JAKARTA – Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (DPN Permahi) menyoroti kebijakan Pemerintah Amerika Serikat yang menaikkan tarif impor sebesar 32 persen terhadap produk-produk asal Indonesia. Ketua Umum DPN Permahi, Fahmi Namakule, menyebut kebijakan itu tidak lepas dari dinamika politik luar negeri dan posisi geopolitik Indonesia saat ini.
“Menurut kami, sikap politik luar negeri Indonesia secara normatif masih bebas aktif. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, posisi tawar Indonesia di kancah geopolitik terlihat cenderung condong ke poros Timur. Ini yang bisa saja memantik reaksi dari Amerika Serikat sebagai penggerak utama poros Barat,” ujar Fahmi dalam keterangannya, Kamis (10/7/2025).
Fahmi menilai, dalam berbagai aspek seperti kebijakan ekonomi, keamanan, pertahanan, hingga isu hak asasi manusia (HAM), posisi Indonesia kerap berbeda dengan Amerika Serikat. Perbedaan ini dinilai cukup signifikan untuk memengaruhi sikap AS dalam membuat kebijakan ekonomi luar negeri terhadap Indonesia.
Menurut Fahmi, Indonesia perlu menyikapi kebijakan kenaikan tarif impor ini secara serius. Pasalnya, banyak sektor industri di dalam negeri yang menggantungkan diri pada ekspor ke Amerika Serikat. Sektor-sektor tersebut di antaranya adalah kelapa sawit, tekstil, karet, elektronik, hingga produk makanan.
Lebih lanjut, Fahmi justru mengapresiasi pendekatan Presiden Prabowo Subianto dalam diplomasi ekonomi luar negeri. Ia menyebut, intensitas kehadiran Presiden Prabowo dalam berbagai forum strategis internasional dan kunjungan kenegaraan telah memperkuat posisi tawar Indonesia.
“Puncaknya adalah saat Indonesia resmi bergabung dengan BRICS, yang merupakan aliansi negara-negara dengan orientasi kerja sama ekonomi dan politik internasional,” jelasnya.
Menurutnya, BRICS bisa menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperluas pasar dan memperkuat hubungan bilateral di berbagai sektor. Dengan jumlah populasi gabungan negara anggota yang mencapai lebih dari 3 miliar jiwa, BRICS dinilai membuka akses pasar baru untuk produk unggulan Indonesia seperti batu bara, CPO, tekstil, hingga makanan olahan.
Fahmi juga menyoroti potensi kerja sama strategis dengan negara-negara anggota BRICS, seperti Rusia dalam bidang pertahanan, India untuk sektor tekstil dan teknologi informasi, serta Tiongkok dalam pengembangan perdagangan dan infrastruktur. Selain itu, Afrika Selatan dinilai menjanjikan dalam sektor pertambangan dan energi.
“Tanpa Amerika Serikat pun, Indonesia tetaplah bangsa besar yang merdeka dan memiliki sumber daya melimpah. Kita memiliki posisi tawar yang sangat berarti dalam percaturan dunia,” tegas Fahmi.
Penulis : lazir
Editor : ameri













