JAKARTA — Ancaman bencana di Indonesia terus berubah mengikuti kondisi alam. Banjir dan tanah longsor masih menjadi ancaman di sejumlah wilayah, sementara kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini turut membayangi akibat fenomena El Nino.
Kondisi tersebut membuat penguatan sistem mitigasi bencana tidak lagi bisa hanya mengandalkan respons setelah bencana terjadi. Kecepatan membaca peringatan dini dan mengambil tindakan di lapangan dinilai menjadi kunci untuk menekan jumlah korban maupun kerugian.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan pentingnya membangun sistem penanggulangan bencana yang adaptif, berbasis teknologi, sekaligus cepat merespons kondisi di lapangan.
Hal itu disampaikan Pratikno saat membuka Emergency Disaster Reduction & Rescue (EDRR) Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (12/8/2026).
“Sebagaimana kita tahu, kita adalah negara yang memiliki risiko bencana yang tinggi. Misalnya beberapa waktu lalu banyak sekali banjir dan tanah longsor, saat ini kita juga menghadapi kekeringan dan karhutla akibat El Nino,” ujar Pratikno.
Menurut dia, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan Indonesia dalam mendeteksi potensi bencana sedini mungkin. Namun, keberadaan teknologi peringatan dini tidak akan maksimal apabila tidak diikuti kesiapan masyarakat dan aparat untuk segera bertindak.
Karena itu, Pratikno menekankan bahwa early warning system harus diikuti dengan early action. Ketika peringatan dikeluarkan, seluruh pihak harus memahami langkah yang harus dilakukan agar risiko bencana dapat ditekan.
“Tentu saja kita butuh ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus ter-update. Tetapi yang lebih penting lagi juga adalah kita merespons secara cepat agar risiko dari bencana bisa diminimalkan. Pada hari ini kita menekankan tentang pentingnya aksi merespons peringatan dini,” katanya.
EDRR Indonesia 2026 menjadi salah satu momentum untuk memperkuat kolaborasi dan pertukaran pengalaman dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.
Memasuki penyelenggaraan edisi ketiga, pameran dan konferensi tersebut digelar pada 12-14 Agustus 2026 di Hall D2 JIExpo Kemayoran. Kegiatan tahun ini mengangkat tema “Aksi Merespons Peringatan Dini dalam Kerangka Rumah Resiliensi Indonesia”.
Selain menghadirkan konferensi, EDRR Indonesia 2026 juga memamerkan berbagai teknologi dan perangkat keselamatan yang dapat mendukung upaya mitigasi, penyelamatan, hingga penanganan keadaan darurat.
Pratikno berharap forum tersebut tidak berhenti pada pertukaran teknologi maupun transaksi produk. Menurutnya, kerja sama internasional harus diarahkan pada pengembangan kapasitas dan industri kebencanaan di dalam negeri.
“Kita harapkan mitra-mitra dari luar negeri, bukan hanya menjual produknya, tetapi lebih penting adalah riset bersama, mengembangkan industri bersama, berbagi ilmu pengetahuan dalam rangka untuk memitigasi, meminimalisir dari risiko bencana,” tegasnya.
Pratikno juga mengingatkan bahwa penanggulangan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Kesiapsiagaan masyarakat, penguatan kelembagaan, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan secara bersamaan.
Menurut dia, ekosistem penanggulangan bencana yang kuat akan membuat Indonesia semakin siap menghadapi berbagai ancaman, termasuk bencana hidrometeorologi yang semakin dinamis.
“Mari kita sama-sama terus tingkatkan kesadaran masyarakat, kita bangun masyarakat yang tangguh. Ilmu pengetahuan dan teknologi kita tangguh, kelembagaan kita tangguh,” tutur Pratikno.
“Jadi kita semakin tangguh menghadapi bencana, sehingga bencana bisa kita minimalisir risikonya,” sambungnya.
Sejumlah pejabat turut hadir dalam pembukaan EDRR Indonesia 2026. Di antaranya Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, Kepala Basarnas Muhammad Syafii, serta perwakilan TNI, Polri, kementerian dan lembaga terkait.
Penguatan sistem peringatan dini, kecepatan respons, pemanfaatan teknologi, dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan Indonesia menghadapi risiko bencana yang terus berkembang.
Penulis : lazir
Editor : ameri






