LUMAJANG – Di tengah dinamika dunia pesantren yang terus berkembang, seni tari sufi menemukan ruang baru untuk bernafas. Gerakan berputar yang menjadi simbol dzikir dan perjalanan batin kini tidak hanya hidup di ruang-ruang kebudayaan umum, tetapi juga menjadi bagian dari keseharian santri.
Di berbagai daerah, sejumlah pondok pesantren mengajarkan dan menampilkan tari sufi sebagai ekspresi cinta Ilahi, latihan ketenangan jiwa, sekaligus bentuk penghayatan terhadap nilai-nilai tasawuf. Dari Yogyakarta hingga Lumajang, berikut enam pesantren yang menjadikan tari sufi sebagai jalan spiritual sekaligus warisan estetik pesantren.
Pondok Pesantren Maulana Rumi – Bantul, Yogyakarta
Dari namanya saja sudah terasa getaran sufistik. Pesantren Maulana Rumi dikenal sebagai pusat spiritual berbasis seni. Di sini, tari sufi bukan sekadar pertunjukan, tetapi metode pembentukan karakter.
Setiap putaran menjadi dzikir dalam gerak—sebuah perjalanan batin menuju cinta Ilahi.
Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al Mubarokah – Boyolali, Jawa Tengah
Di Boyolali, para santri Nurul Hidayah berlatih dan menari sufi menjelang Ramadan. Mereka berputar dalam hening, dalam irama dzikir yang memusatkan pikiran.
Bagi para santri, ini bukan hiburan rohani, melainkan latihan menenangkan jiwa dan menata batin.
Pondok Pesantren Daarul Falah – Grobogan, Jawa Tengah
Nama pesantren ini sempat menjadi sorotan nasional. Sebanyak 99 santri Daarul Falah menarikan tari sufi selama 24 jam tanpa henti—dan mengukir rekor MURI.
Gerak berputar mereka menjadi simbol keteguhan spiritual, kekuatan dzikir, dan kesetiaan pada irama ketuhanan yang tak pernah berhenti.
Pondok Pesantren Nailun Najah Assalafy – Jepara, Jawa Tengah
Sudah lebih dari satu dekade, Nailun Najah setiap tahun menampilkan tari sufi untuk menyambut datangnya Ramadan.
Putaran demi putaran menjadi doa yang bergerak, irama yang menyatu dengan lantunan shalawat. Tradisi ini menjadi ciri khas yang menautkan seni dan spiritualitas dalam satu kesatuan indah.
Pondok Pesantren Misbakhul Huda – Tegal, Jawa Tengah
Di Lebaksiu, sekitar 30 santri putra dan putri Misbakhul Huda rutin mempelajari tari sufi. Mereka tampil dalam berbagai acara keagamaan, membawa keheningan yang bergerak di tengah gemuruh dunia.
Tari sufi bagi mereka bukan panggung, melainkan zikir yang berpijak pada kesadaran jiwa.
Pondok Pesantren Khomsani Nur – Lumajang, Jawa Timur
Di Desa Klanting, Sukodono, pesantren Khomsani Nur menautkan pengajian, sholawatan, dan tari sufi dalam satu napas.
Gerakan berputar menjadi bagian dari dzikir gerak—ekspresi cinta kepada Allah SWT yang dilatih dengan ketulusan dan irama yang lembut.
Gerak yang Menjadi Dzikir
Tari sufi di pesantren bukan sekadar tarian. Ia adalah jalan ruhani. Setiap putaran melambangkan perjalanan jiwa menuju pusat keilahian—sebuah laku untuk melepaskan ego dan meneguhkan tauhid.
Enam pesantren ini menunjukkan bahwa dunia pesantren terus membuka ruang bagi dialog antara seni, spiritualitas, dan pendidikan karakter.
Bahwa dzikir tidak selalu lahir dalam diam—kadang ia menari dalam putaran, mengalir dalam gerak, dan bergetar di antara cinta yang berputar menuju Sang Pencipta.
Penulis : atz
Editor : ameri













