JAKARTA – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) melalui Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, dan Wakil Menteri Irene Umar, mengadakan pertemuan dengan Tim Pokja Kebudayaan dan Industri Ekonomi Kreatif di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.
Pertemuan ini bertujuan memperkuat kolaborasi antara pemerintah dengan para pelaku ekonomi kreatif dalam rangka memajukan sektor ini sebagai salah satu mesin penggerak ekonomi nasional.
“Kami membutuhkan masukan dari para pelaku ekonomi kreatif agar dapat menyinergikan langkah bersama. Sinergi ini penting untuk mengatasi kebingungan dan tumpang tindih yang kerap dirasakan komunitas ekonomi kreatif,” kata MenEkraf Teuku Riefky, Kamis (14/9/2024)
Ia menambahkan bahwa dukungan dari berbagai kementerian, termasuk Kementerian Kebudayaan, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Komunikasi dan Digital, sangat penting demi memaksimalkan potensi ekonomi kreatif di Indonesia.
Tim Pokja Kebudayaan dan Industri Ekraf, yang didirikan enam bulan lalu, telah menghimpun lebih dari 200 pelaku kreatif dari berbagai subsektor, bertujuan mempromosikan ekonomi sirkular yang memadukan unsur budaya dan kreativitas. “Saat ini masih ada distorsi antara apa yang diupayakan pelaku ekonomi kreatif dan kebijakan pemerintah,” ujar Gupta Sitorus, pendiri Museum Boga Indonesia, sembari menekankan pentingnya langkah sinergi.
Pertemuan juga dihadiri sejumlah tokoh dari industri kreatif, termasuk Svida Alisjahbana, pendiri Jakarta Fashion Week; Ivan Chen dari Anantarupa Studio; Primo Rizky dari Asosiasi Desainer Grafis Indonesia; dan Okky Tirto dari Aliansi Budaya Rakyat.
Mereka menyampaikan berbagai pandangan terkait kendala operasional di sektor ekonomi kreatif. Salah satu isu penting yang dibahas adalah perlunya klasterisasi subsektor ekonomi kreatif di luar 17 subsektor yang sudah diakui, serta pembaruan rencana strategis untuk jangka panjang.
Ritchie Ned Hansel, Ketua Asosiasi Desain Grafis Indonesia, mengusulkan penggunaan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebagai indikator tambahan dalam menilai performa sektor ekonomi kreatif.
“Selain kontribusi terhadap PDB, CAGR bisa memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai pertumbuhan subsektor, seperti desain,” ujarnya.
Wamenparekraf Irene Umar menyampaikan apresiasinya terhadap masukan yang diberikan para pelaku industri. “Dengan latar belakang di sektor swasta, saya memahami tantangan yang dihadapi. Kami berkomitmen untuk memajukan ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan baru menuju Indonesia Emas,” tutur Irene.
Sementara itu, Ketua Komite Ekraf Jakarta, Diaz Hensuk, optimis bahwa Kemenparekraf akan menjadi fasilitator yang baik bagi para pelaku ekonomi kreatif.
“Pak Menteri dan Bu Wamen baru 25 hari, tapi pertemuan ini sangat menjanjikan. Saya yakin mereka bisa menjadi fasilitator yang luar biasa,” katanya penuh keyakinan.
Sinergi antara pemerintah dan pelaku ekonomi kreatif diharapkan membawa perubahan signifikan, mendukung pengembangan industri kreatif yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.






