Puan Maharani: Kemerdekaan Harus Dirasakan Rakyat dalam Kehidupan Sehari-hari

- Penulis

Minggu, 17 Agustus 2025 - 14:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RENTAK.ID – Ketua DPR RI Puan Maharani menghadiri upacara kenegaraan peringatan detik-detik Proklamasi dalam rangka HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Ahad (17/8/2025). Prosesi berlangsung khidmat dengan Presiden RI Prabowo Subianto bertindak sebagai inspektur upacara.

Sejumlah tokoh hadir dalam peringatan itu, mulai dari pimpinan lembaga tinggi negara, para menteri Kabinet Merah Putih, mantan presiden, hingga Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Kehadiran undangan dari berbagai lapisan masyarakat membuat perayaan semakin meriah.

Puan yang tampil anggun dengan pakaian adat Minangkabau berwarna merah duduk di podium utama berdampingan dengan Presiden Prabowo. Ia diapit oleh Ketua MPR RI Ahmad Muzani dan Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin.

Dalam kesempatan itu, Puan menegaskan pentingnya menjadikan usia 80 tahun kemerdekaan Indonesia sebagai momen refleksi bersama.

“Delapan dekade Indonesia merdeka menjadi momen penting untuk merefleksikan perjalanan bangsa sekaligus memperkuat komitmen dalam membangun masa depan bersama,” ujar Puan.

Menurutnya, cita-cita Indonesia Emas bukan sekadar wacana. “Indonesia emas bukanlah mimpi semu, melainkan janji luhur yang kita perjuangkan bersama,” tambahnya.

Kemerdekaan Harus Hadir di Kehidupan Rakyat

Puan menekankan bahwa kemerdekaan tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan. “Kemerdekaan yang diperingati setiap tahun tidak boleh berhenti sebagai seremoni. Bagi rakyat, makna merdeka harus bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari: dari isi dapur yang tidak lagi kosong, biaya sekolah anak yang tidak membuat orang tua berutang, hingga layanan kesehatan yang bisa diakses tanpa rasa khawatir,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti bahwa ukuran sejati dari kemerdekaan bukan pada lamanya Indonesia berdiri, melainkan seberapa besar negara hadir dalam meringankan beban warganya.

“Apakah harga pangan bisa dijangkau oleh rakyat kecil? Apakah orang tua masih harus berutang untuk menyekolahkan anaknya? Apakah masyarakat desa dan perbatasan bisa mengakses layanan kesehatan tanpa harus menempuh perjalanan berjam-jam?” tutur Puan.

“Inilah pertanyaan-pertanyaan mendasar yang menjadi ukuran sejati dari kemerdekaan yang kita rayakan hari ini,” imbuhnya.

Menyinggung Tema HUT ke-80 RI

Puan juga menyinggung tema kemerdekaan tahun ini: Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.

“Negara harus hadir dengan kebijakan yang tidak sekadar indah di atas kertas, tetapi benar-benar meringankan beban hidup rakyat di tengah ketidakpastian ekonomi global,” kata Puan.

Ia memberi contoh di bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial. Mulai dari puskesmas yang memiliki tenaga medis tetap, sekolah dengan guru berkualitas, hingga jaminan upah layak bagi pekerja.

“Merdeka berarti tidak ada lagi rakyat yang merasa terpinggirkan di negeri sendiri. Merdeka berarti pembangunan hadir merata, dari kota besar hingga pulau terluar,” tegasnya.

Puan pun menekankan pentingnya perlindungan bagi petani, nelayan, buruh, guru, hingga pelaku UMKM. “Bagaimana driver ojek online, pedagang kaki lima, pekerja profesional termasuk dari kalangan Gen-Z hingga penggerak perekonomian lainnya dapat perhatian dari negara,” ujarnya.

Semangat Gotong Royong

Di penghujung pernyataannya, cucu Proklamator RI Sukarno itu mengajak bangsa Indonesia menjaga makna kemerdekaan agar tetap hidup di tengah rakyat.

“Dirgahayu ke-80 Republik Indonesia. Semoga semangat kemerdekaan senantiasa menjadi landasan dalam menghadirkan kebijakan yang berpihak pada rakyat, dan menjadi pelita harapan untuk hadirnya bangsa merdeka yang sejati,” tutup Puan.

Sentuhan Adat di Istana Merdeka

Dalam upacara tersebut, Puan mengenakan pakaian adat Minangkabau, Bundo Kanduang, lengkap dengan hiasan kepala Tingkolok yang melambangkan kedudukan perempuan sebagai pemilik rumah gadang. Penampilannya semakin sempurna dengan perhiasan tradisional khas Minang.

Usai upacara, Puan sempat berfoto bersama Presiden Prabowo yang mengenakan pakaian adat Betawi, Demang dan Kain Ujung Serong.(***)

 

 

Penulis : Zul

Editor : Ami

Berita Terkait

AHY Tekankan Konsolidasi Demokrat di Musda Jateng, Target Rebut Kemenangan Pemilu 2029
Megawati Soekarnoputri Hadiri Peringatan 71 Tahun Konferensi Asia Afrika di Sekolah Partai PDIP
Amnesty Desak DPR Tinjau Keikutsertaan Indonesia di Dewan Perdamaian Bentukan Trump
DPD–MPR Perkuat Sinergi, Bahas Kolaborasi Strategis hingga Penertiban Aset Negara
Imam Besar Masjid Nabawi Pimpin Doa Saat Megawati Ziarah ke Makam Rasulullah
Megawati Terima Gelar Doktor Kehormatan di Princess Naurah University Arab Saudi
Megawati Hadiri Zayed Award 2026, Basarah Soroti Diplomasi Kemanusiaan Indonesia
Masuk Board of Peace, Prabowo Dinilai Jalankan Strategi Berisiko demi Palestina Merdeka

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 11:59 WIB

AHY Tekankan Konsolidasi Demokrat di Musda Jateng, Target Rebut Kemenangan Pemilu 2029

Sabtu, 18 April 2026 - 13:48 WIB

Megawati Soekarnoputri Hadiri Peringatan 71 Tahun Konferensi Asia Afrika di Sekolah Partai PDIP

Jumat, 13 Februari 2026 - 08:37 WIB

Amnesty Desak DPR Tinjau Keikutsertaan Indonesia di Dewan Perdamaian Bentukan Trump

Kamis, 12 Februari 2026 - 08:05 WIB

DPD–MPR Perkuat Sinergi, Bahas Kolaborasi Strategis hingga Penertiban Aset Negara

Kamis, 12 Februari 2026 - 07:21 WIB

Imam Besar Masjid Nabawi Pimpin Doa Saat Megawati Ziarah ke Makam Rasulullah

Berita Terbaru