebuah cerita tentang seorang raja di hutan yang mempunyai seorang anak disabilitas tunanetra. Namun si ayah ini malu mempunyai anak yang cacat seperti ini.
Karena merasa malu punya anak tunanetra, si ayah yang seorang raja di hutan ini, lalu mengurung anaknya. Karena si Raja malu karena anaknya selalu diejek dan direndahkan karena itu merupakan aib.

Disetting Seperti Hutan
Temat pertunjukan sudah disetting laiknya hutan, karena cerita “Simfoni Alam Yang Tak Kelihatan” berlatar di suatu hutan yang dikuasai oleh ayah si Putri.
Suasana hutan itu diciptakan dari depan gedung hingga sepenuhnya di area panggung. Di kiri panggung sudah terlihat juga seperangkat alat musik.
Menurut Lena Simanjuntak, dekor seperti itu gampang dilakukan karena bahannya gampang diambil. Bukan seperti di Jerman, yang berbau tebang-menebang satu ranting pun tidak gampang.
Suasana ini sesuatu yang semakin menyejukkan dengan kehijauan reranting dan dahan pepohonan yang menutup dinding terbuka wisma.
Pertunjukan untuk dua hari dimulai setiap pukul 15.00 – 17.00 Wib. Sesudah itu juga masih dapat menikmati suasana di area kegiatan pendukung seperti bazar kuliner dan donor darah.
Jembatan Penyeberangan Rusak
Sejak pagi anak-anak Yapentra diseberangkan dengan bus khusus dari kompleks ke tempat pertunjukan. Jembatan penyeberangan juga ada menyambungkan dua tepi jalan raya yang dilintasi keramaian kenderaan.
Namun tampaknya jembatan penyeberangan itu sudah jarang dilalui. Seorang guru tunanetra terlihat menyeberang dari jembatan tampak harus ekstra hati-hati karena ada yang bolong.
“Jembatan itu kurang nyaman lagi untuk dilalui banyak orang. Apalagi anak-anak tunanetra, ” kata Heri Ketaren dokumenter dari Jakarta.
Jembatan tersebut selain sudah tua juga sangat berbahaya untuk dilalui anak-anak tunanetra lantaran lantainya yang kupak-kapik. Bahkan menurut Thomson HS (Budayawan) jembatan itu bergoyang jika dilalui.***













