Tari Sufi Kian Hidup di Pesantren Indonesia, Perpaduan Dzikir dan Keindahan Gerak

- Penulis

Rabu, 12 November 2025 - 19:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tarian Sufi (foto. pixabay)

Tarian Sufi (foto. pixabay)

LUMAJANG – Di tengah dinamika dunia pesantren yang terus berkembang, seni tari sufi menemukan ruang baru untuk bernafas. Gerakan berputar yang menjadi simbol dzikir dan perjalanan batin kini tidak hanya hidup di ruang-ruang kebudayaan umum, tetapi juga menjadi bagian dari keseharian santri.

Di berbagai daerah, sejumlah pondok pesantren mengajarkan dan menampilkan tari sufi sebagai ekspresi cinta Ilahi, latihan ketenangan jiwa, sekaligus bentuk penghayatan terhadap nilai-nilai tasawuf. Dari Yogyakarta hingga Lumajang, berikut enam pesantren yang menjadikan tari sufi sebagai jalan spiritual sekaligus warisan estetik pesantren.

Pondok Pesantren Maulana Rumi – Bantul, Yogyakarta

Dari namanya saja sudah terasa getaran sufistik. Pesantren Maulana Rumi dikenal sebagai pusat spiritual berbasis seni. Di sini, tari sufi bukan sekadar pertunjukan, tetapi metode pembentukan karakter.
Setiap putaran menjadi dzikir dalam gerak—sebuah perjalanan batin menuju cinta Ilahi.

Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al Mubarokah – Boyolali, Jawa Tengah

Di Boyolali, para santri Nurul Hidayah berlatih dan menari sufi menjelang Ramadan. Mereka berputar dalam hening, dalam irama dzikir yang memusatkan pikiran.
Bagi para santri, ini bukan hiburan rohani, melainkan latihan menenangkan jiwa dan menata batin.

Pondok Pesantren Daarul Falah – Grobogan, Jawa Tengah

Nama pesantren ini sempat menjadi sorotan nasional. Sebanyak 99 santri Daarul Falah menarikan tari sufi selama 24 jam tanpa henti—dan mengukir rekor MURI.
Gerak berputar mereka menjadi simbol keteguhan spiritual, kekuatan dzikir, dan kesetiaan pada irama ketuhanan yang tak pernah berhenti.

Pondok Pesantren Nailun Najah Assalafy – Jepara, Jawa Tengah

Sudah lebih dari satu dekade, Nailun Najah setiap tahun menampilkan tari sufi untuk menyambut datangnya Ramadan.
Putaran demi putaran menjadi doa yang bergerak, irama yang menyatu dengan lantunan shalawat. Tradisi ini menjadi ciri khas yang menautkan seni dan spiritualitas dalam satu kesatuan indah.

Pondok Pesantren Misbakhul Huda – Tegal, Jawa Tengah

Di Lebaksiu, sekitar 30 santri putra dan putri Misbakhul Huda rutin mempelajari tari sufi. Mereka tampil dalam berbagai acara keagamaan, membawa keheningan yang bergerak di tengah gemuruh dunia.
Tari sufi bagi mereka bukan panggung, melainkan zikir yang berpijak pada kesadaran jiwa.

Pondok Pesantren Khomsani Nur – Lumajang, Jawa Timur

Di Desa Klanting, Sukodono, pesantren Khomsani Nur menautkan pengajian, sholawatan, dan tari sufi dalam satu napas.
Gerakan berputar menjadi bagian dari dzikir gerak—ekspresi cinta kepada Allah SWT yang dilatih dengan ketulusan dan irama yang lembut.

Gerak yang Menjadi Dzikir

Tari sufi di pesantren bukan sekadar tarian. Ia adalah jalan ruhani. Setiap putaran melambangkan perjalanan jiwa menuju pusat keilahian—sebuah laku untuk melepaskan ego dan meneguhkan tauhid.

Enam pesantren ini menunjukkan bahwa dunia pesantren terus membuka ruang bagi dialog antara seni, spiritualitas, dan pendidikan karakter.

Bahwa dzikir tidak selalu lahir dalam diam—kadang ia menari dalam putaran, mengalir dalam gerak, dan bergetar di antara cinta yang berputar menuju Sang Pencipta.

Penulis : atz

Editor : ameri

Berita Terkait

Jejak Majapahit Dihidupkan Kembali, Menbud Fadli Zon Sulap Candi Jabung Jadi Pusat Ekosistem Budaya
Menatap Sunyi yang Retak: Ulasan atas Kumpulan Cerpen “Jangan Tatap Mataku”
Banyuwangi Art Exhibition 2025 Hadirkan 157 Karya, Lukisan Bupati Ditawar Rp 1 Triliun
Banjir dan Longsor Rusak Situs Budaya, LKKI Minta Pemerintah Bertindak Cepat
Ketua Teater Imago Medan Tanggapi Aspirasi Kolaborasi dengan TENA: “Kapal Seni Perlu Bahan Bakar, Bukan Sekadar Ide”
Naskah Monolog “Pisang Terakhir”
Kemenag Akhiri Tugas Penyelenggaraan Haji dengan Indeks Kepuasan Jamaah Capai 88,46
Badan Bahasa Dukung Penuh Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 08:28 WIB

Jejak Majapahit Dihidupkan Kembali, Menbud Fadli Zon Sulap Candi Jabung Jadi Pusat Ekosistem Budaya

Sabtu, 10 Januari 2026 - 09:56 WIB

Menatap Sunyi yang Retak: Ulasan atas Kumpulan Cerpen “Jangan Tatap Mataku”

Senin, 22 Desember 2025 - 07:07 WIB

Banyuwangi Art Exhibition 2025 Hadirkan 157 Karya, Lukisan Bupati Ditawar Rp 1 Triliun

Minggu, 21 Desember 2025 - 10:01 WIB

Banjir dan Longsor Rusak Situs Budaya, LKKI Minta Pemerintah Bertindak Cepat

Rabu, 12 November 2025 - 19:23 WIB

Tari Sufi Kian Hidup di Pesantren Indonesia, Perpaduan Dzikir dan Keindahan Gerak

Berita Terbaru

Gerbang Tol Ambara (foto. ist)

Transportasi

Tol Fungsional Jadi Andalan Urai Macet Mudik Lebaran 2026

Kamis, 12 Mar 2026 - 13:20 WIB