Ketua Teater Imago Medan Tanggapi Aspirasi Kolaborasi dengan TENA: “Kapal Seni Perlu Bahan Bakar, Bukan Sekadar Ide”

- Penulis

Jumat, 7 November 2025 - 09:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salah satu pementasan Teater Imago Medan, Joget Kurcaci (dok. rentak.id)

Salah satu pementasan Teater Imago Medan, Joget Kurcaci (dok. rentak.id)

MEDAN — Wacana kolaborasi antara Teater Imago Medan dengan Teater Nasional (TENA) Medan kembali mengemuka setelah sejumlah tokoh dan penggiat teater mendorong agar Imago turut terlibat dalam rangkaian kegiatan ke-62 TENA. Aspirasi tersebut disampaikan oleh seniman sekaligus mantan aktivis TENA dan Imago, Hermansyah Nasution, yang kini bermukim di Surabaya.

Hermansyah menilai, hubungan historis dan kultural kedua kelompok teater itu tidak bisa dipisahkan, sehingga momentum kegiatan TENA perlu sekaligus menjadi ruang penghormatan kepada perjalanan Imago.

“Saya mendukung penuh agenda dan program TENA ke depan. Tapi jangan lupa ulang tahun Imago tanggal 17 Januari. Imago berdiri pada 17 Januari 1972, dan ia adalah bagian dari sejarah TENA Medan,” ujar Hermansyah dalam diskusi daring para pegiat teater, baru-baru ini.

Respons Ketua Teater Imago

Menanggapi hal tersebut, Ketua sekaligus sutradara Teater Imago Medan, Ayub, mengapresiasi perhatian dan dorongan itu. Namun ia menegaskan, Imago tidak ingin hanya tampil sekadar sebagai pelengkap atau seremoni ulang tahun.

“Saran itu bagus sekali. Tapi jangan hanya ulang tahun saja. Awak nggak mau kalau Imago hanya diposisikan sebagai teater ‘ultah’. Kapal ini harus berlayar bersama, bukan hanya muncul waktu seremonial,” kata Ayub.

Ayub menjelaskan, kerja kesenian membutuhkan stamina, konsistensi, dan dukungan pendanaan yang tidak sedikit. Tanpa struktur pendukung yang kuat, pembinaan yang panjang, serta keberlanjutan ruang produksi, sebuah kelompok seni dapat tersendat dalam perjalanan kreatifnya.

“Kalau kapal ini mau berlayar bersama, oke. Tapi kita semua mampu? Kapal seni ini butuh bahan bakar yang tidak sedikit, sementara hasilnya sering belum jelas. Kalau terus mengandalkan patungan, kita semua bisa ‘ngehek’ alias tidak kukuh. Mohon maaf, ide bisa seribu, tapi kayu bakarnya juga harus jadi solusi,” tegasnya.

Situasi Imago Saat Ini

Ayub juga mengungkap bahwa Teater Imago saat ini berada dalam situasi pemulihan setelah melewati tekanan dan dinamika internal maupun eksternal.

“Kerja kesenian bukan kerja mudah. Kita harus babak belur dan berdarah-darah sedikitnya 15 tahun. Imago baru saja ‘dibombardir’ oleh lawan. Kapal ini sempat limbung berat, padahal kemarin sudah mulai stabil berlayar,” jelasnya.

Ia mengimbau agar komunitas teater tidak terjebak dalam euforia, namun tetap berhati-hati, realistis, serta tidak melupakan tantangan yang masih membayangi.

“Di lapangan, ombak besar. Kita jangan terlalu euforia. Eling lan waspada. Mata-mata mengintip dan berusaha menggulingkan. Karena itu, kita berjalan pelan tapi pasti,” tuturnya.

Kesimpulan

Wacana penyelarasan langkah antara Teater Imago dan TENA masih terbuka, namun membutuhkan pembahasan lebih mendalam, terutama terkait keberlanjutan sumber daya, strategi produksi, dan komitmen jangka panjang antar penggerak teater.

Keduanya memiliki sejarah dan peran penting dalam perkembangan teater Medan. Namun agar kapal seni ini benar-benar mampu berlayar jauh, diperlukan bukan hanya semangat dan gagasan, tetapi juga fondasi yang kuat, tenaga kolektif, dan keberanian untuk mengarungi gelombang panjang perjalanan seni.

Penulis : guntar

Editor : ameri

Berita Terkait

Jejak Majapahit Dihidupkan Kembali, Menbud Fadli Zon Sulap Candi Jabung Jadi Pusat Ekosistem Budaya
Menatap Sunyi yang Retak: Ulasan atas Kumpulan Cerpen “Jangan Tatap Mataku”
Banyuwangi Art Exhibition 2025 Hadirkan 157 Karya, Lukisan Bupati Ditawar Rp 1 Triliun
Banjir dan Longsor Rusak Situs Budaya, LKKI Minta Pemerintah Bertindak Cepat
Tari Sufi Kian Hidup di Pesantren Indonesia, Perpaduan Dzikir dan Keindahan Gerak
Naskah Monolog “Pisang Terakhir”
Kemenag Akhiri Tugas Penyelenggaraan Haji dengan Indeks Kepuasan Jamaah Capai 88,46
Badan Bahasa Dukung Penuh Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 08:28 WIB

Jejak Majapahit Dihidupkan Kembali, Menbud Fadli Zon Sulap Candi Jabung Jadi Pusat Ekosistem Budaya

Sabtu, 10 Januari 2026 - 09:56 WIB

Menatap Sunyi yang Retak: Ulasan atas Kumpulan Cerpen “Jangan Tatap Mataku”

Senin, 22 Desember 2025 - 07:07 WIB

Banyuwangi Art Exhibition 2025 Hadirkan 157 Karya, Lukisan Bupati Ditawar Rp 1 Triliun

Minggu, 21 Desember 2025 - 10:01 WIB

Banjir dan Longsor Rusak Situs Budaya, LKKI Minta Pemerintah Bertindak Cepat

Rabu, 12 November 2025 - 19:23 WIB

Tari Sufi Kian Hidup di Pesantren Indonesia, Perpaduan Dzikir dan Keindahan Gerak

Berita Terbaru

Gerbang Tol Ambara (foto. ist)

Transportasi

Tol Fungsional Jadi Andalan Urai Macet Mudik Lebaran 2026

Kamis, 12 Mar 2026 - 13:20 WIB