Jejak Majapahit Dihidupkan Kembali, Menbud Fadli Zon Sulap Candi Jabung Jadi Pusat Ekosistem Budaya

- Penulis

Senin, 26 Januari 2026 - 08:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

menbud saat menyaksikian Candi Jabung. (dok. rentak.id)

menbud saat menyaksikian Candi Jabung. (dok. rentak.id)

JAKARTA – Revitalisasi kawasan Candi Jabung di Kabupaten Probolinggo kini memasuki babak baru. Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, turun langsung meninjau situs peninggalan era Majapahit tersebut sekaligus menegaskan pentingnya pengelolaan cagar budaya sebagai ekosistem budaya yang berkelanjutan dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Candi Jabung yang telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional dinilai memiliki nilai sejarah dan arkeologis yang sangat tinggi. Menurut Fadli Zon, kawasan candi yang direvitalisasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur ini memiliki luas sekitar lima hektare dan merupakan peninggalan penting dari masa kejayaan Majapahit.

“Berdasarkan hasil penelitian, Candi Jabung didirikan pada era Majapahit dengan penanggalan tahun 1276 Saka atau setara 1354 Masehi. Ini merupakan bagian penting dari sejarah Nusantara,” ujar Fadli Zon dalam keterangannya di lokasi, Minggu (25/1/2026).

Ia menjelaskan, Candi Jabung dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan disebut secara jelas dalam kitab Negarakertagama. Dalam naskah tersebut, kawasan ini tercatat sebagai salah satu tempat persinggahan Raja Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan ke wilayah timur Jawa, tepatnya di Desa Banger.

“Secara arsitektural, kawasan ini sangat indah. Candi Jabung bukan hanya penting secara sejarah, tetapi juga memiliki daya tarik visual yang kuat,” katanya.

Keunikan lain dari Candi Jabung terletak pada material bangunannya. Berbeda dengan sebagian besar candi di Jawa Timur yang menggunakan batu andesit, Candi Jabung dibangun dari bata merah, mencerminkan ciri khas arsitektur Majapahit. Selain itu, candi ini juga menunjukkan akulturasi budaya Hindu dan Buddha, serta kepercayaan yang berkembang pada masa tersebut, dengan bentuk bangunan yang dimaknai menyerupai Lingga-Yoni.

Sementara itu, Kepala BPK Wilayah XI Jawa Timur, Endah Budi Heryani, menjelaskan bahwa penataan kawasan Candi Jabung telah dilakukan sejak 2024 hingga 2025. Ke depan, pengembangan dan pemanfaatan kawasan akan dilakukan secara kolaboratif bersama pemerintah desa dan pemerintah kabupaten.

“Setelah penataan, tahap berikutnya adalah pengembangan pemanfaatan kawasan agar Candi Jabung tidak hanya terjaga, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Menteri Fadli Zon juga menekankan pentingnya pelestarian pascarevitalisasi. Menurutnya, tantangan pelindungan Candi Jabung tidak hanya berasal dari aktivitas manusia seperti vandalisme, tetapi juga dari faktor lingkungan dan perubahan iklim. Letak candi yang berada di kawasan pesisir membuatnya rentan terhadap paparan angin laut yang mengandung garam dan memerlukan penanganan khusus.

Selain aspek pelindungan, Fadli Zon menegaskan bahwa pemanfaatan kawasan Candi Jabung harus sejalan dengan amanat undang-undang. Kawasan ini dinilai berpotensi dikembangkan sebagai kantong budaya melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan, seperti festival budaya, pertunjukan musik, film, serta penguatan tradisi lokal.

“Pengembangan kawasan Candi Jabung juga dapat diintegrasikan dengan potensi ekonomi kreatif dan pariwisata lokal, termasuk wisata kuliner khas Probolinggo. Dengan begitu, kawasan ini bisa hidup sebagai satu ekosistem budaya yang utuh,” jelasnya.

Dengan pendekatan terpadu, Candi Jabung diharapkan berkembang menjadi destinasi wisata budaya, sejarah, spiritual, dan religi, sekaligus memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pengelolaan Candi Jabung melalui kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat, agar pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya dapat berjalan beriringan secara berkelanjutan.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Menatap Sunyi yang Retak: Ulasan atas Kumpulan Cerpen “Jangan Tatap Mataku”
Banyuwangi Art Exhibition 2025 Hadirkan 157 Karya, Lukisan Bupati Ditawar Rp 1 Triliun
Banjir dan Longsor Rusak Situs Budaya, LKKI Minta Pemerintah Bertindak Cepat
Tari Sufi Kian Hidup di Pesantren Indonesia, Perpaduan Dzikir dan Keindahan Gerak
Ketua Teater Imago Medan Tanggapi Aspirasi Kolaborasi dengan TENA: “Kapal Seni Perlu Bahan Bakar, Bukan Sekadar Ide”
Naskah Monolog “Pisang Terakhir”
Kemenag Akhiri Tugas Penyelenggaraan Haji dengan Indeks Kepuasan Jamaah Capai 88,46
Badan Bahasa Dukung Penuh Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 08:28 WIB

Jejak Majapahit Dihidupkan Kembali, Menbud Fadli Zon Sulap Candi Jabung Jadi Pusat Ekosistem Budaya

Sabtu, 10 Januari 2026 - 09:56 WIB

Menatap Sunyi yang Retak: Ulasan atas Kumpulan Cerpen “Jangan Tatap Mataku”

Senin, 22 Desember 2025 - 07:07 WIB

Banyuwangi Art Exhibition 2025 Hadirkan 157 Karya, Lukisan Bupati Ditawar Rp 1 Triliun

Minggu, 21 Desember 2025 - 10:01 WIB

Banjir dan Longsor Rusak Situs Budaya, LKKI Minta Pemerintah Bertindak Cepat

Rabu, 12 November 2025 - 19:23 WIB

Tari Sufi Kian Hidup di Pesantren Indonesia, Perpaduan Dzikir dan Keindahan Gerak

Berita Terbaru