BANGKOK – Delegasi Indonesia yang dipimpin Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Suharti, hadir dalam sidang ke-20 ASEAN Senior Officials Meeting on Education (20th SOM-ED) yang berlangsung di Bangkok, Thailand, pada 21–22 Agustus 2025.
Dalam forum tersebut, Suharti menjadi pemimpin delegasi Pemerintah Republik Indonesia yang terdiri atas perwakilan dari Kemendikdasmen, Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Kementerian Luar Negeri, serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Bangkok.
Dalam sidang, Suharti memaparkan perkembangan penyusunan ASEAN–SEAMEO Joint Roadmap on Early Childhood Care and Education (ECCE) in Southeast Asia. Peta jalan ini merupakan tindak lanjut dari ASEAN Leaders’ Declaration on ECCE yang bertujuan memperkuat mutu pendidikan anak usia dini (PAUD) di kawasan.
“Peta jalan ini disusun sebagai panduan komprehensif untuk menggerakkan pembangunan sektor PAUD yang berkualitas. Kami berharap semangat kolaborasi yang terbangun selama proses penyusunan dapat terus berlanjut pada fase implementasi 2026–2030,” ujar Suharti dalam sidang yang dihadiri pejabat tinggi dari 11 negara anggota ASEAN.
Ia juga mengajak seluruh negara ASEAN berkolaborasi melalui tiga inisiatif utama, yakni:
Memperkuat dialog regional dan berbagi praktik baik,
Meningkatkan kapasitas pembuat kebijakan dan tenaga PAUD,
Membangun kerangka pemantauan regional berbasis bukti.
Komitmen Indonesia pada ASEAN Workplan on Education
Selain fokus pada PAUD, Suharti menyampaikan inisiatif Indonesia untuk mendukung implementasi ASEAN Workplan on Education 2021–2025, di antaranya:
Peluncuran Panduan Nasional Pendidikan Iklim untuk integrasi pendidikan lingkungan di sekolah,
Pengembangan Rumah Pendidikan,
Peningkatan kapasitas kepemimpinan guru melalui program di tujuh Pusat SEAMEO yang ada di Indonesia.
“Melalui capaian ini, Indonesia menegaskan komitmen kuat terhadap ASEAN Workplan on Education yang sedang berjalan, sekaligus mendukung penuh penyusunan ASEAN Workplan 2026–2030,” tegasnya.
Pemimpin sidang, Dr. Suthep Kaengsanthia yang juga Permanent Secretary of Education Thailand, menekankan pentingnya kerja sama pendidikan di kawasan. Menurutnya, pelajar ASEAN harus dibekali keterampilan yang relevan untuk menghadapi perubahan global yang cepat.
Senada, Direktur Institut Leimena, Matius Ho, menambahkan bahwa penguatan kerja sama pendidikan juga harus melibatkan aspek keagamaan dan lintas budaya. Sebagai tindak lanjut, Institut Leimena bersama Kemendikdasmen akan menyelenggarakan International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy bertema “Education and Social Trust in Multifaith and Multicultural Societies” pada 11–12 November 2025 di Jakarta.
“Kami bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyelenggarakan konferensi internasional ini. Kami mengundang seluruhnya untuk hadir di Jakarta pada 11–12 November 2025,” pungkas Matius.
Penulis : amanda az
Editor : reni diana













