JAKARTA – Dalam suasana hangat dan penuh semangat kebersamaan, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag, M.Pd, resmi mengukuhkan kepengurusan baru Perkumpulan Juang Kencana (JUKEN) periode 2024–2028.
Acara ini dirangkaikan dengan peluncuran logo baru JUKEN dan pembukaan Silaturahmi JUKEN-AKU (Andalan Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor/UPPKA) Tahun 2025, yang digelar di Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, Kamis (24/4/2025).
Dalam sambutannya, Menteri Wihaji menekankan pentingnya peran JUKEN sebagai wadah para pensiunan BKKBN yang dinilai memiliki pemahaman mendalam tentang dinamika pembangunan keluarga dan isu-isu kependudukan. Ia juga menyoroti tantangan bonus demografi yang kini mulai bergeser ke arah populasi menua.
“Selamat kepada pengurus JUKEN 2024–2028 yang hari ini kita kukuhkan. JUKEN adalah organisasi yang dihuni oleh orang-orang yang telah memahami suasana kebatinan pembangunan keluarga dan kependudukan. Saat ini, isu aging population sudah mencapai 11,7% dari total penduduk kita yang berkisar 282 hingga 284 juta jiwa. Ini adalah keniscayaan dari siklus kehidupan,” ujar Wihaji.
Namun, ia menambahkan bahwa angka 11,7% tersebut bukan sekadar statistik, melainkan peluang untuk memberdayakan para lansia sebagai bagian dari bonus demografi yang belum sepenuhnya habis.
“Pertanyaannya sekarang, apa yang bisa kita lakukan dengan 11,7% penduduk lansia ini? Apalagi mereka masih masuk dalam kategori usia produktif lanjut, yakni antara 60 hingga 65 tahun. Maka, kita perlu menginspirasi dan menginisiasi kegiatan yang bisa menghidupkan kembali potensi mereka,” tegasnya.
Menteri Wihaji lalu memperkenalkan tiga program unggulan yang dirancang BKKBN untuk mendukung kemandirian lansia:
Lansia Berdaya
Program ini fokus pada pemberdayaan ekonomi melalui kegiatan wirausaha yang mendorong kreativitas dan produktivitas lansia.
Sekolah Lansia
“Sekolah” ini bukan pendidikan formal, tetapi wadah aktivitas positif seperti pengajian, seni, dan pelatihan keterampilan. “Kira-kira ini seperti S1, S2, S3 versi nonformal yang menyenangkan dan mengisi hari-hari para lansia,” jelas Wihaji.
Kartu Lansia
Sebuah gagasan yang tengah diformulasikan, yaitu pemberian kartu khusus lansia yang memungkinkan mereka mendapatkan fasilitas dan potongan harga di berbagai sektor, termasuk transportasi. “Program ini masih kita bahas lebih lanjut dengan kementerian terkait, khususnya Kementerian Sosial,” jelasnya.
“BKKBN fokus pada aspek perubahan perilaku, sementara untuk bantuan sosial ada di bawah Kementerian Sosial.”
Dalam momen tersebut, turut hadir tokoh senior BKKBN, Prof. Haryono Suyono, M.A., Ph.D., yang menjabat sebagai Kepala BKKBN di era Presiden Soeharto. Kehadirannya disambut penuh hormat oleh Menteri Wihaji, yang menyebut Prof. Haryono sebagai tokoh sentral dalam sejarah panjang program kependudukan nasional.
“Saya ucapkan terima kasih kepada Prof. Haryono dan para senior yang luar biasa. Kalau bukan karena semangat sehat dan kepedulian, saya yakin mereka tidak akan hadir di sini. JUKEN adalah keluarga yang sangat memahami hulu hingga hilir kerja BKKBN, dan dukungan doa serta pengalaman mereka sangat berharga,” ucap Wihaji.
Ia pun berharap, ke depan JUKEN bisa terlibat aktif dalam program Lansia Berdaya serta berbagai kegiatan kolaboratif untuk mendukung ketahanan keluarga dan pembangunan kependudukan yang inklusif. ***
Penulis : lazir






