Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah menegaskan bahwa rangkaian bencana alam yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat harus dipandang sebagai ujian Allah sekaligus peringatan keras agar manusia memperbaiki perilaku dan tata kelola alam, bukan langsung dicap sebagai azab.
Dalam keterangannya menanggapi bencana banjir, longsor, dan kerusakan lingkungan di sejumlah wilayah Sumatera, beliau mengingatkan pentingnya sikap syukur dan muhasabah (introspeksi diri) bagi seluruh umat.
“Dalam Al-Qur’an, kalimat syukur dan bala’ (ujian) itu sama-sama berulang puluhan kali. Kalau kita pandai bersyukur, bala itu tidak datang. Tapi kalau ingkar, azab Allah itu pedih,” ujarnya.
Bencana Jangan Disebut Azab, Tapi Sunnatullah dan Ujian
Ketua Umum PB Al Washliyah mengingatkan agar umat tidak mudah menyebut bencana alam sebagai azab bagi satu kelompok atau wilayah tertentu. Menurutnya, bencana harus dilihat sebagai bagian dari sunnatullah dan sistem alam yang berjalan sesuai ketentuan-Nya.
Ia mencontohkan, ketika hujan deras turun sementara sungai sudah dangkal dan dipenuhi endapan serta sampah, maka secara alamiah air akan meluap dan menimbulkan banjir. Begitu juga dengan tanah longsor di daerah pegunungan yang kehilangan penahan air akibat hilangnya pepohonan.
“Kita sebutlah bencana alam ini sunnatullah. Kalau hujan deras, air pasti mengalir ke sungai. Kalau sungainya dangkal, air meluap. Tanah longsor terjadi karena penahan air sudah tidak ada. Itu sunnatullahnya,” jelasnya.
Ia juga menyinggung kebiasaan masyarakat yang membangun rumah dan pemukiman di bantaran sungai atau aliran air, yang sesungguhnya tidak sejalan dengan ketentuan alam.
“Kadang orang marah kalau kita bilang, kenapa bangun rumah di samping aliran air? Kenapa sungai yang harusnya besar dibiarkan mengecil, dipersempit bangunan, jarang digali, plus sampah kita buang ke situ. Semua ini saling kait-mengait,” tambahnya.
Kerusakan Alam Akibat Ulah Manusia
Mengutip ayat Al Qur’an Surah Ar Rum ayat 41, “Zhaharal-fasâdu fil-barri wal-baḫri bimâ kasabat aidin-nâsi liyudzîqahum ba‘dlalladzî ‘amilû la‘allahum yarji‘ûnTelah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
“Ayat ini bisa jadi bahan muhasabah bagi kita. Kerusakan di darat dan laut itu karena tangan manusia. Jadi bencana yang terjadi ini harus jadi cermin bagi kita semua,” tuturnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh pihak menjadikan bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar sebagai momentum memperbaiki tata ruang, menata sungai, menjaga lingkungan, serta menghentikan perilaku yang merusak alam.
Al Washliyah Gerakkan Solidaritas dan Aksi Berbagi
Sebagai bentuk kepedulian, PB Al Jam’iyatul Washliyah menyatakan ikut berduka dan prihatin atas musibah yang menimpa masyarakat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ia menyampaikan bahwa keluarga besar Al Washliyah akan menggerakkan aksi sosial dan penggalangan bantuan melalui lembaga zakat dan jaringan organisasi di berbagai daerah.
“Kita ikut prihatin dan berdoa untuk saudara-saudara kita yang Allah beri ujian. InsyaAllah Al Washliyah akan melakukan gerakan saling berbagi, apalagi menjelang milad (ulang tahun) ini,” katanya.
Melalui Al Washliyah Zakat Impact Sedekah di Jakarta, Medan, dan khususnya Sumatera Barat, pihaknya mengimbau warga Al Washliyah, lembaga pendidikan, hingga kampus-kampus untuk berpartisipasi membantu korban bencana, tanpa membedakan latar belakang.
“Warga Wasliyah ataupun bukan, yang mendapat ujian ini, kita ajak semua untuk berbagi. Apa yang bisa kita berikan, mari kita berikan, supaya sedikit mengurangi kesedihan saudara-saudara kita yang diuji Allah,” tegasnya.
Dorong Pemerintah Tegas Menata Sungai dan Cegah Perambahan Hutan
Selain aspek keagamaan dan solidaritas sosial, Ketua Umum PB Al Washliyah juga menyinggung perlunya langkah konkret dari pemerintah untuk mencegah bencana berulang.
Ia menilai penataan sungai, reboisasi, dan penghentian perambahan hutan serta pelanggaran lingkungan harus menjadi prioritas.
“Ke depan, pemerintah harus memberikan kebijakan baru. Sungai harus lebih rapi, penataan dilakukan serius. Gerakan menanam pohon kembali harus digalakkan, hutan jangan digunduli,” ujarnya.
Ia meminta negara bertindak tegas terhadap pelaku perusakan hutan dan lingkungan, sebagaimana ketegasan terhadap sektor lain.
“Kalau tambang bisa ditertibkan, kenapa perambahan hutan tidak bisa ditertibkan? Sebenarnya kalau bicara kebijakan, itu tergantung pemimpin kita saja,” ungkapnya.
Harapan kepada Presiden untuk Evaluasi dan Kebijakan Lebih Tegas
Menutup pernyataannya, Ketua Umum PB Al Washliyah menyampaikan harapan kepada Presiden agar menjadikan rangkaian bencana ini sebagai bahan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan lingkungan dan tata ruang nasional.
“Saya yakin Pak Prabowo dengan melihat kondisi ini akan melakukan evaluasi. Dan saya yakin beliau akan melakukan sesuatu yang lebih tegas supaya tidak terulang peristiwa yang sama,” pungkasnya.
Penulis : guntar
Editor : gunawan tarigan













