Program Mastera 2025: Badan Bahasa Perkuat Jejaring Penyair Muda Asia Tenggara

- Penulis

Jumat, 5 September 2025 - 16:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Badan Bahasa menyelenggarakan Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Tahun 2025 untuk genre puisi (dok. rentak.id)

Badan Bahasa menyelenggarakan Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Tahun 2025 untuk genre puisi (dok. rentak.id)

JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menggelar Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) 2025 yang berfokus pada genre puisi.

Kegiatan ini berlangsung di Jakarta pada 1–5 September 2025, diikuti 22 peserta dari tiga negara, yaitu 18 peserta dari Indonesia, dua dari Brunei Darussalam, dan dua dari Malaysia.

Peserta yang terpilih merupakan penulis berpengalaman dengan usia maksimal 35 tahun, yang diharapkan dapat menjadi generasi baru penyair yang siap berkontribusi dalam perkembangan sastra Asia Tenggara.

Program ini dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa sastra tetap menjadi bagian penting dalam misi Badan Bahasa meskipun tidak tercantum dalam nama lembaga tersebut.

“Bahasa tanpa sastra seperti mata uang tanpa nilai. Sastra memperhalus rasa, mewujudkan asa, dan meneguhkan makna,” ujar Hafidz, Kamis (4/9/2025).

Hafidz juga mengajak seluruh peserta untuk menjaga bahasa sebagai bagian dari kedaulatan bangsa, mengingat sejarah perjuangan Indonesia yang berlandaskan pada komitmen satu bahasa, yaitu Bahasa Indonesia.

“Mari kita jaga bahasa bangsa, sebab kedaulatan bangsa sangat ditopang oleh kedaulatan bahasa,” tegasnya.

Sekretaris Badan Bahasa sekaligus Sekretaris Mastera Indonesia, Ganjar Harimansyah, menjelaskan bahwa forum ini dirancang sebagai ruang interaksi kreatif bagi para peserta dan pembimbing.

“Mastera menjadi tempat bertukar pengalaman, komunikasi, dan bedah karya. Kami berharap forum ini memperkuat jejaring penulis lintas negara di kawasan Asia Tenggara,” jelas Ganjar.

Ia menambahkan, Mastera telah lama menjadi wadah kolaborasi negara-negara seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Singapura dalam memperkenalkan dan mengkaji karya sastra secara bersama.

Pembimbing asal Malaysia, Encik Zainal Bin Palit, juga menekankan pentingnya ikatan batin dalam komunitas sastra.

“Ikatan hati dan jiwa melalui puisi menjadi fondasi kuat yang tak terlihat. Peserta harus saling belajar, bukan hanya dari pembimbing, tetapi juga dari sesama penyair,” tuturnya.

Senada dengan itu, pembimbing dari Brunei Darussalam, Mohd. Noor Sham, menyebut Mastera sebagai ruang untuk memperdalam nilai kesusastraan melalui saling mengenal dan berbagi pengalaman.

Sementara dari Indonesia, tiga pembimbing turut hadir, yakni Nenden Lilis Aisyah, Cecep Syamsul Hari, dan Agus R. Sarjono. Agus menegaskan bahwa menulis puisi erat kaitannya dengan kebersamaan.

“Dalam menulis puisi, penting untuk merasakan bahwa kita tidak sendirian. Mastera menjadi ruang untuk menyadari bahwa kita memiliki teman seperjuangan dalam dunia kepenulisan,” ujarnya.

Salah satu momen berkesan dalam kegiatan ini adalah sesi pencerahan yang dibawakan maestro sastra Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Ia berbagi pengalaman tentang perjalanan hidupnya dari seorang yang tidak dikenal menjadi sosok berpengaruh melalui karya puisi.

“Puisi dapat lahir dari pengalaman sederhana maupun benda konkret. Menulis puisi adalah jalan yang bisa mengubah hidup dan memberi makna bagi dunia,” ucap Sutardji.

Ia juga berpesan agar penyair tidak menutup mata terhadap kondisi sosial dan politik, namun tetap mengedepankan nilai keadilan dalam karya.

“Menulis puisi adalah bentuk sedekah, memberikan nikmat kepada orang lain tanpa harus menempuh jalan kekerasan,” tambahnya.

Salah satu peserta dari Sumatra Utara, Titan Sadewo, mengungkapkan kebanggaannya bisa bertemu langsung dengan penyair yang selama ini hanya ia kenal lewat buku dan media sosial. Titan juga mendapat kesempatan tampil mengiringi Sutardji dengan beatbox pada penutupan acara yang digelar di Panggung Terbuka W.S. Rendra.

Program ini resmi ditutup oleh Dora Amalia, Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas terbentuknya Organisasi Alumni Program Penulisan Mastera Tingkat Serantau dan Opera Indonesia.

“Kami berharap alumni Mastera dapat menyebarkan manfaat kegiatan ini ke negara dan daerah masing-masing, memperluas jejaring, dan memperkuat pengaruh sastra di kawasan Asia Tenggara,” kata Dora.

Program tahunan ini bukan hanya ajang pelatihan menulis, tetapi juga momentum memperkuat diplomasi kebudayaan antarnegara. Melalui puisi, para penyair muda diharapkan dapat membawa pesan perdamaian, memperkuat identitas kolektif, dan merespons tantangan global melalui karya sastra.

Penulis : regardo sipiroko

Editor : gardo

Berita Terkait

Kebun Hantu Hadir di TIM, Mengungkap “Hantu” yang Tersimpan dalam Tubuh Aktor
Candi Batujaya Karawang Jangan Terbengkalai, DPR Dorong Pengembangan Wisata 3A
Revitalisasi Keraton Surakarta Dimulai, 13 Kawasan Jadi Sasaran Penataan
Restorasi Besar Candi Prambanan Disiapkan, 218 Candi Perwara Masih Runtuh
GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau
GEMPHAR Gelar Santunan Anak Yatim dan Lomba Tahfiz Al-Qur’an di Sukadanau
Kebakaran Desa Adat Sade Lombok Hanguskan 167 Bangunan, Keris dan Naskah Kuno Ikut Musnah
Fadli Zon Ajak Anak Indonesia Lestarikan Permainan Tradisional di Hari Anak Nasional 2026

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:28 WIB

Kebun Hantu Hadir di TIM, Mengungkap “Hantu” yang Tersimpan dalam Tubuh Aktor

Senin, 28 September 2026 - 11:16 WIB

Candi Batujaya Karawang Jangan Terbengkalai, DPR Dorong Pengembangan Wisata 3A

Jumat, 25 September 2026 - 14:01 WIB

Revitalisasi Keraton Surakarta Dimulai, 13 Kawasan Jadi Sasaran Penataan

Rabu, 9 September 2026 - 07:51 WIB

Restorasi Besar Candi Prambanan Disiapkan, 218 Candi Perwara Masih Runtuh

Senin, 7 September 2026 - 13:31 WIB

GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau

Berita Terbaru