Ki Darmaningtyas: Penjurusan SMA Perkuat Fokus Belajar dan Minat Siswa

- Penulis

Senin, 14 April 2025 - 11:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi pelajar SMA masih belum tahu soal jurusan baru (ilustrasi dibikin oleh copilot)

Ilustrasi pelajar SMA masih belum tahu soal jurusan baru (ilustrasi dibikin oleh copilot)

JAKARTA – Di tengah dinamika dunia pendidikan nasional, wacana untuk mengembalikan sistem penjurusan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) kembali ramai diperbincangkan. Menanggapi hal ini, aktivis pendidikan dari Tamansiswa, Ki Darmaningtyas, menyatakan bahwa penjurusan justru memiliki lebih banyak manfaat dibandingkan sistem peminatan yang saat ini diterapkan dalam Kurikulum Merdeka.

“Saya melihat penjurusan itu jauh lebih realistis dan efektif, baik dari sisi pembelajaran maupun manajemen sekolah,” kata Darmaningtyas, Senin (14/4/2025).

Menurutnya, penjurusan membantu menghindari tumpang tindih pelajaran antar bidang seperti IPA, IPS, dan Bahasa. “Dengan adanya pemisahan yang jelas, siswa bisa fokus memperkuat pelajaran yang relevan dengan jurusan kuliah yang mereka incar,” ujarnya.

Misalnya, siswa yang bercita-cita menjadi dokter bisa lebih mendalami biologi dan kimia. Sedangkan mereka yang ingin masuk teknik akan fokus pada matematika dan fisika. Begitu juga siswa yang ingin mendalami sastra atau linguistik dapat mengambil jurusan Bahasa sejak awal.

Ki Darmaningtyas menyebut sistem penjurusan juga mempermudah sekolah dalam manajemen pembelajaran. Mulai dari penjadwalan, alokasi guru, hingga perencanaan fasilitas fisik seperti laboratorium.

“Sekolah jadi tahu pasti berapa guru yang dibutuhkan untuk setiap jurusan. Pemerintah pun bisa memetakan kebutuhan guru SMA berdasarkan mata pelajaran secara lebih akurat,” jelasnya.

Ia menambahkan, keterbatasan jumlah guru ASN dan kewajiban mengajar minimal 24 jam per minggu agar bisa menerima tunjangan profesi, menjadi alasan kuat mengapa penjurusan lebih masuk akal untuk diterapkan kembali.

Namun, ia tak menampik ada sisi negatif dari sistem ini, yakni stigma bahwa jurusan IPA dianggap lebih bergengsi daripada IPS atau Bahasa.

“Itu masalah sosiologis. Padahal kenyataannya sekarang banyak profesi baru yang menjanjikan justru berasal dari bidang sosial humaniora,” tegasnya.

Berdasarkan evaluasi terhadap sistem peminatan yang saat ini masih dalam tahap uji coba, Darmaningtyas menilai implementasinya belum efektif di lapangan. Banyak sekolah yang mengalami kendala, baik dari sisi kurikulum, pelaksanaan, hingga kesiapan guru.

“Maka dari itu, kembali ke penjurusan bukanlah langkah mundur. Justru ini langkah strategis agar siswa punya bekal kuat dan linier dengan jenjang pendidikan tinggi,” katanya.

Terkait waktu pelaksanaan penjurusan, ia mengusulkan dua opsi: dilakukan saat memasuki semester dua kelas X atau ketika naik ke kelas XI.

“Jika dilakukan di semester dua, siswa sudah punya gambaran dasar dari semua mata pelajaran. Tapi kalau dilakukan di kelas XI, siswa punya waktu lebih panjang untuk mengenali minat dan kemampuannya. Hanya saja, ini menuntut pendampingan lebih intens dari guru, wali kelas, konselor, dan orang tua,” jelasnya.

Sebagai catatan, dalam Kurikulum Merdeka, sistem peminatan diganti dengan pendekatan lintas minat yang lebih fleksibel. Namun, banyak pihak menilai pendekatan ini belum mampu menjawab kebutuhan dunia perguruan tinggi dan dunia kerja secara konkret. ***

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

KPPTI 2026 Digelar di Surabaya, Kemdiktisaintek Dorong Kampus Lebih Berdampak bagi Masyarakat
Mahasiswa Indonesia Berpeluang Kuliah di Jepang, Ini Program yang Dibahas Brian Yuliarto
500 Inovasi Anak Bangsa Siap Dipamerkan di Surabaya, Ada Robot AI hingga Motor Listrik
Semarak Hari Santri Nasional 2026, Klanting Gelar Pawai Ta’aruf dan Penyerahan Beasiswa Pendidikan Santri
Bahasa Indonesia Mulai Dilirik Anak Muda Rusia, 234 Ribu Orang di Dunia Belajar BIPA
Kemendikdasmen Raih Nusantara Awards 2026, Ini Terobosan Pendidikan yang Dapat Apresiasi
Berburu Kursi PTN, 450 Siswa SMAN 8 Bandung Andalkan Hasil TKA 2026
5.700 Mahasiswa Timor-Leste Kuliah di Indonesia, Riset Bersama Diperluas

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 12:02 WIB

KPPTI 2026 Digelar di Surabaya, Kemdiktisaintek Dorong Kampus Lebih Berdampak bagi Masyarakat

Senin, 2 November 2026 - 14:55 WIB

Mahasiswa Indonesia Berpeluang Kuliah di Jepang, Ini Program yang Dibahas Brian Yuliarto

Senin, 2 November 2026 - 11:36 WIB

500 Inovasi Anak Bangsa Siap Dipamerkan di Surabaya, Ada Robot AI hingga Motor Listrik

Minggu, 1 November 2026 - 13:51 WIB

Semarak Hari Santri Nasional 2026, Klanting Gelar Pawai Ta’aruf dan Penyerahan Beasiswa Pendidikan Santri

Minggu, 1 November 2026 - 09:22 WIB

Bahasa Indonesia Mulai Dilirik Anak Muda Rusia, 234 Ribu Orang di Dunia Belajar BIPA

Berita Terbaru